Arsip untuk مارس 2013

Aneka Inggrisiana

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-03-28, 15:33

Komentar (0)

Di majalah tempat saya dulu bekerja di Jakarta, ada rubrik namanya Indonesiana. Isinya beragam cerita yang unik dari berbagai pelosok Indonesia, keunikannya bisa karena lucu atau juga sadis.

Waktu itu, saya sempat berpikir jika cerita-cerita unik tersebut hanya bisa ditemukan di sebuah negara berkembang besar seperti Indonesia yang sedang berada dalam proses transisi dengan keragaman berbagai suku, pendidikan, dan tingkat ekonomi. Ibaratnya, cuma Indonesia saja yang bisa walau tentu itu pikiran yang salah.

Di negara seperti Inggris -dengan kehidupan sosial diatur berdasarkan pendekatan rasional lengkap dengan penegakan hukum- agaknya bisa juga dibuat rubrik Inggrisiana, tentang berbagai cerita unik -sekali lagi- yang lucu maupun sadis.

Gagasan Inggrisiana semakin terpicu ketika membaca berita tentang seorang anak remaja perempuan berusia 14 tahun yang tewas karena diserang empat ekor anjing. Polisi belum menyebut secara tegas bahwa serangan anjing yang menyebabkan Jade Anderson tewas namun 'lukanya sejalan dengan luka yang disebabkan serangan anjing'.

Insiden tragis Jade bukan yang pertama karena sejak tahun 2007, tercatat lima anak dan satu orang dewasa mati karena serangan anjing. Kalau mau diambil rata-rata, berarti setiap tahun hampir satu orang tewas karena serangan anjing di sebuah negara yang memiliki sejumlah peraturan tentang binatang peliharaan, seperti kewajiban bebas rabies, misalnya.

Stephen Seddon

Monster berwujud manusia?

Belum habis teror tentang serangan anjing, sehari kemudian muncul berita tentang hukuman atas seorang anak yang membunuh orang tuanya sendiri untuk mendapatkan warisan.

Juli tahun lalu, seperti diungkapkan di pengadilan, Stephen Seddon yang berusia 46 tahun mengunjungi kedua orang tuanya di kawasan Manchester dan menembak mati keduanya.

Terungkap pula bahwa sekitar tiga bulan sebelumnya, Seddon sudah berupaya juga untuk membunuh ayah dan ibunya itu dengan berkedok kecelakaan. Dia luncurkan mobilnya ke dalam sebuah kanal dan ayah serta ibunya yang mengenakan sabuk pengaman duduk di kursi bagian belakang.

Namun upaya itu gagal dan orang sempat menganggap Seddon sebagai pahlawan yang menyelamatkan orang tuanya.

Mungkin karena tidak mau gagal lagi dan semakin terdorong ingin segara mendapatkan warisan senilai £230.000 atau sekitar Rp3 miliar maka Seddon main tembak langsung dan kedua orang tuanya tewas. Jelas bukan uang yang didapat oleh monster Seddon, tapi hukuman seumur hidup dengan minimal 40 tahun penjara.

Korupsi polisi

london police

Masih pada hari yang sama, dua mantan perwira polisi dan sipir penjara juga diganjar hukuman penjara oleh pengadilan.

Kejahatan mereka? Menjual informasi kepada beberapa koran kuning, antara lain The Sun.

Richart Trunkfield, yang berusia 31 tahun, digancara 16 bulan penjara karena menjual cerita tentang Jon Venables di penjara. Venables diganjar hukuman penjara karena bersama temannya, Robert Thompsin. memnbunuh seorang anak berusia 2 tahun, James Bulger, pada tahun 1993. Tidak ada motif jelas di balik pembunuhan itu, namun diduga karena mereka meniru aksi kekerasan yang mereka tonton di TV.

Kalau motif Trunkfield menjual cerita itu sudah jelas, yaitu mendapatkan uang sampingan selain gaji bulanan dan tunjangan. Sama dengan motif dua mantan polisi -yang sudah diberhentikan- ketika menjual informasi yang seharusnya rahasia tentang dua kasus yang melibatkan orang terkenal.

