BBC navigation

Radikalisme mengincar kampus

Terbaru  11 Oktober 2011 - 19:16 WIB
demo mahasiswa

Aksi demonstrasi mahasiswa rentan disusupi ideologis radikalisme

Radikalisme selama ini dianggap tumbuh subur dalam pendidikan di pesantren atau sekolah agama. Tetapi dalam laporan terbaru disebutkan bahwa radikalisme juga mengintai perguruan tinggi.

Ansyaad Mbai, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut pihaknya mendapat laporan dari sejumlah perguruan tinggi favorit terkait masuknya radikalisme di lingkungan kampus.

''Radikalisme saat ini semakin hebat perkembangannya. Berpenetrasi ke dalam perguruan tinggi berkualitas baik dan favorit seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung,'' kata Mbai.

''Pihak universitas, mulai dari rektor, dekan, sampai pembantu rektor pernah melapor kepada BNPT soal isu radikalisme di kampus mereka,'' kata Mbai dalam sebuah acara dialog di Jakarta, awal Oktober.

Gagasan baru

Isu radikalisme yang mengintai kampus favorit di Indonesia ini menurut Ansyaad juga bukan hanya ditengarai terjadi pada fakultas agama atau kegiatan rohani saja. Tetapi juga masuk ke fakultas eksakta semacam Teknik dan MIPA.

Menurut Mbai, saat ini di lingkungan kampus radikalisme menjadi gagasan baru dalam ruang diskusi bebas setelah Pancasila bukan lagi menjadi isu sentral.

Radikalisme itu menyusup ke lingkungan kampus dengan memanfaatkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap kinerja pemerintah

''Pemerintah ini kafir, kita mau apa sekarang ? Itu yang jadi masalah, yang mudah disusupi'' kata Mbai.

Mbai menengarai ideologi radikalisme ini berkembang akibat minimnya kegiatan organisasi kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan semacam BEM, HMI, dan KAMMI dinilai sudah tidak aktif lagi dalam dua tahun terakhir.

Mekanisme pencegahan

"Contohnya sekitar tahun 1996, jaringan NII pernah masuk ke kampus kami, ada satu dua korban, tetapi berhasil kami endus"

Devie Rahmawati

Universitas Indonesia (UI) mengakui ada sejumlah pihak yang memang mencoba untuk menyusupi paham radikalisme ke dalam kampus.

''Contohnya sekitar tahun 1996, jaringan NII pernah masuk ke kampus kami, ada satu dua korban, tetapi berhasil kami endus, karena kami memiliki mekanisme untuk mendeteksi dini sehingga potensi-potensi tersebut tidak menjadi bencana sosial besar bagi UI,'' kata Devie Rahmawati, juru bicara Universitas Indonesia.

Mekanisme pencegahan itu menurut Devie adalah sistem konseling atau bimbingan berkala yang dilakukan oleh pembimbing akademik dan mahasiswa senior.

''Sampai hal teknis seperti mengisi SKS saja kami bantu, sehingga kalau kami mendapati ada mahasiswa memiliki pola perilaku yang berbeda, itu pasti masuk dalam pengawasan kami, sehingga bisa langsung kami lakukan pendekatan,'' kata Devie.

Sementara terkait dengan aktivitas organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), masuk dalam pengawasan direktorat kemahasiswaan sehingga bisa meminimalisir ancaman masuknya radikalisme ke dalam lingkungan kampus.

Revitalisasi mata kuliah

ui

Universitas Indonesia pernah disusupi NII pada tahun 1996

Gejala kampus dijadikan ladang untuk menanamkan paham radikalisme kembali mengemuka dalam beberapa tahun terakhir setelah dalam kasus terorisme terbaru melibatkan sejumlah mahasiswa.

Pada 2010, dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dijatuhi vonis 4,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terbukti menyembunyikan teroris pelaku bom JW Mariot dan Ritz Carlton

Setahun berikutnya seorang alumni UIN Syarif Hidayatullah juga ditangkap terkait upaya pengeboman jalur pipa gas di Serpong.

Sementara puluhan mahasiswa lainnya dalam sejumlah laporan di media nasional disebutkan menghilang setelah direkrut dan dibaiat masuk ke dalam jaringan Negara Islam Indonesia atau NII.

Gerakan NII ini sendiri diperkirakan aktif merekrut kalangan mahasiswa sejak tahun 1970-an.

Desain ulang

"Perlu ada revitalisasi terhadap mata kuliah yang bersifat ideologis seperti Pancasila, pendidikan kewarganegaraan dan agama"

Azyumardi Azra

Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah mengatakan kampus sebagai ranah publik membuat kehadiran kelompok radikal dan ekstrem selalu mengintai mahasiswa.

Menurut Azyumardi, perlu ada desain ulang terhadap mata kuliah yang bersifat ideologis seperti Pancasila, pendidikan kewarganegaraan dan agama.

''Tapi tidak dilakukan secara indokrinasi seperti penataran P4 dulu. Perlu ada terobosan baru yang lebih dialogis, partisipatif, analitis, dan kritis yang memungkinkan internalisasi ke dalam diri para mahasiswa,'' kata Azyumardi.

Azyumardi juga menyoroti disorientasi kegiatan mahasiswa yang dalam dua tahun terakhir ini dinilai mengalami penurunan.

Ada kecenderungan keanggotaan sebagian besar organisasi kemahasiswaan merosot secara signifikan

Padahal hasil penelitian UIN Jakarta menunjukkan, aktivitas dalam organisasi merupakan faktor penting untuk mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal dan ekstrem.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.