Terbaru  24 Juni 2010 - 07:09 GMT

Pergantian PM Australia 'tidak pengaruhi' sikap ke RI

Kevin Rudd digantikan wakilnya, Julia Gillard di kursi PM Australia

Kevin Rudd digantikan wakilnya, Julia Gillard di kursi PM Australia

Pergantian PM Australia dari Kevin Rudd ke Julia Gillard 'tidak pengaruhi' sikap ke RI, kata mantan Dubes RI di Canberra.

Sabam Siagian mengatakan kepad BBC bahwa hubungan Australia tidak akan banyak berubah dengan pergantian pemegang jabatan Perdana Menteri kepada Julia Gillard.

"Di mata pemimpin Australia, posisi Indoensia mewakili kepentingan geopolitik yang besar, dan itu disadari oleh kalangan buruh maupun konservatif," kata Sabam.

Julia Gillard mengantikan Kevin Rudd sebagai ketua Partai Buruh yang berkuasa di Australia, dan sekaligus perdana menteri negara itu hari Kamis (24/6).

Kalangan komentator politik di Australia menyatakan Gillard tidak mungkin mengubah politik luar negeri Australia, seperti komitmen pasukan ke Afghanistan.

Indonesianis Ron Witton mengatakan hubungan baik dengan Presiden Yudhoyono mungkin akan terus berlanjut karena keduanya pernah beberapa kali bertemu dalam posisi Gillard sebagai Wakil PM.

Witton juga menilai Gillard kini merupakan harapan baru Partai Buruh dan masyarakat Australia untuk mewujudkan sebagian janji Rudd saat terpilih, terutama mengenai isu karbon yang akan diajukannya kembali ke parlemen.

Mengecewakan pendukung

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Kevin Rudd

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Kevin Rudd

Meski dikenal populis dan banyak disukai pemilih di Australia, mantan PM Kevin Rudd dianggap telah mengecewakan pendukungnya.

Mundurnya PM Rudd dalam waktu kurang dari tiga tahun setelah menang mutlak dalam pemilu 2007, menunjukkan besarnya kekecewaan itu.

"Waktu dia baru terpilih orang mengharapkan dia akan merealisasikan isu-isu lingkungan dan menyelesaikan persoalan pencari suaka, tetapi ternyata dia mundur," kata Ron Witton yang tinggal di Sydney.

Witton membenarkan bahwa Rudd yang berlatar belakang diplomat banyak mempunyai perhatian terhadap sesama negara Asia.

Rudd misalnya, dikenal punya hubungan sangat baik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tidak segan saling bertelepon untuk mendiskusikan suatu masalah.

Tetapi pada kenyataanya, menurut Witton, kebijakannya tidak banyak mencerminkan hal itu.

"Kami menunggu akan ada pelajaran bahasa Indonesia atau Cina di sekolah-sekolah, tetapi sampai dia mundur tidak terjadi," tambah Witton.

Rudd juga meneruskan gaya kepemimpinan PM John Howard yang sangat pro-Amerika Serikat.

"Sementara Inggris dan Belanda memikirkan sudah waktunya keluar dari Irak dan Afghanistan, Australia masih ada disana karena Amerika masih disana," kata Witton.

Saat baru terpilih tingkat popularitas Kevin Rudd adalah yang tertinggi diantara PM Australia. Namun hingga mundur pagi tadi, popularitasnya merosot hingga dibawah PM Howard menjelang tersingkir.

Populis jadi antagonis

Satu hal terakhir yang mendorong Rudd mundur adalah perseteruannya dengan kalangan bisnis tambang Australia, ditengah usulan pemerintahannya mengenakan tambahan pajak keuntungan perusahaan tambang sebesar 40 persen.

Menurut Rudd sudah saatnya keuntungan besar yang diperoleha perusahaan tambang akibat pasar mereka yang luar biasa besar di Cina, dibagi dengan warga Australia lainnya.

Saya tidak sangka masyarakat ikut khawatir sehingga mereka menentang Rudd

Sabam Siagian

Raksasa-raksasa tambang seperti Rio Tinto dan BHP Biliton menggalang kampanye besar-besaran menentang usulan itu dan menyebutnya akan mengancam investasi A$ 20 miliar industri ini di benua kanguru itu.

"Saya tidak sangka masyarakat ikut khawatir sehingga mereka menentang Rudd," kata Sabam Siagian, yang kini menjadi penasehat untuk Asosiasi Pebisnis Indonesia Australia.

Menurut Ron Witton, kebijakan itu sebenarnya didukung banyak warga Australia, namun justru Rudd yang khawatir melihat kampanye perlawanan dari kalangan industri tambang.

"Bahkan IMF mendukung itu, tetapi karena propadaganda kuat industri tambang, dia malah menjadi takut," terang Witton.

Menurut Witton situasi ini mengingatkan orang pada kegagalan Rudd menggolkan skema karbon yang banyak ditentang kalangan pengusaha Australia sebelumnya.

Akibatnya kebijakan yang tadinya sangat populis berbalik arah menjadi antagonis dan melawan popularitas Rudd.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.