Komnas HAM: aparat bertindak berlebihan dalam tangani Kongres Rakyat Papua

Terbaru  4 November 2011 - 12:46 WIB

Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim menyatakan, aparat kepolisian bertindak berlebihan dalam menangani Kongres Rakyat Papua, pertengahan Oktober lalu.

Hasil penyelidikan Komnas HAM menyimpulkan, aparat kepolisian bertindak berlebihan dalam menangani Kongres Rakyat Papua pertengahan Oktober lalu.

Temuan Komnas HAM menyebutkan, aparat polisi menyerbu, menyiksa, serta menembak sebagian penyelenggara dan peserta kongres, setelah acara itu berakhir dua jam sebelumnya.

"Terdapat bukti permulaan terjadi tindakan berlebihan yang berakibat pelanggaran hak asasi manusia," kata Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, dalam jumpa pers di kantornya, Jumat (4/11) pagi.

Dalam melaksanakan tindakan hukum itu, Komnas juga menyimpulkan, aparat kepolisian bersikap tidak profesional.

"Mestinya (tindak kekerasan) itu tidak perlu dilakukan, karena ada penanggungjawab kongres. Seharusnya mereka didatangi dan ditangkap. Jadi tidak perlu (acara kongres) diserbu," tandas Ifhdal Kasim.

"Karena (kongres) ini seharusnya bisa ditangani dengan cara damai," katanya lagi.

Keterangan pejabat keamanan Indonesia sejauh ini menyebutkan, penangkapan terhadap penyelenggara kongres dilakukan karena mereka melakukan tindakan makar dengan mendirikan negara dan kepemimpinan baru.

Pelacakan peluru

Terhadap tiga orang korban tewas, temuan Komnas HAM sejauh ini belum berhasil mengidentifikasi siapa pelakunya.

Tetapi Ifdhal Kasim mengatakan kemungkinan tiga orang itu tewas karena peluru aparat polisi atau TNI.

Alasannya, kata Ifdhal, "dalam penyerbuan itu, polisi dibantu TNI, melakukan penembakan ke atas dan horisontal yang mungkin mengenai 3 orang yang tewas ini."

Komnas HAM masih menunggu hasil pemeriksaan Polda Papua terhadap peluru yang diambil dari jasad tiga korban tewas itu.

"Dalam penyerbuan itu, polisi dibantu TNI, melakukan penembakan ke atas dan horisontal yang mungkin mengenai 3 orang yang tewas."

Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM

"Masih diuji di laboratorium, dan kami mendesak hasil otopsi dan pelacakan peluru itu, diumumkan secara terbuka," tegas Ifdhal.

Keterangan saksi yang dihimpun Komnas HAM menyebutkan, dua jasad korban tewas yang ditemukan di atas gunung, kondisinya mengenaskan. "Matanya dicopot, dan ditembak dari dubur," ungkap Ridha Saleh, anggota Komnas yang menemui beberapa saksi mata di Papua.

Untuk itulah, Komnas mendesak agar dibentuk penyelidikan independen untuk mengungkap kasus kekerasan ini.

Komnas HAM juga menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercepat dialog damai di Papua, serta mengevaluasi kinerja aparat keamanan di propinsi itu.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.