Terbaru  8 Februari 2010 - 10:37 GMT

Yudhoyono singgung soal kritik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Presiden Yudhoyono mengatakan menerima kritik tapi tidak overdosis

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kritik itu sebagai obat yang mujarab. Namun jika dosisnya berlebihan kritik itu menjadi menyakitkan bagi yang menerimanya.

Dalam acara pembukaan Rapat Pimpinan Nasional Polri, Yudhoyono menyatakan tidak keberatan dengan berbagai kritik yang diarahkan kepada pemerintahannya.

Menurut Yudhoyono, kritik itu seperti obat sehingga jika dosisnya tepat akan membuat sehat.

"Kritik itu laksana obat, kalau kita ibaratkan obat, obat itu benar, sesuai dengan jenis penyakit apa yang diobati, dan dosisnya tepat, itu bikin sehat," katanya.

"Tetapi kalau obatnya keliru, dosisnya tidak tepat, tidak menyehatkan, malah menambah sakit," katanya.

"Oleh karena itu kritik termasuk kecaman dan sorotan yang patut, yang dosisnya kena, apalagi yang disertai solusi tentu akan membawa kebaikan bagi pemerintah dan juga kepolisian," tandasnya.

Belakangan ini sejumlah pihak mengkritik pemerintahan Yudhoyono terutama program 100 hari kabinet.

Ribuan orang yang berunjuk rasa di Jakarta tanggal 28 Januari menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono gagal dalam melaksanakan program 100 hari.

Kritik termasuk kecaman dan sorotan yang patut, yang dosisnya kena, apalagi yang disertai solusi tentu akan membawa kebaikan bagi pemerintah dan juga kepolisian

Presiden Yudhoyono

Bahkan dalam satu unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, seekor kerbau dibawa ke tengah-tengah massa.

Akibat adanya kerbau itu, Yudhoyono bereaksi antara lain dengan mengatakan bahwa kerbau itu sebagai sindiran bahwa dirinya lamban.

Presiden Yudhoyono mempertanyakan kepatutan dalam unjuk rasa dengan menyertakan seekor kerbau untuk mengkritik pemerintahan.

Dalam unjuk rasa di depan Istana Merdeka Januari lalu, kelompok yang menamakan Gerakan Indonesia Bersih mengkritik berbagai kegagalan yang dilakukan pemerintah sekarang.

Isu yang menjadi sorotan dalam peringatan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono ini antara lain skandal Bank Century, pemberantasan korupsi dan pemberantasan mafia hukum.

Unjuk rasa menentang Presiden Yudhoyono yang dilakukan kelompok Gerakan Indonesia Bersih mengklaim mengumpulkan massa sampai 20 ribu orang mulai mahasiswa, pemuda, dan lembaga masyarakat.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.