Sekitar 300 situs radikal sudah diblokir Kemenkoinfo

Terbaru  28 September 2011 - 14:44 WIB
Pengguna internet

Kriteria situs radikal di Indonesia menggunakan UU No 11/2008 tentang ITE.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan sepanjang tahun 2011 sudah menutup 300 situs internet yang dianggap radikal.

"Tahun ini, kita sudah mendapatkan pengaduan sebanyak 900 yang terkait dengan situs–situs radikal. Dari situ sudah kita follow up dan 300 situs sudah kita blokir," kata Menkominfo, Tifatul Sembiring kepada BBC Indonesia.

Tifatul menambahkan bahwa tindakan pemblokiran memang lebih didasarkan pada pengaduan masyarakat karena tidak mungkin kementeriannya melakukan pengkajian atas semua situs internet yang ada.

"Di dunia ini ada lebih dari 10 miliar situs internet, tentu tidak mudah kalau kita melakukan penelusuran terhadap semua situs itu. Jadi tentu saja berdasarkan laporan dari masyarakat ataupun yang dimuat di media-media."

Adapun peraturan yang digunakan dalam menentukan radikalisme adalah UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, ITE.

"Itu yang menghasut. Atau melakukan blasphemy (fitnah) atas dasar perbedaan suku, agama dan ras. Itu dilarang undang-undang dan kita bekerja berdasarkan itu," tambahnya.

"Jadi yang 600 itu tidak terkategori sebagai situs yang tidak menyebarkan kebencian."

Seruan NU

Sebelumnya, Selasa 27 September, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama, PBNU, Said Aqil Siradj, mendesak agar Kemenkominfo segera menutup situs yang menyebarkan paham radikalisme.

"Sama dengan situs-situs porno. Kalau situs pornos saja diblokir yang akibatnya lebih ringan dari terrorisme, maka situs-situs radikal hendaknya ditutup."

Said Aqil Siradj

Said Aqil Siradj berpendapat bahwa situs seperti itu bisa membelokkan ajaran agama Islam dan mempengaruhi kaum muda.

"Menurut saya merupakan faktor yang antara lain, dari sekian faktor, yang menimbulkan sikap radikal bagi kaum generasi muda remaja yang tidak paham Islam."

"Jadi sebagai upaya untuk membatasilah, minimal mengurangi," tambahnya dalam wawancara dengan BBC Indonesia.

"Sama dengan situs-situs porno. Kalau situs porno saja diblokir yang akibatnya lebih ringan dari terorisme, maka situs-situs radikal hendaknya ditutup."

Said Aqil juga merujuk pada Pino Damayanto -pelaku bom GBIS di Solo, Minggu 25 September- yang mengunjungi warung internet sebelum melakukan pengeboman bunuh diri.

"Sebelum masuk gereja, ke internet dulu, buka–buka situs radikal dulu. Memang bukan kali itu, tapi begitu akan mau bunuh diri juga mendapatkan ideologi atau prisnip yang dia baca dari situs-situs."

Akan tetapi Menkominfo, Tifatul Sembiring menepis anggapan yang disampaikan Ketua Umum NU tersebut.

"Kalau menurut saya ini bukan masalah di bidang IT saja tapi juga di bidang pemahaman agama. Kekeliruan dalam memahami agama."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.