Kalau pikiran lugunya adalah ketika gaji dan tunjangan sudah mencukupi, maka orang tidak akan melakukan korupsi lagi dan jelas itu juga pikiran yang salah.

Batman

Batman di kantor polisi

Membaca rangkaian Inggrisiana yang gelap itu, saya jadi bertanya-tanya apakah Inggrisiana singkat versi saya ini semuanya bernada 'hitam'. Maka saya coba ingat-ingat berbagai berita unik lainnya.

Yang langsung teringat adalah seorang pria yang mengenakan pakaian Batman yang datang ke kantor polisi.

Persisnya, pada akhir Februari, seorang Batman datang ke kantor polisi di Bradford untuk menyerahkan seorang pria yang dicari polisi, dan setelah menyerahkan pria itu, sang Batman menghilang di kegelapan malam.

Persis seperti di dalam komik Batman, tapi bedanya polisi Inggris kemudian melacak identitasnya dan ditemukanlah Stan Worby. Pria yang dibawanya adalah temannya sendiri, yang sepakat untuk menyerahkan diri.

Worby mengaku awalnya tidak mengharapkan aksi 'lucu' itu menarik perhatian orang. Dia mengaku gagasan untuk menyerahkan temannya muncul setelah nonton bola, dan karena dia sedang mengenakan pakaian Batman maka dia memutuskan untuk meneruskannya sebagai lelucon.

Belakangan rekaman kamera pengawas TV polisi muncul di berbagai berita, dan bukan hanya di Inggris.

Tentu saja polisi tidak menganggap lelucon teman penjahat yang diserahkannya yang sudah dihukum pengadilan.

Masih banyak lagi sebenarnya cerita-cerita Inggrisiana, yang mungkin serupa juga dengan Indonesiana. Pada akhirnya manusia di mana saja bisa melakukan apa pun, walau mungkin yang berbeda adalah di satu tempat ada sistem yang berjalan untuk mengatasinya sementara di tempat lain belum ada sistemnya.

Aneka Inggrisiana

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-03-28, 11:27

Komentar (0)

Di majalah tempat saya dulu bekerja di Jakarta, ada rubrik namanya Indonesiana. Isinya beragam cerita yang unik dari berbagai pelosok Indonesia, keunikannya bisa karena lucu atau juga sadis.

Waktu itu, saya sempat berpikir jika cerita-cerita unik tersebut hanya bisa ditemukan di sebuah negara berkembang besar seperti Indonesia yang sedang berada dalam proses transisi dengan keragaman berbagai suku, pendidikan, dan tingkat ekonomi. Ibaratnya, cuma Indonesia saja yang bisa walau tentu itu pikiran yang salah.

Di negara seperti Inggris -dengan kehidupan sosial diatur berdasarkan pendekatan rasional lengkap dengan penegakan hukum- agaknya bisa juga dibuat rubrik Inggrisiana, tentang berbagai cerita unik -sekali lagi- yang lucu maupun sadis.

Gagasan Inggrisiana semakin terpicu ketika membaca berita tentang seorang anak remaja perempuan berusia 14 tahun yang tewas karena diserang empat ekor anjing. Polisi belum menyebut secara tegas bahwa serangan anjing yang menyebabkan Jade Anderson tewas namun 'lukanya sejalan dengan luka yang disebabkan serangan anjing'.

Insiden tragis Jade bukan yang pertama karena sejak tahun 2007, tercatat lima anak dan satu orang dewasa mati karena serangan anjing. Kalau mau diambil rata-rata, berarti setiap tahun hampir satu orang tewas karena serangan anjing di sebuah negara yang memiliki sejumlah peraturan tentang binatang peliharaan, seperti kewajiban bebas rabies, misalnya.

Stephen Seddon

Monster berwujud manusia?

Belum habis teror tentang serangan anjing, sehari kemudian muncul berita tentang hukuman atas seorang anak yang membunuh orang tuanya sendiri untuk mendapatkan warisan.

Juli tahun lalu, seperti diungkapkan di pengadilan, Stephen Seddon yang berusia 46 tahun mengunjungi kedua orang tuanya di kawasan Manchester dan menembak mati keduanya.

