« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Ketika angkutan jadi karakter kota

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2013-01-11, 8:41

london underground

London diramaikan dengan perayaan ulang tahun ke-150 jaringan kereta bawah tanah, yang diberi nama London Underground atau kerap dipanggil London tube.

Tube merujuk pada tabung, karena memang bentuknya seperti tabung dan berkeliling London di bawah dan di atas tanah, walaupun namanya di bawah tanah.

Saya berani mengatakan setiap orang yang pernah ke London, pasti pernah menggunakannya. Apalagi warga London. Pasti? Ya nyarislah, karena Presiden Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak naik tube dalam kunjungan kenegeraan mereka di London.

Peran tube jelas amat penting bagi warga London maupun para turis. Itulah yang membuat ulang tahun ke-150 nya, yang jatuh Rabu 9 Januari, dirayakan secara meluas, termasuk dengan penerbitan perangko.

Setiap harinya, London Underground mengangkut sekitar 3,5 juta penumpang, baik itu yang berangkat kantor, pulang kantor, maupun turis yang jalan-jalan di London atau warga London yang kurang kerjaan. Ya, saya pernah termasuk yang kurang kerjaan itu, naik dua jalur dari satu ujung ke ujung lain.

Dan walau namanya kereta bawah tanah, tak berarti Anda hanya berada di terowongan sepanjang rute. Kenyataannya, 55% dari London Underground justru melintas di atas permukaan tanah, khususnya di kawasan-kawasan yang menjadi dari pusat kota.

Karakter kota
Selain untuk urusan transportasi, London Underground juga sudah melekat menjadi bagian dari kehidupan kota London, menjadi salah satu karakternya. Di toko-toko cendera mata, kaus, gelas, dan berbagai barang dengan logo Underground merupakan salah satu dagangan laris, bersamaan dengan bus tingkat London yang berwarna merah.


london underground

Dan dalam serangan teroris London, 7 Juli 2005 -yang menewaskan 52 orang- kereta bawah tanah ini menjadi salah satu sasaran. Setelah serangan itu banyak warga London yang trauma dan penjualan sepeda meningkat pesat beberapa hari setelah ledakan.

Namun kereta bawah tanah ini juga menjadi tempat perlindungan. Pada masa Perang Dunia II, stasiun kereta bawah tanah menjadi salah satu tempat perlindungan warga London.

Pada masa-masa puncak serangan bom pesawat Nazi atas London, September 1940, diperkirakan sekitar 177.500 penduduk London tidur di stasiun-stasiun London Underground.

Hubungan mesra?
Jelas London Underground juga menjadi sasaran kejengkelan warga. Alasannya? Penuh total sampai kadang harus menunggu kereta berikut, atau karena perjalanan terhambat. Sama seperti jalur kereta lain, jika di depan ada kereta yang rusak maka efek berantainya sampai ke belakang. Beberapa kali pula kereta tertunda karena ada yang mencoba bunuh diri di rel.


london underground

Kejengkelan lain, setiap tahun tarifnya pasti naik. Memasuki tahun 2013, tarif pergi pulang dengan uang tunai -jadi bukan tiket langganan atau anggota- yang termurah sebesar £4,5 atau sekitar Rp 67.500. Bagi banyak orang tak banyak pilihan, karena bus lebih lambat sedangkan sewa sepeda dalam kota bikin capek -walau bisa juga diputar menjadi bikin sehat.

Belum lagi kalau musim panas, udara di dalam kereta panas dan pengap. Pihak pengelola Underground sampai pernah menggelar kampanye lomba teknologi untuk sistem pendingin di Undergorund. Masih ada lagi sumber kejengkelan lain, jika tangga berjalan mati maka orang harus menyeret kaki. Sebagai gambaran, stasiun kereta bawah tanah paling dalam terletak hampi 69 meter di bawah permukaan tanah.

Bagaimanapun, kejengkelan itu mungkin seperti dalam hubungan dengan istri, suami, sahabat, dan rekan kerja.Sesekali menjengkelkan, tapi lebih banyak dibutuhkannya. Walau jaringan kereta bawah tanah London bukan yang terbaik, tapi bisa jugalah diandalkan dan dibanggakan.

Saya -walau sebenarnya sesekali saja menggunakan tube- juga bisa merasakan hubungan yang sudah diwarnai dengan unsur emosional itu. London Tube bukan cuma sekedar moda transportasi saja.

Apakah perasaan seperti itu bisa dinikmati oleh pekerja Jakarta yang menggunakan kereta listrik? Atau warga-warga kota lain di Indonesia atas angkutan kotanya? Giliran Anda yang bercerita.

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 13:33 tanggal 11 ژانویه 2013, AG Paulus menulis:

    Angkot di kotaku lumayan juga kok. Ccuma Rp2.500 jadi harap maklum kalau bau asap rokok, panas dan dempet-dempetan. Saat saya di Ambon masih ditambah suara musik yang di "setel" amat keras. Di Manado, selain musik super keras juga amat tertib, satu bangku satu orang.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.