BBC navigation

Kisruh buku tafsir Al-Quran

Terbaru  2 Mei 2011 - 21:18 WIB
Al-Quran

Terjemahan Al-Quran kementerian agama disusun pertama kali dan beredar tahun 1965

Kementrian agama Indonesia membantah tuduhan yang menyebut terjemahan Al-Quran buatan mereka memicu aksi terorisme.

Majelis Mujahidin, organisasi yang pernah dipimpin tersangka kasus terorisme Abubakar Ba'asyir, sebelumnya menganggap ada beberapa ayat yang diterjemahkan secara salah, antara lain beberapa ayat tentang jihad sehingga berkontribusi besar menyemai bibit terorisme.

Majelis Mujahidin mengatakan terjemahan Al-Quran tersebut di cetak dibawah pengawasan departemen agama.

Dalam jumpa pers hari Senin (2/5), kementrian agama menyatakan tidak ada yang salah dalam terjemahan Al Quran itu. Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Kementrian Agama Doktor Mukhlis Hanafi juga menyatakan, tuduhan bahwa terjemahan ini memicu aksi terorisme, tidak terbukti karena dua alasan.

"Yang pertama, mengingkari keterbatasan yang ada pada terjemahan. Yang kedua, asumsi itu juga keliru karena bertentangan dengan sejumlah fakta," kata Mukhlis.

Pemahaman sempit

Lebih lanjut dia menjelaskan fakta yang dimaksud.

"Tapi yang salah adalah orang yang tidak mampu memahami Al-Quran, kemudian dia dengan cara yang tidak tepat memahami Al-Quran sepotong-potongmaka kemudian jadilah dia seorang teroris"

Ali Mustofa Yaqub

"Mayoritas bangsa Indonesia ini saya kira banyak mengandalkan terjemahan dalam memahami Al-Quran, kalau begitu kalau betul asumsi itu, jumlah teroris di Indonesia ini pasti lebih banyak dari yang ada sekarang. Faktanya, kelompok teroris itu jumlah hanya sedikit sekali, bisa dihitung jari," tambahnya.

Dalam berbagai kesempatan, sejumlah pimpinan Majelis Mujahidin menyebut terjemahan produk pemerintah itu terlalu harfiah, tidak jelas sehingga mengundang salah tafsir.

Tuduhan ini dimuat media massa, dan belakangan muncul lagi setelah organisasi itu mengkaitkannya dengan merebaknya kasus bom yang melibatkan anak-anak muda.

Di sinilah mereka menyebut kesalahan terjemahan itu berkontribusi besar menyemai bibit terorisme, utamanya terkait terjemahan ayat-ayat soal jihad.

Ahli tafsir Al-Quran yang juga Imam Masjid Istiqlal Jakarta Kiai Haji Ali Mustofa Yaqub mengatakan pemahaman yang sempit terhadap teks-teks keagamaan merupakan penyebab tindak kekerasan, dan bukan soal bagaimana penerjemahan kitab suci.

"Tapi yang salah adalah orang yang tidak mampu memahami Al-Quran, kemudian dia dengan cara yang tidak tepat memahami Al-Quran sepotong-potong maka kemudian jadilah dia seorang teroris," jelas Ali Mustofa Yaqub.

Terjemahan Al-Quran kementrian agama, yang melibatkan para ahli , disusun pertama kali dan beredar tahun 1965, dan beberapa kali disempurnakan.

Mayoritas umat Islam Indonesia disebutkan lebih banyak memahami Al-Quran melalui terjemahan, dan terjemahan yang paling banyak digunakan adalah yang dipublikasikan departemen agama.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.