Terungkap pula bahwa sekitar tiga bulan sebelumnya, Seddon sudah berupaya juga untuk membunuh ayah dan ibunya itu dengan berkedok kecelakaan. Dia luncurkan mobilnya ke dalam sebuah kanal dan ayah serta ibunya yang mengenakan sabuk pengaman duduk di kursi bagian belakang.

Namun upaya itu gagal dan orang sempat menganggap Seddon sebagai pahlawan yang menyelamatkan orang tuanya.

Mungkin karena tidak mau gagal lagi dan semakin terdorong ingin segara mendapatkan warisan senilai £230.000 atau sekitar Rp3 miliar maka Seddon main tembak langsung dan kedua orang tuanya tewas. Jelas bukan uang yang didapat oleh monster Seddon, tapi hukuman seumur hidup dengan minimal 40 tahun penjara.

Korupsi polisi

london police

Masih pada hari yang sama, dua mantan perwira polisi dan sipir penjara juga diganjar hukuman penjara oleh pengadilan.

Kejahatan mereka? Menjual informasi kepada beberapa koran kuning, antara lain The Sun.

Richart Trunkfield, yang berusia 31 tahun, digancara 16 bulan penjara karena menjual cerita tentang Jon Venables di penjara. Venables diganjar hukuman penjara karena bersama temannya, Robert Thompsin. memnbunuh seorang anak berusia 2 tahun, James Bulger, pada tahun 1993. Tidak ada motif jelas di balik pembunuhan itu, namun diduga karena mereka meniru aksi kekerasan yang mereka tonton di TV.

Kalau motif Trunkfield menjual cerita itu sudah jelas, yaitu mendapatkan uang sampingan selain gaji bulanan dan tunjangan. Sama dengan motif dua mantan polisi -yang sudah diberhentikan- ketika menjual informasi yang seharusnya rahasia tentang dua kasus yang melibatkan orang terkenal.

Kalau pikiran lugunya adalah ketika gaji dan tunjangan sudah mencukupi, maka orang tidak akan melakukan korupsi lagi dan jelas itu juga pikiran yang salah.

Batman

Batman di kantor polisi

Membaca rangkaian Inggrisiana yang gelap itu, saya jadi bertanya-tanya apakah Inggrisiana singkat versi saya ini semuanya bernada 'hitam'. Maka saya coba ingat-ingat berbagai berita unik lainnya.

Yang langsung teringat adalah seorang pria yang mengenakan pakaian Batman yang datang ke kantor polisi.

Persisnya, pada akhir Februari, seorang Batman datang ke kantor polisi di Bradford untuk menyerahkan seorang pria yang dicari polisi, dan setelah menyerahkan pria itu, sang Batman menghilang di kegelapan malam.

Persis seperti di dalam komik Batman, tapi bedanya polisi Inggris kemudian melacak identitasnya dan ditemukanlah Stan Worby. Pria yang dibawanya adalah temannya sendiri, yang sepakat untuk menyerahkan diri.

Worby mengaku awalnya tidak mengharapkan aksi 'lucu' itu menarik perhatian orang. Dia mengaku gagasan untuk menyerahkan temannya muncul setelah nonton bola, dan karena dia sedang mengenakan pakaian Batman maka dia memutuskan untuk meneruskannya sebagai lelucon.

Belakangan rekaman kamera pengawas TV polisi muncul di berbagai berita, dan bukan hanya di Inggris.

Tentu saja polisi tidak menganggap lelucon teman penjahat yang diserahkannya yang sudah dihukum pengadilan.

Masih banyak lagi sebenarnya cerita-cerita Inggrisiana, yang mungkin serupa juga dengan Indonesiana. Pada akhirnya manusia di mana saja bisa melakukan apa pun, walau mungkin yang berbeda adalah di satu tempat ada sistem yang berjalan untuk mengatasinya sementara di tempat lain belum ada sistemnya.

Referendum kemerdekaan?

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-03-28, 8:57

Komentar (0)

Coba bayangkan, Provinsi Sumatera Utara menggelar referendum untuk memutuskan apakah provinsi itu memisahkan diri dari Republik Indonesia atau tidak?


