
Terjadi lonjakan laporan kehilangan bayi di Indonesia dalam dua tahun
Komisi Perlindungan Anak Indonesia meminta agar Departemen Kesehatan mengambil tindakan atas rumah sakit setelah hilangnya seorang bayi di sana.
Pasangan Dwi Setyowati dan Mohamad Yusron, pekerja pabrik asal Semarang, melaporkan bayi mereka yang lahir tanggal 20 Oktober di Rumah Sakit Umum Daerah Semarang hilang dua hari kemudian.
Sseorang perempuan yang mengaku sebagai kerabat keluarga, dilaporkan meminta bayi itu kepada perawat dan kemudian membawanya kabur.
Kasus ini sudah dilaporkan kepada kepolisian.
Menurut Sekjen Komisi Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kehilangan ini jelas terjadi akibat kelalaian rumah sakit dan masih belum ada tindak lanjut atas laporan kehilangan itu.
"Ini bukan kelalaian ibunya karena masih di dalam lingkup ruangan bersalin. Dan ada dokter jaga, suster jaga," tuturnya.
"Dia melahirkan secara resmi di sana, dia membayar."
Meningkat pesat
Komnas Perlindungan Anak juga menerima laporan pada Minggu 10 Januari 2009 tentang hilangnya seorang bayi di sebuah pusat kesehatan di Kembangan Jakarta Barat.
Bayangkan, dalam setahun peningkatannya 40 kasus.
Aris Merdeka Sirait
Arist Merdeka Sirait menjelaskan seorang perempuan yang mengaku sebagai perawat dilaporkan meminta bayi dari seorang ibu.
Alasannya adalah bayi yang baru berusia beberapa jam itu akan diimunisasi, namun ternyata perempuan tersebut bukanlah perawat.
Kasus pencurian bayi baru lahir makin marak, terutama dalam dua tahun terakhir.
Menurut laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak, pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 32 kasus kehilangan bayi, yang menjadi 72 kasus pada 2009.
"Ini baru yang dilaporkan, kami yakin ada lebih banyak lagi kasus. Bayangkan, dalam setahun peningkatannya 40 kasus," kata Sekjen Komisi Perlindungan Anak, Arist merdeka Sirait.
Arist Merdeka Sirait menduga ada indiaksi keterlibatan sindikat jual-beli bayi dalam rangkaian kasus-kasus penculikan bayi di Indonesia.
"Di Medan juga ada, seorang ibu melahirkan bayi kembar empat belum 24 jam bayinya hilang. Ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan orang yang tahu seluk-beluk rumah sakit. Karena orang awam tidak bisa masuk begitu saja ke ruang bayi."
Komnas Perlingdungan Anak juga juga mendesak Departemen Kesehatan campur tangan dalam hal ini.
"Kalau perlu rumah sakit ditutup, karena untuk apa dibuka kalau tidak bisa memberikan jaminan keamanan bagi pasiennya?" tegas Arist.
Menteri Kesehatan seperti dikutip sejumlah media, mengatakan akan memperhatikan pengaduan ini.


