Women in EU suffer violence

  • 5 Maret 2014
A woman crying, BBC
About a quarter of women don't report attacks to the authorities because of shame or embarrassment.

Belajar Bahasa Inggris melalui berita BBC tentang survei kekerasan terhadap wanita di Uni Eropa dan fatwa perlindungan satwa liar di Indonesia.

Women in EU suffer violence

A survey of women across the European Union suggests that a third have suffered sexual or physical violence.

One in 20 has been raped.

The highest level of abuse was reported by women in Denmark, with the Netherlands, France and Britain among those above the EU average.

The authors of the report (for the EU Agency for Fundamental Rights) say this may be because it is more culturally acceptable to discuss the problem in some countries than others.

The survey found that about a 1/4 of women don't report attacks to the authorities because of shame or embarrassment.

More than 40.000 women throughout the European Union were questioned for the survey.

Wanita di Uni Eropa menjadi korban kekerasan

Survei yang dilakukan terhadap para wanita di wilayah Uni Eropa menemukan bahwa 1/3 dari mereka menjadi korban kekerasan baik secara seksual maupun fisik.

Satu dari 20 wanita diperkosa.

Angka kekerasan tertinggi dilaporkan oleh wanita-wanita di Denmark, dengan Belanda, Prancis, dan Inggris termasuk di atas rata-rata Uni Eropa.

Penyusun laporan (untuk Agen Uni Eropa urusan Hak Asasi) mengatakan hal ini mungkin terjadi karena secara budaya masalah ini lebih dapat didiskusikan di beberapa negara dibandingkan negara lainnya.

Survei menemukan bahwa sekitar 1/4 dari para wanita tidak melaporkan kekerasan kepada pihak berwajib karena merasa malu.

Lebih 40.000 wanita di seluruh Uni Eropa turut berpartisipasi dalam survei.

"World's first" fatwa against illegal hunting

Sumatran elephants
The use of religion for wildlife protection was a positive step forward, according to WWF.

Indonesia's highest Islamic clerical body has taken the unprecedented step of issuing a fatwa -or religious edict- against illegal hunting and wildlife trafficking.

The ruling calls on Muslims in Indonesia to protect threatened animals by conserving their habitat and curbing illegal trade.

The fatwa is intended to supplement existing law in Indonesia, where many rare species are threatened by development, logging and agriculture.

A spokesman for the Ulema Council, Hayu Prabowo, said people could escape government regulation but they could not escape the world of God.

The conservation charity WWF described the fatwa as the first of its kind in the world -saying the use of religion for wildlife protection was a positive step forward.

Fatwa pertama di dunia menentang perburuan ilegal

Majelis Ulama Indonesia, MUI, mengeluarkan fatwa -atat dekrit agama- untuk pertama kalinya yang menentang perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar.

Fatwa ini menyerukan bagi seluruh umat Muslim di Indonesia untuk melindungi binatang yang dilindungi dengan melestarikan habitat dan menghentikan perdagangan ilegal.

Fatwa ini adalah pelengkap undang-undang yang telah berlaku di Indonesia, tempat banyak spesies langka terancam terkait pembangunan, penebangan hutan, dan pertanian.

Juru bicara MUI, Hayu Prabowo, mengatakan bahwa para pelaku dapat menghindari peraturan pemerintah tetapi mereka tidak dapat lari dari Tuhan.

Organisasi perlindungan lingkungan, WWF menggambarkan fatwa ini sebagai yang pertama di dunia, dan mengatakan bahwa memakai agama untuk melindungi satwa liar adalah langkah positif.

Berita terkait