Edinburgh, Scotland

Tapi tidak ada satu orang pun yang ditangkap, tidak ada perkelahian fisik, apalagi tembakan yang dilepas. Referendumnya berjalan seperti pemilu: orang-orang datang ke tempat pemungutan suara dengan tenang, memberikan suaranya: merdeka atau tidak, terus pulang tanpa takut diteror orang lain dan menunggu hasilnya.

Setelah hasilnya ke luar, merdeka atau tidak, maka diterima tanpa harus protes ke jalanan sambil merusak kiri kanan.

Jelas provinsi Sumatera Utara itu bisa diganti dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atau Provinsi Jawa Timur atau apa saja. Saya menyebut Sumatera Utara karena kebetulan berasal dari sana saja.

Tapi sebelum diganti ke provinsi lain, saya yakin amat susah membayangkan referendum untuk memutuskan kemerdekaan sebuah provinsi akan terjadi di Indonesia, paling tidak dalam waktu dekat. Mungkin malah masuk dalam kategori: tak terbayangkan.

Referendum Skotlandia

Membayangkan yang tak terbayangkan itu terpicu setelah Alex Salmon, Ketua Menteri Skotlandia -salah satu wilayah di Inggris- pada Kamis 21 Maret mengumumkan tanggal penyelenggaraan referendum kemerdekaan. Setelah beberapa lama mengambangkannya dengan menyebutkan pada musim semi, sekarang jelas sudah: akan digelar 18 September 2014. Dan ketika mengumumkannya, partai-partai oposisi mengkritiknya.


Alex Salmond

Salah seorang menyebut: 'lebih seru iklannya daripada filmnya'. Dia, Willie Rennie dari Partai Liberal Demokrat Skotlandia, menuding menunda-nunda pengumuman tanggal penyelenggaraan -menurutnya sampai 700 hari sejak berdirinya Parlemen Skotlandia- sebagai taktik saja.

Kelihatannya soal kecil, tapi tanggal bisa menjadi penting karena kalau tidak diungkapkan maka pendukung referendum -Partai Nasional Skotlandia yang sedang berkuasa- bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka. Ibaratnya, kalau pas sentimen antipemerintah pusat di London makin tinggi, maka hasil referendum mungkin akan berpihak pada mereka. Sementara pihak yang tidak setuju kemerdekaan jadi sulit merancang kampanye karena belum ada tanggal pasti.

Pertanyaan dalam referendum juga pernah menjadi perdebatan, namun kini sudah disetujui dengan pilihan ya atau tidak untuk pertanyaan: Sebaiknyakah Skotlandia menjadi negara independen? Dengan bahasa yang sederhana itu, maka diharapkan referendum bisa berjalan secara seimbang.

Salah satu yang belum diputuskan adalah batas usia pemilih; dengan usulan menurunkannya menjadi 16 tahun. Jika disetujui maka jelas akan lebih banyak pemilih yang ikut. Pihak mana yang akan diuntungkan? Itu masih akan dibahas di parlemen dan masing-masing kubu mulai menghitung-hitung.


Scotland

Jadi 'pertarungan' lebih kepada taktik dan strategi.

Bukan perbandingan langsung

Begitulah politik, tepatnya begitulah demokrasi. Yang beradu adalah argumentasi, bukan tangan atau kaki. Di Skotlandia, dalam liputan referendum tahun 2012 lalu, saya rasanya menemukan lebih banyak orang yang menentang kemerdekaan Skotlandia. Masing-masing dengan alasannya, antara lain untuk apa lagi karena sudah mendapat otonomi yang meluas -praktis mengurus semua urusan sehari-hari selain pertahanan dan hubungan luar negeri.

Bagaimanapun mereka juga tidak teriak-teriak untuk melawannya tapi menunggu tibanya waktu pemungutan suara. Keributan lebih banyak di kalangan para politisi, yang mungkin melihat akan memiliki kekuasaan lebih banyak jika merdeka atau tidak akan punya tempat di politik Skotlandia yang merdeka.

Tentu tidak tepat membandingkan begitu saja budaya politik Indonesia dan Inggris.

