Pakistan demands TV shut down

  • 23 April 2014
Remote control
The Pakistani defence ministry has asked the national broadcasting regulator to shut down Geo TV.

Belajar bahasa Inggris melalui berita BBC tentang permintaan kementerian pertahanan Pakistan untuk menutup saluran TV terbesar dan tentang ancaman boikot Sherpa.

Pakistan defence ministry demands shut down of Geo TV

The Pakistani defence ministry has asked the national broadcasting regulator to shut down the country's largest news channel, Geo TV.

The move came after the channel broadcast allegations that the country's main spy agency, the ISI, was behind the shooting of a prominent Geo TV presenter, Hamid Mir.

The ISI has dismissed the charge as baseless.

The BBC has learned that Hamid Mir had warned of threats against him for more than two years.

He's said to have sent emails to colleagues claiming that "rogue elements" in the ISI planned to attack him because of his reports about the killing of separatists in Balochistan.

Mr Mir is recovering in hospital.

Kementerian pertahanan Pakistan perintahkan tutup Geo TV

Kementerian pertahanan Pakistan telah meminta komisi penyiaran nasional untuk menutup saluran berita terbesar di negara itu, Geo TV.

Langkah ini diambil setelah muncul tuduhan dari saluran berita itu bahwa agen rahasia Pakistan, ISI berada di balik penembakan seorang pembawa acara terkemuka Geo TV, Hamid Mir.

ISI telah menyangkal tuduhan itu dan menyebutnya tak berdasar.

BBC mengetahui bahwa Hamid Mir menerima ancaman terhadap dirinya selama lebih dua tahun.

Ia dilaporkan mengirim email ke sejumlah rekan kerjanya dan mengatakan bahwa "elemen-elemen yang berbahaya" dari ISI merencanakan untuk menyerangnya terkait laporannya tentang pembunuhan kelompok separatis di Balochistan.

Mir kini masih dirawat di rumah sakit.

Sherpas on Mount Everest threaten a boycott

Keluarga para Sherpa yang meninggal, AP
Relatives of Nepalese climbers killed in an avalanche on Mount Everest, wait for the funeral procession.

Nepal's mountain guide organisations have denied that Sherpas on Mount Everest have abandoned all climbing after an avalanche last Friday killed sixteen of their colleagues.

The Sherpas had threatened a boycott unless the government offered them a better share of the revenue raised from foreign climbers and more compensation for the families of those who died.

Nepal's tourism minister, Sushil Ghimire, also insisted that rumours of a mass walkout by the Sherpas were untrue.

Sherpa Puncak Everest ancam boikot

Organisasi pemandu gunung Nepal menyangkal bahwa para pemandu yang dikenal sebagai Sherpa di Puncak Everest mengabaikan semua pendakian setelah terjadi longsor Jumat pekan lalu yang menewaskan 16 rekan kerja mereka.

Para sherpa mengancam akan melakukan boikot kecuali pemerintah menawarkan pembagian pendapatan yang lebih baik dari para pendaki asing dan kompensasi lebih banyak bagi para keluarga Sherpa yang meninggal.

Menteri pariwisata Nepal, Sushil Ghimire juga berkeras bahwa rumor tentang pemogokan masal para Sherpa tidak benar.

Berita terkait