Pemancungan Ruyati, RI protes Arab Saudi

Terbaru  19 Juni 2011 - 21:23 WIB
Demo di depan kedutaan Arab Saudi di Jakarta

Unjuk rasa di depan kedutaan besar Arab Saudi di Jakarta menyusul kasus-kasus penyiksaan TKW

Perwakilan Indonesia di Arab Saudi hari ini melayangkan protes keras kepada pemerintah Arab Saudi karena tidak memberitahukan eksekusi hukuman pancung atas Ruyati binti Supabi, seorang penata rumah tangga yang membunuh wanita majikannya tahun lalu.

Menurut pejabat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jedah bangian Perlindungan WNI, Didi Wahyudi, protes dilayangkan karena Saudi melanggar konvensi Wina tahun 1963 yang mengharuskan satu negara memberitahukan penahanan, penyelidikan, sidang pengadilan sampai eksekusi hukuman atas warga negara lain.

Ruyati dipancung pada hari Sabtu (18/6) di Mekah karena membunuh majikan perempuannya yang bernama Khairiyah binti Hamid Mijlid dengan pisau yang biasa digunakan untuk memotong daging.

Pembunuhan itu terjadi pada bulan Januari 2010.

Ruyati, menurut Didi, sudah bekerja di Saudi sejak tahun 1998, tetapi dia baru satu setengah tahun bekerja di rumah majikan yang dibunuhnya itu.

Sumiati

Kasus penyiksaan Sumiati oleh majikannya di dekat Madinah membuat hubungan RI-Saudi tegang

Ditambahkan oleh Didi, Ruyati bersal dari Kampung Ceger, Kecamatan Sukatani, Bekasi, Jawa Barat.

Tidak ada pemberitahuan

Kementerian Luar Negeri Indonesia hari Senin (19/6) akan memanggil duta besar Arab Saudi di Jakarta dan duta besar Indonesia di Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur, untuk mendapatkan penjelasan mengenai eksekusi atas Ruyati.

Didi Wahyudi dari Kosulat Jenderal RI di Jedah mengatakan pihak Saudi sama sekali tidak memberitahukan proses hukum yang dijalani oleh Ruyati mulai sejak penangkapannya sampai ke tahap pelaksaan hukuman pancung.

Pihak perwakilan Indonesia mengetahui kasus ini dengan mencari-cari sendiri informasi dengan berbagai cara, ujar Didi.

"Ditangkap, diinvestigasi, diadili, dijatuhi hukuman mati, sampai dilaksanakan hukuman mati, sama sekali tidak ada pemberitahuan resmi sekalipun kita meminta akses agar kita bisa mewakili kepentingan yang bersangkutan," kata Didi kepada BBC Indonesia melalui telefon.

Di depan umum

"Ditangkap, diinvestigasi, diadili, dijatuhi hukuman mati, sampai dilaksanakan hukuman mati, sama sekali tidak ada pemberitahuan resmi sekalipun kita meminta akses agar kita bisa mewakili kepentingan yang bersangkutan."

Didi Wahyudi, Konjen RI Jedah

Perwakilan RI juga tidak mengetahui apakah eksekusi Ruyati dilakukan di depan umum sebagaimana lazimnya pelaksanaan hukuman mati di Saudi.

Tetapi, menurut keyakinan Didi, Ruyati pun hampir pasti dipancung di depan umum.

"Sudah hampir bisa dipastikan itu di depan umum. Tidak pernah sekali pun hukuman pancung yang tidak dilakukan di depan umum," kata Didi Wahyudi yang sudah sarat pengalaman dalam menangani kasus-kasus penyiksaan TKW di Saudi.

Sementara itu, LSM pembela pekerja migran, MigrantCare, hari Senin (19/6) akan melaksanakan doa bersama di silang Monas, Jakarta, untuk mengenang Ruyati binti Supabi.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.