Masing-masing memiliki realitas politik sendiri. Di Indonesia jelas gagasan pemisahan provinsi bukan menjadi prioritas dan juga bertentangan dengan konstitusi. Bahwa muncul satu dua aspirasi kemerdekaan, seperti di Provinsi Papua, tidak berarti seluruh rakyat Papua memang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Lagi pula, seperti kata Wakil Presiden mendiang Adam Malik: semua bisa diatur. Dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam salah satu bukti nyatanya. Konflik berkepanjangan berakhir gembira.

Cuma tak ada salahnya saling mengintip ke negeri lain sambil kali-kali bisa memetik hal yang baik.

Referendum kemerdekaan?

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-03-21, 17:04

Komentar (0)

Coba bayangkan, Provinsi Sumatera Utara menggelar referendum untuk memutuskan apakah provinsi itu memisahkan diri dari Republik Indonesia atau tidak?

Tapi tidak ada satu orang pun yang ditangkap, tidak ada perkelahian fisik, apalagi tembakan yang dilepas. Referendumnya berjalan seperti pemilu: orang-orang datang ke tempat pemungutan suara dengan tenang, memberikan suaranya: merdeka atau tidak, terus pulang tanpa takut diteror orang lain dan menunggu hasilnya.

Setelah hasilnya ke luar, merdeka atau tidak, maka diterima tanpa harus protes ke jalanan sambil merusak kiri kanan.

Jelas provinsi Sumatera Utara itu bisa diganti dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam atau Provinsi Jawa Timur atau apa saja. Saya menyebut Sumatera Utara karena kebetulan berasal dari sana saja.

Tapi sebelum diganti ke provinsi lain, saya yakin amat susah membayangkan referendum untuk memutuskan kemerdekaan sebuah provinsi akan terjadi di Indonesia, paling tidak dalam waktu dekat. Mungkin malah masuk dalam kategori: tak terbayangkan.

Referendum Skotlandia

Membayangkan yang tak terbayangkan itu terpicu setelah Alex Salmon, Ketua Menteri Skotlandia -salah satu wilayah di Inggris- pada Kamis 21 Maret mengumumkan tanggal penyelenggaraan referendum kemerdekaan. Setelah beberapa lama mengambangkannya dengan menyebutkan pada musim semi, sekarang jelas sudah: akan digelar 18 September 2014. Dan ketika mengumumkannya, partai-partai oposisi mengkritiknya.

Salah seorang menyebut: 'lebih seru iklannya daripada filmnya'. Dia, Willie Rennie dari Partai Liberal Demokrat Skotlandia, menuding menunda-nunda pengumuman tanggal penyelenggaraan -menurutnya sampai 700 hari sejak berdirinya Parlemen Skotlandia- sebagai taktik saja.

Kelihatannya soal kecil, tapi tanggal bisa menjadi penting karena kalau tidak diungkapkan maka pendukung referendum -Partai Nasional Skotlandia yang sedang berkuasa- bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka. Ibaratnya, kalau pas sentimen antipemerintah pusat di London makin tinggi, maka hasil referendum mungkin akan berpihak pada mereka. Sementara pihak yang tidak setuju kemerdekaan jadi sulit merancang kampanye karena belum ada tanggal pasti.

Pertanyaan dalam referendum juga pernah menjadi perdebatan, namun kini sudah disetujui dengan pilihan ya atau tidak untuk pertanyaan: Sebaiknyakah Skotlandia menjadi negara independen? Dengan bahasa yang sederhana itu, maka diharapkan referendum bisa berjalan secara seimbang.

Salah satu yang belum diputuskan adalah batas usia pemilih; dengan usulan menurunkannya menjadi 16 tahun. Jika disetujui maka jelas akan lebih banyak pemilih yang ikut. Pihak mana yang akan diuntungkan? Itu masih akan dibahas di parlemen dan masing-masing kubu mulai menghitung-hitung.

Jadi 'pertarungan' lebih kepada taktik dan strategi.

