Terbaru  2 Maret 2010 - 07:34 GMT

Rapat paripurna DPR ricuh

Marzuki Alie

Keputusan Marzuki Alie menutup sidang picu kericuhan

Rapat Paripurna DPR yang mendengarkan laporan akhir Pansus Angket Bank Century, diwarnai kericuhan antar anggota DPR.

Kericuhan ini terjadi karena sebagian anggota DPR memprotes keputusan Ketua DPR Marzuki Alie yang menutup sidang paripurna, meski masih banyak anggota parlemen yang mengajukan interupsi.

Banjir interupsi ini terjadi, setelah Ketua Pansus Angket Century Idrus Marham membacakan hasil kerja pansus selama tiga bulan.

Tak hanya banjir interupsi, sebagian anggota dewan bahkan bertindak lebih jauh dengan langsung mendekat ke meja pimpinan sidang.

Ketua DPR, sekaligus pimpinan sidang, Marzuki Alie menutup sidang paripurna ini dengan alasan badan musyawarah DPR sudah menetapkan sidang paripurna untuk masalah Bank Century dilaksanakan dua kali.

Rebutan interupsi

Salah satu anggota DPR yang melakukan interupsi adalah Bambang Soesatyo, politisi Golkar yang juga anggota Pansus.

Dengan mengucap alhamdulillah, sidang paripurna DPR ditutup!

Marzuki Alie

Dia mengingatkan pimpinan sidang agar mempertimbangkan usulan Pansus agar sidang paripurna diselesaikan dalam satu hari dengan menggelar voting.

Usai interupsi Bambang, puluhan anggota DPR lainnya berebut menyatakan interupsi yang membuat suasana sidang semakin kacau.

Akibat suasana ricuh, Marzuki pun menutup sidang secara sepihak.

"Dengan mengucap alhamdulillah, sidang paripurna DPR ditutup!" tegas Marzuki.

Penutupan sepihak ini justru tidak menghentikan keributan, namun justru memperburuk situasi. Sebagian politisi yang tidak sepakat dengan penutupan sidang langsung menghampiri meja pimpinan sidang.

Terjadi saling dorong dan nyaris terjadi baku hantam.

Pansus sebut nama

Sebelumnya, Ketua Pansus Angket Bank Century Idrus Marham membacakan laporan akhir kerja Pansus Century di hadapan sidang paripurna DPR.

Dalam laporan itu, Idrus membacakan pihak-pihak yang menurut hasil pemeriksaan Pansus harus bertanggung jawab dalam skandal dana talangan sebesar Rp6,7 triliun itu.

Nama-nama yang disebutkan Idrus dalam laporannya itu, merupakan rangkuman dari pandangan fraksi-fraksi di dalam rapat pleno Pansus Century.

Boediono

Nama Wapres Boediono muncul dalam laporan akhir Pansus Angket Cnetury

Saat Idrus menyebut nama mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono sebagai salah satu nama yang dianggap bertanggung jawab, tepuk tangan riuh membahana di dalam ruang sidang.

Selain, Boediono laporan Pansus menyebut sejumlah nama lain yang dianggap bertanggung jawab mulai dari proses merger sejumlah bank kecil yang menghasilkan Bank Century hingga proses dikucurkannya dana talangan untuk bank itu.

Salah satu nama penting lain yang disebut dalam laporan ini adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Pansus menilai Sri Mulyani dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kala itu, harus bertanggung jawab dalam pencairan dana talangan untuk Bank Century.

Sebab, keputusan Sri Mulyani ini dianggap tidak didasari data-data akurat dari Bank Indonesia soal kondisi Bank Century saat itu.

Nama-nama lain yang disebut dalam laporan ini antara lain mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, mantan deputi gubernur BI Anwar Nasution dan Miranda S Gultom.

Dalam laporan ini, Pansus menegaskan bahwa pelaksanaan dan penggunaan hak angket bukan dalam rangka menargetkan orang per orang.

Penyebutan nama-nama yang dianggap harus bertanggung jawab merupakan implikasi dari kebijakan yang diindikasi mengandung kesalahan dan penyalahgunaan wewenang yang merugikan keuangan negara.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.