Aktivis Papua kecam hukuman ringan untuk polisi

Terbaru  28 November 2011 - 18:14 WIB
Kongres Rakyat Papua

Kongres Rakyat Papua III berakhir rusuh mengakibatkan sedikitnya tiga orang tewas.

Aktivis Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) dan Elsham Papua menggelar jumpa pers di Jakarta, Senin (28/11) terkait kekerasan yang terjadi saat pembubaran Kongres Rakyat Papua III di Jayapura, 19 Oktober lalu.

Dalam jumpa pers tersebut kedua organisasi ini merilis hasil investigasi terkait aksi kekerasan yang mewarnai pembubaran kongres di Jayapura itu.

Sekretaris Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Papua Willem Mauri mengatakan dari hasil investigasi yang dilakukan itu mereka menarik kesimpulan bahwa polisi sudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.

"Kami menemukan ada pelanggaran HAM berat karena ada tiga orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan," kata Mauri.

Hal lain yang membuat rakyat Papua kecewa, menurut Mauri adalah hukuman yang sangat ringan untuk anggota kepolisian yang diketahui bertindak represif.

"Proses peradilan terhadap para pelaku hanya membuahkan hukuman administratif dan pencopotan kapolresta Jayapura," tegas Mauri.

"Ini kan sama saja dengan mengatakan orang Papua itu tidak ada harganya, karena tiga nyawa tidak cukup untuk memberikan hukuman setimpal," tegas Mauri.

Mauri menambahkan berharap kekecewaan rakyat Papua ini bisa didengar pemerintah sehingga pemerintah bisa memikirkan solusi terbaik.

"Saat ini kepercayaan rakyat Papua terhadap pemerintah Indonesia sudah sampai di titik nol," ujarnya.

Polisi membantah

"Ini kan sama saja dengan mengatakan orang Papua itu tidak ada harganya, karena tiga nyawa tidak cukup untuk memberikan hukuman setimpal."

Willem Mauri

Sementara itu, juru bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Saut Usman Nasution membantah kepolisian tak menindak tegas anggotanya yang terbukti melakukan kekerasan.

Menurut dia, dalam mengadili anggotanya yang terlibat tindak kekerasan di Jayapura kepolisian sudah menjalankan prosedur yang benar.

"Sesuai aturan yang ada, maka untuk anggota yang melanggar kode etik dalam pelaksanaan tugas maka akan digelar pengadilan etik," kata Saut Usman saat dihubungi BBC Indonesia.

"Dari hasil sidang kode etik hakim memutuskan hukuman sesuai jabatan dan kesalahannya. Sehingga untuk mereka yang dijatuhi hukuman disiplin sudah sesuai dengan ketentuan," tegas Saut Usman.

Soal tiga korban tewas yang oleh sebagian kalangan diduga akibat penganiayaan polisi, Saut Usman membantah tegas tudingan itu.

"Tiga korban tewas itu ditemukan sehari setelah peristiwa dan berjarak 400 meter dari lokasi di kawasan pegunungan yang terjal," papar Saut.

Setelah ketiga jenazah itu diotopsi, Saut mengatakan terbukti bahwa ketiganya meninggal dunia tidak pada saat kerusuhan kongres rakyat Papua terjadi.

"Itu merupakan perkara baru yang tidak terkait kongres. Kami sedang lakukan penyelidikan namun belum menemukan tersangka," tandasnya.

Kongres Rakyat Papua III dibubarkan polisi ketika menjelang penutupan para peserta kongres mendeklarasikan kemerdekaan Papua.

Dalam kerusuhan itu, polisi menangkap lebih dari 300 orang dan menjadikan enam orang sebagai tersangka.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.