Bukan perbandingan langsung

Begitulah politik, tepatnya begitulah demokrasi. Yang beradu adalah argumentasi, bukan tangan atau kaki. Di Skotlandia, dalam liputan referendum tahun 2012 lalu, saya rasanya menemukan lebih banyak orang yang menentang kemerdekaan Skotlandia. Masing-masing dengan alasannya, antara lain untuk apa lagi karena sudah mendapat otonomi yang meluas -praktis mengurus semua urusan sehari-hari selain pertahanan dan hubungan luar negeri.

Bagaimanapun mereka juga tidak teriak-teriak untuk melawannya tapi menunggu tibanya waktu pemungutan suara. Keributan lebih banyak di kalangan para politisi, yang mungkin melihat akan memiliki kekuasaan lebih banyak jika merdeka atau tidak akan punya tempat di politik Skotlandia yang merdeka.

Tentu tidak tepat membandingkan begitu saja budaya politik Indonesia dan Inggris.

Masing-masing memiliki realitas politik sendiri. Di Indonesia jelas gagasan pemisahan provinsi bukan menjadi prioritas dan juga bertentangan dengan konstitusi. Bahwa muncul satu dua aspirasi kemerdekaan, seperti di Provinsi Papua, tidak berarti seluruh rakyat Papua memang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Lagi pula, seperti kata Wakil Presiden mendiang Adam Malik: semua bisa diatur. Dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam salah satu bukti nyatanya. Konflik berkepanjangan berakhir gembira.

Cuma tak ada salahnya saling mengintip ke negeri lain sambil kali-kali bisa memetik hal yang baik.

Dilema harga murah

Rohmatin Bonasir | 2013-03-14, 15:15

Komentar (3)

Iklan minuman harga murah di sebuah toko di Inggris.

Barang murah biasanya menjadi impian para konsumen karena dengan uang minimal konsumen bisa mendapat barang yang diperlukan atau diinginkan.

Akan tetapi pemikiran itu tidak selamanya dianggap berdampak positif.

Contohnya di Inggris, banting harga minuman beralkohol dituding mempunyai andil membuat orang cenderung mengkonsumsi dalam jumlah berlebih dan kecanduan. Akibat turunannya antara lain adalah tindak kejahatan dan kematian dini.

Oleh karena itu, banyak pihak meminta kepada pemerintah mengambil tindakan tegas dengan menetapkan harga minimum minuman alkohol, 45 pence per unit atau sekitar Rp7.000 per seperempat liter.

Pembatasan minuman beralkohol ini menjadi perdebatan sengit belakangan dan bahkan sampai di ruang sidang parlemen. Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan hasil konsultasi.

Lebih murah dibanding Coca Cola

Tetapi PM Cameron menegaskan harga "20 pence untuk lager" harus dihentikan.

Saya buka pecinta atau pembenci alkohol, tetapi menurut saya, harga itu memang terlalu murah. Lebih murah dibanding harga satu kaleng Coca Cola. Ini sulit diterima logika.

Sudah harganya murah, minuman beralkohol seringkali dijual di supermarket dalam kuantitas besar. Saya ambil contoh enam kaleng bir dijual dalam bentuk satu paket harga. Beli satu paket lagi mendapat potongan 100%, buy one get one free.

Anggota parlemen dari Konservatif Sarah Wollaston mendesak pemerintah untuk memegang teguh rencana itu dengan alasan akan menekan angka kejahatan dan kematian dini. Pernyataan Wollaston ini lebih mempunyai bobot karena sebelumnya dia bekerja sebagai dokter umum yang kerap menangani orang mabuk dan kecanduan.

Pembatasan di tengah kesulitan

Belum ada titik temu tentang rencana pembatasan harga. Di kalangan menteri kabinet sendiri masih tarik ulur dan bahkan ada pejabat yang sudah mengatakan penetapan harga minumum mungkin akan dibatalkan. Tarik ulur di lingkungan pemerintah diramaikan dengan suara-suara kalangan industri minuman yang tentu menentang keras penetapan harga.

Mereka beralasan pembatasan akan merugikan "peminum bertanggung jawab" atau mereka yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah moderat, di tengah situasi ekonomi di mana warga harus mengetatkan ikat pinggang.

Kedua, tidak ada bukti yang menjamin pembatasan harga akan mengurangi jumlah kematian akibat alkohol sebanyak 10.000 orang selama 10 tahun.

