Miranda diperiksa KPK sebagai saksi Nunun

Terbaru  10 Januari 2012 - 14:04 WIB
KPK

KPK belum dapat ungkap pemberi dana cek pelawat untuk anggota DPR periode 1999-2004.

Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Goeltom diperiksa KPK sebagai saksi tersangka kasus cek pelawat Nunun Nurbaeti.

Wartawan BBC Indonesia Andreas Nugroho melaporkan pemeriksaan ini merupakan yang pertama sejak Nunun ditangkap di Bangkok, Thailand, pertengahan Desember lalu.

Usai menjalani pemeriksaan kepada wartawan Miranda mengaku penyidik hanya mengajukan tiga pertanyaan.

"Ditanya tahu atau tidak asal travel ceknya dan saya jawab tidak tahu," kata Miranda Goeltom.

Penyidik, kata Miranda, juga menanyakan soal kedekatanya dengan sejumlah anggota DPR yang tersangkut kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Miranda mengatakan dalam pemeriksaan tadi tidak ada pertanyaan yang menyangkut soal asal dana cek pelawat.

"Tidak ada (pertanyaan itu). Saya ditanya kapan kenal Paskah (Suzeta) saya jawab sejak tahun 1999," tambah dia.

Belum terungkap

"Ditanya tahu atau tidak asal travel ceknya dan saya jawab tidak tahu."

Miranda S Goeltom

Selain memeriksa Miranda, penyidik KPK Selasa (10/1) juga memeriksa mantan terpidana kasus suap ini, Endin Soefihara sebagai saksi dengan tersangka Nunun.

Endin yang juga mantan anggota fraksi PPP di DPR mengatakan dia ditanya apakah dirinya mengenal Miranda Goeltom.

"Saya dikonfirmasi apakah Bu Nunun pernah mempertemukan saya dengan Miranda. Saya jawab tidak pernah," kata Endin.

"Saya juga ditanya apakah apakah travel cek yang disampaikan kepada fraksi PPP diketahui, saya jawab tidak tahu dari mana sumbernya dan siapa sumber alirannya."

Endin merupakan salah seorang anggota DPR yang terlibat dalam kasus pemberian cek pelawat tersebut dan divonis hukuman satu tahun tiga bulan penjara.

Sejumlah anggota Komisi Keuangan DPR Periode 1999-2004 diduga menerima suap dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI yang memenangkan Miranda S Goeltom pada 2004 lalu, dan sebagian di antaranya telah menjalani hukuman penjara.

Namun hingga hari KPK belum dapat mengungkapkan siapa yang mendanai cek tersebut.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.