
Buruknya kondisi sungai-sungai di Jakarta menjadi salah satu penyebab banjir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan ancaman siklus banjir lima tahunan di Jakarta belum hilang sepenuhnya.
Meski demikian, BNPB menegaskan banjir Jakarta tidak akan separah banjir yang kini melumpuhkan Bangkok dan sebagian wilayah Thailand.
"Jakarta tidak akan mengalami banjir seperti di Bangkok,"kata juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (16/11).
"Banjir di Thailand diwarnai angin topan terus menerus. Dan angin topan seperti itu hanya ada di 10 derajat lintang utara dan selatan," lanjut Sutopo.
Namun Sutopo mengingatkan ancaman banjir siklus lima tahunan seperti pada tahun 2002 dan 2007 lalu.
Apalagi, lanjut dia, dari prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta termasuk daerah yang rawan banjir.
Kerusakan sungai
Salah satu penyebab ancaman banjir masih sangat besar karena 13 sungai yang melintasi ibukota kondisinya sudah sangat buruk.
"Kemampuan 13 sungai yang melewati Jakarta untuk mengalirkan banjir hanya 13-87% saja."
Sutopo Purwo Nugroho
"Kemampuan 13 sungai yang melewati Jakarta untuk mengalirkan banjir hanya 13-87% saja," papar Sutopo.
Menyusutnya kemampuan sungai-sungai ini dalam mengalirkan banjir salah satunya diakibatkan penyempitan bantaran sungai karena dijadikan pemukiman.
Sehingga salah satu cara yang ditempuh pemerintah adalah menawarkan relokasi bagi warga bantaran sungai.
"Tetapi di mana-mana relokasi itu selalu menjadi solusi yang sulit karena menyangkut aspek sosial dan ekonomi," tandas Sutopo.
BNPB mencatat terdapat 62 titik rawan banjir di seluruh Jakarta yang harus diantisipasi.
Untuk mengantisipasi siklus lima tahunan, BNPB bersama pemerintah Jakarta sudah mempersiapkan 26.000 lebih aparat, 93 ton beras, 2.000 dus mie instan, obat-obatan hingga perahu karet.
Tahun 2007, banjir besar melanda Jakarta menggenangi 159 lokasi yang mengakibatkan 48 orang meninggal dunia dan kerugian ekonomi mencapai Rp10-12 triliun.