Siapa bisa memprediksi perilaku konsumen? Minuman alkohol, bir khususnya, sudah mendarah daging bagi publik Inggris. Nongkrong di pub untuk menjalin hubungan sosial sambil menenggak bir. Nobar pertandingan sepak bola, kriket dan rugby di pub dengan ditemani segelas bir.

Muncul pula dilema sisi positif dan negatif dari segi medis. Sejauh ini belum ada bukti yang memastikan bahwa mengkonsumi alkohol dalam takaran yang dianjurkan berbahaya bagi tubuh. Lagi pula beberapa penelitian menunjukkan alkohol mempunyai khasiat bagi kesehatan.

Persekongkolan suami istri

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-03-08, 12:01

Komentar (1)

Vicky Pryce and Chris Huhne

Setiap orang di Inggris yang membaca koran, mendengar radio, atau menonton radio pada Kamis 7 Maret dan Jumat 8 Maret pasti tahu Vicky Pryce. Perempuan berusia 60 tahun ini sebenarnya orang penting, pernah menjabat pimpinan para ekonom pemeritah dengan pengalaman segudang di perusahaan-perusahaan global.

Bagaimanapun pamornya terbatas di kalangan tertentu.

Kini Pryce menjadi lebih kesohor lagi ke kalangan masyarakat umum Inggris.

Tak ada media yang tak memberitakannya walau -mengutip peribahasa lama- karena noda setitik, atau mungkin lebih tepat karena susu sebelanga yang rusak.

Pengadilan Inggris menyatakan dia bersalah dan akan mendekam di penjara bersama mantan suaminya, Chris Huhne, yang juga mantan Menteri Energi dan Perubahan Iklim.

Ada dua kata mantan, yang agaknya menjadi salah satu unsur dari ramainya pemberitaan tentang Pryce. Unsur lainnya adalah kejahatannya.

Pryce dan Huhne dinyatakan bersalah dalam dakwaan menghalangi penegakan hukum karena sang istri mengambil poin hukuman ke SIM-nya untuk pelanggaran yang dilakukan suami yang menyetir terlalu kencang.

Menjaga rahasia
Persekongkolan kejahatan mereka berawal Maret 2003 atau sekitar 10 tahun lalu. Waktu itu Huhne mengebut dengan mobil BMW nya di jalan bebas hambatan dan terekam kamera. Dia kemudian membujuk istrinya agar mengaku bahwa dia menyetir dan mendapat poin hukuman.


Chris Huhne

Huhne panik berhubung sudah mendapat sembilan poin hukuman dan tambahan poin baru bisa membuat SIM-nya dicabut. Pryce tak keberatan dan urusan beres. Pasangan suami istri pastilah kompak menjaga rahasia.

Masalahnya adalah ketika sudah tidak menjadi suami istri.

Huhne terlibat skandal percintaan dengan stafnya, yang mengakhiri perkawinan bersama Pryce yang sudah berjalan selama 26 tahun. Marah pada Huhne, Pryce berencana membuka rahasia.

Dia bertemu dengan wartawan koran The Sunday Times, Isabel Oakeshott, dan mengungkapkan kejahatan Huhne -dan juga kejahatannya. Dia meminta Oakeshott menulis dengan 'cantik' agar kejahatan diberitakan. Dalam sebuah email kepada Oakeshott, Pryce menulis 'Saya ingin memaku dia. Dan saya ingin melakukannya secepat mungkin.'

Terbongkarlah persekongkolan mereka dan tahun lalu keduanya didakwa resmi. Huhne lebih dulu dihukum penjara juga mundur dari anggota parlemen dan dari Partai Liberal Demokrat.


Vicky Pryce

Alasan Pryce
Pryce awalnya masih berharap bisa berkelit dengan alasan mendapat tekanan dari suami untuk menandatangani formulir pelanggaran lalu lintas yang sudah diisi suaminya tapi atas namanya.

Alasan Pryce itu sempat membuat dewan juri tidak bisa memutuskan apakah dia bersalah atau tidak. Di Inggris, dewan juri terdiri dari warga masyarakat dan dalam beberapa kasus dewan juri memang tidak bisa mengambil keputusan sehingga diganti dengan dewan juri baru.

