« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Tinggal di Inggris, tidak bisa bahasanya

Rohmatin Bonasir | 2012-12-21, 13:34

Toko milik orang Polandia menyediakan barang-barang dari Polandia termasuk sayuran.

Di negara asal bahasa Inggris sebagai lingua franca, ada sebagian penduduknya yang tidak bisa berbahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan.

Pada umumnya mereka adalah imigran dari kalangan generasi tua yang mungkin tidak mengecam pelajaran bahasa Inggris di negara asal. Atau pendatang yang baru tiba tanpa bekal pengetahuan bahasa internasional ini, termasuk anak-anak. Pendatang anak-anak akan lebih mudah menguasai bahasa Inggris karena belajar di sekolah.

Sesampainya di Inggris mereka hidup di tengah komunitas mereka, belanja ke toko-toko kepunyaan sesama pendatang, membeli produk-produk dari negara asal mereka. Mereka menghadiri acara pernikahan di antara komunitas mereka sendiri dan merayakan hari raya bersama mereka pula. Komunikasi sosial tidak menjadi masalah dalam hal ini tanpa bahasa Inggris sekalipun.

Tetapi begitu mereka perlu ke dokter, mereka kesulitan menjelaskan gejala-gejala yang dialami. Kalau beruntung ada anggota keluarga atau teman yang bisa berbahasa Inggris dan bisa mengantar, mereka mungkin dimintai bantuan menjadi penterjemah.

Ketika imigran yang tidak bisa berbahasa Inggris berhadapan dengan polisi, misalnya mengalami perampokan, mereka juga akan kesulitan menjelaskan duduk perkara yang dihadapinya. Di beberapa daerah di Inggris memang disediakan penterjemah bahasa-bahasa utama kaum pendatang, Urdu, Hindi untuk menyebut sebagian. Namun proses mendatangkan mereka ke kantor polisi memakan waktu dan dengan pengurangan anggaran belanja di semua lini, anggaran untuk jasa seperti itu juga dipangkas.

Pekan lalu, pemimpin oposisi dari Partai Buruh Ed Miliband membeberkan rencana mengatasi masalah warga Inggris yang tidak bisa berbahasa Inggris tersebut, bila Buruh berkuasa lagi.

Pertama, para pegawai yang bertugas di lini depan di tempat-tempat yang didanai publik harus lulus ujian kompetensi bahasa Inggris, lisan maupun tulisan. Dengan demikian ada keharusan untuk belajar bahasa Inggris apabila mereka ingin mendapat pekerjaan.

Kedua, dana pemerintah yang selama ini digunakan untuk menyediakan layanan penterjemah dan juga untuk pencetakan berbagai brosur informasi dalam bahasa di luar bahasa Inggris akan dipangkas drastis dan sebaliknya dana digunakan untuk menyediakan pelajaran bahasa Inggris bagi mereka yang memerlukan.

Sebenarnya, ada kelas-kelas bahasa Inggris yang disediakan oleh swasta dengan subsidi dari pemerintah daerah. Jadi biayanya lebih ringan. Dengan kemajuan teknologi, belajar bahasa Inggris juga bisa dilakukan secara gratis, lewat internet misalnya. Namun mungkin persoalan ini juga tergantung pada individu masing-masing. Apakah ada kemauan dan keharusan?

Soal kemauan, ini subjektif. Tergantung dorongan dari dalam ingin bisa berbahasa Inggris dan berbaur bersama masyarakat lebih luas di luar komunitas, berintegrasi dengan masyarakat Inggris dan bisa mendapat informasi lebih kaya, atau cukup puas denga keadaan yang ada.

Dari segi keharusan, selama ada layanan penterjemah gratis untuk urusan-urusan genting dan pamflet dalam bahasa mereka, dan bisa bekerja di lingkungan komunitas mereka sendiri, faktor keharusan menjadi tipis.

Akan tetapi keharusan itu bertambah kuat selama beberapa tahun terakhir, setidaknya bagi pendatang baru. Sebab, untuk mengajukan permohonan izin menetap di Inggris sekarang harus dilengkapi dengan bukti lulus tes bahasa Inggris, English for Speakers of Other Languages (ESOL).

Keharusan juga muncul pada orang tua yang ditinggal anak yang selama ini bertindak sebagai 'penterjemah' atau yang mengurus kontrak listrik, gas, telepon dan sebagainya untuk mereka. Janda yang ditinggal suami juga menghadapi keharusan untuk belajar bahasa Inggris sebab urusan tagihan listrik, gas dan pajak jatuh di pundak mereka.

Bukannya saya tidak mempunyai simpati, tapi saya setuju dengan peribahasa "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 09:05 tanggal 22 دسامبر 2012, AG Paulus menulis:

    Ya setuju di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saya tugas sebagai dokter di beberapa wilayah NKRI yang amat luas. Saat di Ambon, saya belajar sampai mahir bahasa "ala" Ambon, tugas di Manado, tugas di Ternate, tugas di Rangkas Bitung Jabar...tentu saja saat kuliah di Yogya dan saat ini tugas di Banyumas. Memang amat penting saat wawancara pasien dengan bahasa ibu mereka sehingga pasien dapat "mengeluh" penyakitnya dengan pas...walau yang rumit saat di Rangkas, karena Kamus bahasa Sunda saya terlalu "intelek" alias "kromo" istilah Yogyanya.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.