BBC navigation

Bentrok di Timika, satu orang tewas

Terbaru  10 Oktober 2011 - 11:59 WIB

Aksi unjuk rasa karyawan PT Freeport Indonesia berakhir bentrokan berdarah.

Aksi bentrok terjadi antara karyawan PT Freeport Indonesia yang berunjuk rasa dengan aparat keamanan, Senin (10/10). Bentrokan ini berujung penembakan yang menewaskan satu orang pengunjuk rasa.

"Seorang pengunjuk rasa yang tewas karena tertembak senjata milik polisi," kata juru bicara Serikat Pekerja PT Freeport Indonesia, Virgo Solossa saat dihubungi BBC Indonesia.

Bentrokan ini berawal, lanjut Solossa, saat polisi berusaha menghentikan lebih dari 1.000 karyawan yang berunjuk rasa sejak 15 September lalu, yang ingin memasuki kompleks pertambangan.

"Kami masih tunggu satu rekan lagi yang sedang menjalani operasi di sini (rumah sakit)," kata Virgo Solossa.

Salah seorang pimpinan aksi mengatakan ribuan karyawan lain akan mengadakan aksi long march menuju gedung DPRD Timika dengan membawa jenazah karyawan yang tewas akibat tembakan.

Tidak provokatif

Karyawan PT Freeport Indonesia mengklaim pendapatan mereka terlalu rendah.

Seorang dokter di rumah sakit umum Mimika membenarkan bahwa korban tewas diakibatkan luka tembakan peluru.

"Satu orang meninggal dunia karena luka tembakan di dadanya," kata dr Hery yang bertugas di RSUD Mimika, seperti dikutip AFP.

Sementara itu juru bicara Polda Papua Komisaris Besar Wachyono mengatakan selain menewaskan seorang pengunjuk rasa, aksi unjuk rasa ini juga mencederai enam orang polisi.

"Lima orang polisi menderita luka di kepala sementara satu lainnya terluka di kaki. Mereka sudah dibawa ke rumah sakit," kata Wachyono.

Wahyono menambahkan polisi hanya memberikan tembakan peringatan ke udara setelah para pengunjuk rasa melempari aparat dengan batu.

Namun Virgo membantah tudingan peserta aksi menyerang polisi hingga enam aparat luka akibat bentrokan, Virgo membantah.

"Kami tidak provokatif, tidak bersenjata. Justru ditengah negosiasi untuk naik kendaraan, polisi tembaki kami," ujarnya keras.

Tuntut perubahan

"Kami tidak provokatif, tidak bersenjata. Justru ditengah negosiasi untuk naik kendaraan, polisi tembaki kami."

Virgo Solossa

Seperti beberapa kali diberitakan, sekitar 8.000-an karyawan PT Freeport Indonesia melakukan aksi mogok kerja sejak 15 September lalu.

Aksi mogok kembali dilakukan -setelah sebelumnya para karyawan sempat kembali bekerja pada pertengahan Juli lalu- karena perundingan soal tuntutan kenaikan upah menemui jalan buntu.

Para pekerja Freeport menuntut kenaikan upah dari US$1,5 atau Rp12.800 lebih menjadi US$3 atau Rp25.600 lebih per jam.

Pekerja menilai gaji mereka jauh dibawah standar gaji karyawan perusahaan itu di sejumlah negara lain yang mencapai U$15 atau Rp128.250 lebih per jam

"Konsep pandangan upah kami berbeda, kami punya konsep berdasarkan kondisi perusahaan. Sementara perusahaan menawarkan paket dengan mengacu pada pasar tambang di Indonesia dan mengacu pada inlflasi. Kami keberatan," kata Virgo Solosa beberapa waktu lalu kepada BBC Indonesia ketika serikat pekerja memutuskan untuk mogok kembali.

Virgo mengatakan jika dibandingkan dengan 14 perusahan tambang yang berada di bawah bendera Freport McMoran, maka upah karyawan PT Freeport Indonesia di Papua jauh lebih kecil.

Dan, bentrokan ini menandai 25 hari aksi mogok karyawan Freeport yang menuntut perbaikan kesejahteraan ini.

Negosiasi terakhir untuk mendapatkan kesepakatan gaji buntu pada 26 September lalu, sehingga sebagian karyawan masih tetap melakukan aksi mogok.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.