Mungkin melihat karir Pryce sebagai ekonomi senior, dewan juri yang baru tidak percaya kalau dia merupakan perempuan lemah yang begitu saja menerima tekanan dari suami. Maka Pryce harus menyusul mantan suaminya di penjara.

Kasus ini menarik perhatian karena sepertinya memenuhi unsur-unsur film Holywood. Ada kekuasaan, percintaan yang lengkap dengan skandal percintaan, juga ada kejahatan. Bedanya film Huhne dan Pryce tidak berakhir dengan gembira tapi sedih.

Bayarannya menjadi amat mahal, dari risiko kehilangan SIM -sebutlah noda setitik menjadi rusak susu sebelanga, dengan kehilangan pekerjaan, kehilangan kehormatan, juga kehilangan kebebasan.

'Makanya kalau punya skandal jangan sampai meninggalkan istri,' saya pun teringat lelucon dari beberapa -kawan. Tapi saya kira yang lebih aman adalah 'makanya kalau salah ngaku saja'. Anda pilih yang mana?

Mata payah, SIM langsung dicabut

Mohamad Susilo | 2013-03-01, 8:06

Komentar (0)

Sejak pindah ke Inggris pada awal 2000 silam, seingat saya, hanya sekali saya diberhentikan polisi.

Kebetulan sedang ada semacam operasi polisi lalu lintas (Inggris tidak memiliki polisi yang khusus bertugas di jalan raya) dan saya termasuk satu dari beberapa pemilik kendaraan yang diminta berhenti.

Cukup kaget juga mengapa saya diminta berhenti. Perasaan tidak ada yang salah dengan kendaraan saya dan saya juga tidak melakukan pelanggaran lalu lintas ketika itu.

Pak Polisi dengan sopan menanyakan nama saya dan kemudian memberi tahu bahwa lampu rem mobil saya mati.

Lampu rem yang tidak berfungsi termasuk pelanggaran karena bisa membahayakan pengendara lain.

Bayangkan mobil di depan tiba-tiba berhenti atau mengurangi kecepatan dengan drastis. Dalam situasi normal, Anda tahu mobil di depan melambat karena lampu remnya menyala.

Kembali ke operasi polisi yang saya alami.

Begitu diberitahu bahwa lampu rem mobil saya mati, maka saya pun kembali menghidupkan kendaraan dan menginjak rem.

Ternyata lampu rem saya hidup. Pak polisi meminta maaf dan saya pun melanjutkan perjalanan.

Di belakang saya ada beberapa pemilik kendaraan yang diperiksa polisi.

Mereka mungkin tidak membayar pajak atau asuransi, yang juga merupakan pelanggaran.

Selain soal administratif dan kelayakan mobil, polisi juga secara berkala memeriksa kondisi fisik pengendara.

Metode sederhana

Ini bagian dari upaya untuk mencegah para pengendara mabuk menjalankan mobil.

Anda tentu paham potensi bahaya yang disebabkan oleh pengendara yang mabuk atau sedang dalam pengaruh narkoba. Ingat kasus pengendara Xenia maut di Jakarta beberapa waktu lalu?

Dan sekarang polisi di Inggris akan melakukan operasi untuk mengecek kesehatan mata para pengendara.

Metode pengecekan sangat sederdana.

Anda hanya diminta membaca nomor plat mobil lain dari jarak 20 meter.

Bila Anda gagal, sanksinya berat. SIM Anda akan langsung dicabut hari itu juga.

Operasi kesehatan mata oleh polisi dilakukan setelah Cassie McCord, gadis berusia 16 tahun dari Colchester, Inggris timur, tewas tertabrak oleh seorang pengendara berusia 87 tahun.

Dalam pemeriksaan diketahui penglihatan pengendara ini sangat buruk.

Polisi mengatakan pengendara dengan penglihatan yang buruk sama bahayanya dengan menyetir kendaraan dalam keadaan mabuk.

Keduanya bisa menyebabkan cedera atau kematian orang lain.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.