
Pemerintah mengatakan sebagian besar BBM bersubsidi justru dinikmati kalangan atas.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan pemerintah masih menimbang berbagai opsi terkait persoalan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Pemerintah, lanjut Jero, sangat berhati-hati memutuskan opsi yang akan diambil karena masalah BBM bersubsidi ini sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Tahun 2011, subsidi BBM yang dikucurkan pemerintah mencapai Rp250 triliun namun sebagian besar subsidi itu tidak mencapai sasaran," kata Jero dalam jumpa pers, Kamis (26/1).
Dari data kementerian ESDM, lanjut Jero, sebanyak 77% subsidi BBM itu justru dinikmati masyarakat kelas menengah ke atas.
Tidak efektifnya pengucuran subsidi BBM inilah yang membuat pemerintah berfikir untuk mulai mengurangi besaran subsidi BBM.
"Pada awalnya ada dua opsi yaitu konversi ke bahan bakar gas (BBG) dan pengalihan ke pertamax," papar Jero.
Setelah dikaji, konversi ke BBG membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menjalankannya.
"Kita butuh konverternya, lalu SPBG-nya belum lagi bengkel-bengkel yang bisa merawat peralatan ini," ujarnya.
"Padahal pemerintah sudah memiliki stok 35 juta kaki kubik gas dan cadangan sebesar 50 juta kaki kubik gas hingga akhir tahun ini," katanya.
Opsi baru
"Tahun 2011, subsidi BBM yang dikucurkan pemerintah mencapai Rp250 triliun namun sebagian besar subsidi itu tidak mencapai sasaran."
Jero Wacik
Belakangan, kata Jero, sejumlah surat kabar nasional membuat jajak pendapat soal kebijakan pemerintah terkait subsidi BBM.
Dari hasil survei itu menunjukkan sebagai besar responden cenderung mendukung kenaikan harga BBM secara bertahap ketimbang konversi ke BBG.
Meski demikian, Jero menegaskan, pemerintah tidak akan serta merta mengikuti hasil jajak pendapat tersebut.
Pemerintah juga tidak akan serta merta memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi dan konversi BBG sekaligus pada 1 April mendatang.
"Tanggal 1 April itu masih cair. Jika siap bisa kita laksanakan," kata mantan menteri pariwisata itu.
Opsi yang bisa diambil adalah tetap menaikkan harga BBM sembari perlahan-lahan melakukan proses konversi ke BBG.
Untuk mematangkan opsi terbaik yang akan diambil pemerintah, Jero mengatakan pemerintah akan membicarakannya dengan DPR.
"Pada Senin (30/01) pekan depan kami akan membicarakannya dengan Komisi VII DPR, mudah-mudahan akan ada keputusan," tambah Jero.










