BBC navigation

Survei: hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal

Terbaru  26 April 2011 - 20:41 WIB
Para pelajar juga ikut dalam demo di DPR

Pada tahun 2000, ribuan pelajar ikut dalam aksi demonstrasi antara lain ke gedung DPP di Senayan

Survei tentang radikalisme yang dilakukan di 100 sekolah menengah di Jakarta dan sekitarnya menunjukkan hampir 50% pelajar mendukung cara-cara keras dalam menghadapi masalah moralitas dan konflik keagamaan.

Bahkan, belasan pelajar menyetujui aksi bom bunuh diri.

Survei ini dikerjakan sejak Oktober 2010 hingga Januari 2011 oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo --yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Selain menyebarkan questioner kepada sekitar 1.000 pelajar, LaKIP juga melakukan jajak pendapat di kalangan para guru mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah yang disurvei.

Mengaku terperanjat

Setelah menganalisis survei yang dilakukannya, Prof Bambang Pranowo mengutarakan keterkejutannya terhadap jawaban para pelajar ketika ditanya pandangan mereka terhadap aksi kekerasan yang terkait isu moralitas dan konflik keagamaan.

"Kita memang tercengang karena indikasi ke arah dukungan terhadap tindakan radikal itu cukup besar di kalangan pelajar," kata Bambang.

"Padahal," ujar guru besar ini, "Mereka itu kan bukan pelajar sekolah agama, melainkan sekolah umum yaitu SMP dan SMA di 10 kawasan di sekitar Jakarta."

LaKIP melakukan penelitian di 59 sekolah sekolah swasta dan 41 sekolah negeri.

Jajak pendapat ini menemukan 48,9% siswa menyatakan kesediaan untuk ikut dalam aksi kekerasan yang berkaitan dengan masalah moral atau isu-isu keagamaan.

Karena kecewa

Survei ini menyimpulkan bahwa lebih 63% siswa sekolah menengah pertama dan menengah atas mau melibatkan diri dalam tindakan-tindakan untuk menyegel rumah ibadah umat agama-agama lain.

Remaja Indonesia histeris

Remaja Indonesia histeris ketika menyambut kedatangan penyanyi pop Justin Bieber dari Kanada

Ketika BBC Indonesia menanyakan apa yang menyebabkan begitu besar jumlah pelajar yang setuju pada tindak kekerasan untuk menangani masalah moral dan keagamaan, Prof Bambang menjelaskan bahwa survei yang dilakukan lembaganya tidak terlalu mendalam untuk menemukan jawabannya.

Tetapi, kata Bambang, para pelajar tersebut sangat jengkel dan kecewa terhadap berbagai kondisi di tingkat nasional dan juga internasional.

"Di tingkat nasional mereka itu selalu melihat bagaimana korupsi yang merajalela, bagaimana ketidakadilan sangat menonjol.

"Kemudian di tingkat global, mereka itu selalu mendapat masukan dari media misalnya tentang Palestina. Mereka menganggap perlakuan terhadap warga Palestina sangat tidak adil," kata Prof Bambang Pranowo.

MUI gagal?

Sementara itu, kemunculan apa yang disebut "generasi baru" pelaku terorisme di Indonesia belakangan antara lain disebabkan kegagalan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam peran dakwahnya untuk mencegah radikalisasi di kalangan generasi muda Islam.

Penilaian ini diungkapkan oleh Dr Jajat Burhanuddin dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta. Dia berpendapat, MUI adalah lembaga yang sangat berwibawa di tengah masyarakat.

"Kalau saja MUI lebih tegas mengimbau dengan cara apa pun dalam dakwah mereka, terutama berkenaan dengan kebangsaan, dakwah penguatan kehidupan bernegara yang baik, saya akan sangat efektif," tutur Jajat.

"Cuma problemnya," kata staf pengajar UIN Jakarta itu, "Di tubuh MUI sendiri ada yang mendukung pemikiran-pemikiran radikal-konservatif."

Tetapi, MUI membantah anggapan bahwa mereka gagal mengekang radikalisme.

H Amidhan, salah seorang ketua MUI, mengatakan sudah sejak lama menerapkan berbagai program untuk menjelaskan pengertian jihad.

"Kita melaksanakan pelatihan, sarasehan dan diskusi-diksusi untuk meluruskan makna jihad," katanya. "Tetapi, harap diingat umat Islam di Indonesia ada 200 juta orang," tambah Amdihan.

Salah satu hambatan MUI, tambahnya, adalah kekurangan dana untuk melakukan dakwah yang lebih gencar, termasuk pencetakan buku-buku yang diperlukan.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.