Terbaru  3 Desember 2010 - 16:05 GMT

Pemda DKI rencana memajak warteg

Usaha restoran akan dikenai pajak 10 persen

Pemerintah provinsi DKI Jakarta sedang mempertimbangkan rencana mengenakan pajak pendapatan sebesar 10 persen bagi usaha jasa boga berpendapatan 60 juta rupiah per tahun, namun rencana ini sudah banyak ditentang.

Kalau rencana ini berjalan, Pemda DKI Jakarta diperkirakan akan mendapatkan pendapatan sedikitnya Rp50 miliar per tahun.

Juru bicara pemerintah DKI Jaya, Cucu Ahmad Kurnia, mengatakan kepada BBCIndonesia bahwa pajak pendapatan ini adalah amanah Undang undang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

"Sebenarnya ini amanah Undang Undang, bukan rencana pemda DKI Jaya. Kan ada beberapa jenis pajak yang menjadi hak daerah, salah satunya pajak restoran," jelas Cucu.

Tidak ada yang namanya bon ditambah PPN dan administrasi warteg tidak canggih seperti restoran. Makanya kami menolak rencana ini.

Ketua koperasi pengusaha warung Tegal

Selanjutnya Cucu menjelaskan bahwa menurut UU ini, bidang usaha restoran yang berpenghasilan minimum 30 juta sudah bisa dikenakan pajak.

"Tapi Pemda DKI Jaya hanya akan menerapkan pajak untuk usaha restoran yang berpenghasilan minimum 60 juta rupiah," tambah Cucu Ahmad Kurnia sambil menambahkan bahwa tidak ada yang namanya pajak warteg (Warung Tegal).

Namun banyak pihak khawatir kalau rencana itu jadi terlaksana, warung-warung makan sederhana yang menjadi pemasok utama makanan untuk para pekerja kelas menengah bawah di Jakarta juga akan terkena pajak.

'Keterlaluan'

Ketua Koperasi Pedagang Warteg atau Kopwarteg, Sastoro, merasa mereka termasuk dalam incaran pemerintah karena itu menolak keras rencana ini.

Supir

Para supir taksi dan kendaraan umum seringkali jadi pelanggan warteg

"Sistem manajemen warteg itu kan sederhana sekali. Tidak ada yang namanya bon ditambah PPN [Pajak Pertambahan Nilai] dan administrasinya tidak canggih seperti restoran. Makanya kami menolak rencana ini."

"Warteg ini jangan disamakan dengan restoran yang konsumennya menengah ke atas dan administrasinya memang canggih. Warteg ini tidak begitu, begitu pembeli makan 5 ribu rupiah dan harus bayar sekian ribu, konsumennya pasti kabur."

Apalagi, lanjut Sastoro, beberapa tahun belakangan ini merupakan masa-masa sulit para pengusaha warteg di Jakarta akibat harga bahan-bahan pokok yang terus melambung.

Sikap para pengusaha warteg ini tampaknya didukung oleh Wakil Ketua DPRD Jakarta, Sayogo Hendrosubroto.

"Menurut saya sulit sekali dan mengada-ada sekali untuk menerapkan pajak 10 persen. Kedua, kebijakan itu sadis karena untuk usaha yang omzetnya cuma sekitar 5 juta rupiah per bulan, kok harus dipajakin, paling keuntungannya berapa persen sih," kata Sayogo.

"Saya berani bilang pola pikir pemerintah daerah terbalik-balik. Hanya untuk mengejar potensi penghasilan 50 miliar rupiah per tahun, harus nguber-nguber orang susah. Kan keterlaluan banget," tambah Sayogo.

Hanya untuk mengejar potensi penghasilan 50 miliar rupiah per tahun, harus nguberp-nguber orang susah. Kan keterlaluan banget

Wakil Ketua DPRD Jakarta

Sebaiknya, menurut dia pemerintah Jakarta memaksimalkan pendapatan pajak dari rumah-rumah makan besar dan perhotelan ketimbang mengejar para pedagang kecil seperti warung tegal, yang mungkin lebih tepat menyumbang lewat sistem retribusi harian dan bukan pajak tahunan.

Di Jakarta ada sekitar 26 ribu warteg.

Istilah warteg ini merujuk pada warung makan sederhana yang awalnya dipelopori para warga kota Tegal, Jawa Tengah, yang merantau ke Jakarta. Jadi yang kena pajak adalah warung dengan pendapatan 60 juta setahun, biarpun warung itu menjual nasi padang.

Tapi ini masih berupa rencana, yang masih akan dikaji ulang pemerintah DKI Jakarta, dan para pedagang warung Tegal sampai akhir tahun masih bisa bernafas lega.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.