BBC navigation

Warga Syiah Madura minta jaminan keamanan

Terbaru  3 Januari 2012 - 17:32 WIB

Warga Syiah di Madura menilai polisi tidak bersikap netral dalam menyikapi kasus pengusiran mereka.

Warga Syiah di pulau Madura yang mengungsi akibat pesantrennya diserang menyatakan ingin kembali ke rumahnya masing-masing, di Kecamatan Omben, Sampang.

Namun keinginan ini sulit terlaksana karena polisi dan aparat desa tidak dapat menjamin keamanan jika mereka memilih pulang.

"Itu yang menghantui perasaan mereka," kata juru bicara tim Advokasi Kasus Sampang, Hertasning Ichlas, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan Selasa (3/01).

Mereka ingin pulang, sambung Ichlas, karena mendengar harta benda dan ternaknya dijarah orang-orang tidak dikenal.

Seharusnya, menurut Ichlas, polisi dan aparat desa menjamin keselamatan mereka saat pulang nanti. "Dan mereka juga harus bersikap netral," tandas Ichlas.

Netralitas aparat itu sangat penting, karena menurutnya, sebagian pengungsi berpaham Syiah itu juga diancam keselamatannya.

"Mereka yang menjadi buruh, diancam dipecat kalau tetap mengikuti paham Syiah," ungkapnya.

Sejauh ini, sekitar 300 orang warga Syiah masih mengungsi di beberapa lokasi di kota Sampang, seperti di sekitar gedung olahraga, polres, serta lapangan terbuka.

Mereka mengungsi setelah pesantren mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dibakar oleh massa, Kamis (29/12) lalu.

Testimoni ditunda

Warga Syiah yang terusir dari kampung halamannya itu, menurut Ichlas, berencana menggelar testimoni di Kantor PB Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta, pada Selasa (3/01), namun ditunda, karena ada keluarga mereka yang sakit.

"Mereka yang menjadi buruh, diancam dipecat kalau tetap mengikuti paham Syiah."

Hertasning Ichlas, juru bicara tim advokasi kasus Sampang

Rencananya, mereka hendak menjelaskan latar belakang kasus pembakaran pesantren, yang disebut Ichlas, lebih dilatari masalah keluarga ketimbang pertentangan mazhab Sunni-Syiah.

Menurutnya, ada oknum keluarga pesantren itu yang kemudian menggunakan "sentimen mazhab untuk mengambil keuntungan pribadi".

"Alasan mazhab paling enak dijual," tandas Ichlas, yang juga dikenal sebagai Ketua Bidang Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia.

Konflik itu kemudian melebar, "karena kemudian ditunggangi pihak-pihak yang punya agenda untuk mengusir paham Syiah dari Madura," tambahnya.

Sebelum ada kasus ini, menurutnya, hubungan warga Syiah di Omben dan mayoritas warga NU di wilayah itu relatif tidak ada masalah.

Hormati perbedaan

Sementara itu salah-seorang Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) Masdar Mas'udi mengatakan, terkait kasus pembakaran pesantren Syiah di Madura, perbedaan mazhab Sunni-Syiah tidak perlu membuat kelompok penganutnya saling bermusuhan.

"Makanya, kita harus menggalakkan pemahaman keagamaan yang lebih bersifat menghargai perbedaan. Perbedaan ini tidak mungkin dilawan. Caranya, ya, menghormati perbedaan, dan itu kodrati," kata Masdar.

"Makanya, kita harus menggalakkan pemahaman keagamaan yang lebih bersifat menghargai perbedaan. Caranya, ya, menghormati perbedaan, dan itu kodrati"

Masdar Mas'udi, Ketua PBNU

Di kalangan NU sendiri, menurut Masdar, relatif tidak ada masalah dalam berhubungan dengan penganut paham Syiah.

Apalagi, tambahnya, banyak persamaan tradisi antara NU dan Syiah. "Seperti tradisi khaul, yang dilakukan warga NU dalam memperingati tokoh keagamaan Islam, itu pada tradisi Syiah juga dilakukan," katanya.

Karena itulah, Masdar kurang begitu yakin kasus pembakaran pesantren Syiah dilatari sepenuhnya oleh perbedaan mazhab Sunni dan Syiah.

Informasi yang diterima Masdar juga menyebutkan yang terjadi di Sampang adalah persoalan keluarga.

Namun Masdar menganalisa, apa yang terjadi di Sampang, serta penyerangan terhadap pesantren di Bangil, Jawa Timur, pada tahun lalu, kemungkinan tidak terlepas dari persoalan konflik global antara Iran dan Arab Saudi.

"Saya kira ada pengaruh dari luar, baik proses ideologisasi yang diperkuat, dan pada saat yang sama ada bantuan finansial, baik dari Arab Saudi atau Iran," katanya, menganalisa.

Situasi itu makin memanas, lanjutnya, karena ada fatwa sebagian ulama yang menghukum kelompok Syiah sebagai "ajaran sesat".

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.