
Hari Raya Waisak digunakan menjadi alasan untuk meliburkan hari terjepit
Keputusan pemerintah meliburkan hari kerja Senin (16/5) kemarin, sebagai hari terjepit setelah libur akhir pekan dan Hari Raya Waisak ternyata tidak membuat semua orang bergembira.
Pengumuman mendadak yang dikeluarkan Jumat sore (13/5) itu membuat banyak pengusaha kelimpungan mengatur jadwal kerja yang sebelumnya telah mereka tetapkan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia dan seorang pengusaha pakaian jadi, Ade Sudrajat, terpaksa menyiasati dengan cara memberikan uang lembur berlipat kepada karyawannya.
''Yang kita liburkan disini hanya staf, tidak operator karena kalau operator kan di sini pabrik bekerja tujuh hari seminggu,'' kata Ade Sudrajat kepada BBC Indonesia.
'Sangat mendadak'
Ade juga mengeluhkan keputusan pemerintah yang diumumkan dengan sangat mendadak itu.
''Ini tidak proper, tidak baik ya. Karena satu keputusan untuk menentukan libur itu harus paling sedikitnya sebulan sebelumnya.''
"Kami pinginnya seluruh calender year, sudah ada keputusannya mana yang cuti bersama mana yang tidak"
Ade Sudrajat
''Kami pinginnya seluruh calendar year, sudah ada keputusannya mana yang cuti bersama mana yang tidak.''
Ade menambahkan bahwa di akhir bulan ini ia harus menghitung ulang angka neraca perusahaan khusus menyangkut biaya ongkos produksi tambahan akibat libur, tersebut termasuk menghitung berapa saja transaksi yang batal terjadi.
Pertanyaan akan keputusan pemerintah untuk secara mendadak meliburkan hari Senin juga menjadi pertanyaan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Tutum Rahanta.
Walau bidang usahanya adalah salah satu yang diuntungkan, dan mengalami keuntungan kenaikan hingga 20 persen, tetapi secara keseluruhan ia juga harus menghitung kerugian akibat pembatalan transaksi dan penjadwalan ulang kegiatan bisnis.
''Ini masalah negara, nasional. Apakah bisa di detik-detik terakhir untuk mengumumkannya? Yang dimaui pemerintah itu apa? Itu yang kita tanyakan,'' katanya separuh bertanya.










