Arsip untuk دسامبر 2012

Inggris, Dunia Ketiga

Endang Nurdin | 2012-12-26, 15:51

Komentar (3)

Seorang nenek dengan jaket tipis berdiri meminta-minta di dekat satu pemberhentian bus di London. Saat itu, suhu udara mendekati titik beku, sekitar tiga jam menjelang tengah malam.


Jumlah bank makanan di Inggris mencapai 3.000 unit

Tak lama kemudian seorang pemuda berlari mendekati nenek itu dan memberinya roti isi yang langsung disantap. Pemuda tadi tampak menyeka air matanya saat menunggu bus datang - mungkin memikirkan nasib sang nenek.

Cerita ini saya dengar dari seorang teman yang saat itu tengah menunggu bus di halte yang sama pada awal Desember lalu.

Cerita trenyuh seperti ini seolah bertambah pada keesokan harinya melalui koran pagi, Metro, yang saya baca saat menuju kantor. Judul berita utama saat itu, 'Inggris dunia ketiga.'

Laporan utama tadi mengangkat sejumlah cerita kesulitan banyak orang di Inggris agar tidak kelaparan ataupun dalam memberi makanan kepada keluarganya.

Banyak di antara mereka yang harus berjalan puluhan kilometer untuk mengambil makanan gratis yang disediakan badan-badan amal melalui apa yang disebut food bank atau bank makanan.

Ada seorang wanita yang harus berjalan bolak balik dari rumahnya sekitar 40 kilometer di tengah hujan lebat hanya untuk mengambil jatah makanan.

Ada juga yang terpaksa berjalan kaki sejauh 15 kilometer walaupun mengalami rematik parah. Ini semua dilakukan karena dia belum makan selama dua hari.

Dot Jackson, dari bank makanan Barrow food mengangkat cerita trenyuh lain tentang seorang wanita berusia 60-an yang terpaksa berjalan 30 kilometer dan tiba dalam keadaan basah kuyup.

"Dia datang dalam keadaan basah. Kami memberinya satu kantung penuh makanan, tetapi rasanya kami tidak berdaya juga, karena kami tidak bisa memberinya ongkos bus untuk pulang," cerita Dot Jackson.

Badan-badan amal mengatakan mereka yang kelaparan dan terpaksa jalan jauh untuk mengambil jatah makanan ini pada umumnya memiliki rumah, namun sama sekali tidak ada uang untuk makan, apalagi uang untuk transportasi umum.

Mencuri demi anak
Akibatnya perjalanan jauh di tengah udara dingin terpaksa dilakukan agar tidak kelaparan.

Demi makanan, tidak hanya jalan jauh yang dilakukan, tetapi juga terpaksa mencuri.

Data dari kepolisian menunjukkan meningkatnya jumlah kasus pencurian di toko-toko penjual bahan pangan.

Kepolisian Inggris mencatat sekitar 350.000 kasus pencurian di Inggris tahun lalu. Di kawasan Rotherham, misalnya, angka pencurian di toko makanan meningkat 26% dalam 12 bulan terakhir. Dan ini semua -menurut kepolisian setempat- demi susu ataupun makanan bayi yang relatif memang cukup mahal.

Polisi mengatakan individu-individu yang terlibat baru pertama kalinya tercatat di kepolisian terpaksa melakukan pencurian di tengah terpuruknya kondisi ekonomi.

Bank makanan meningkat
Sejauh ini, berdasarkan data dari badan-badan amal Inggris, jumlah orang yang mengambil jatah di bank makanan meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari 220.000 orang tahun ini.


Seorang petugas mengatur persediaan di bank makanan.


Sementara jumlah bank makanan juga meningkat dua kali lipat dalam satu tahun terakhir, mencapai hampir 3.000 unit.

Makanan yang disediakan beragam, mulai dari pasta, beras, sup, biskuit dan juga sereal.

Masyarakat Inggris sendiri -melalui sekolah-sekolah dan berbagai organisasi- memegang peran besar dalam memberikan sumbangan untuk bank-bank makanan ini, selain juga jaringan supermarket.

Di tingkat pemerintahan, masalah kemiskinan ini sempat menjadi debat Perdana Menteri Inggris, David Cameron dan pemimpin pihak oposisi, Partai Buruh Ed Miliband.

Miliband menggunakan cerita ini untuk menyerang catatan pemerintah dalam menangani kemiskinan yang menurutnya "semakin bertambah parah". Miliband bahkan mengatakan dalam tiga tahun terakhir jumlah orang yang menggantungkan hidup pada badan amal untuk menghindari kelaparan meningkat enam kali lipat.

Namun Perdana Menteri Cameron menjawab pemerintah telah melakukan sejumlah langkah termasuk meningkatkan lowongan pekerjaan dan juga bantuan untuk menekan tingkat kebutuhan hidup, sambil juga menyalahkan pemerintahan yang sebelumnya dipegang partai Buruh.

Di tengah ini semua, melalui cerita-cerita trenyuh tadi, rasanya saya setuju dengan judul berita utama koran pagi Metro, awal Desember lalu bahwa Inggris masih seperti layaknya dunia ketiga.

Tinggal di Inggris, tidak bisa bahasanya

Rohmatin Bonasir | 2012-12-21, 13:34

Komentar (1)

Toko milik orang Polandia menyediakan barang-barang dari Polandia termasuk sayuran.

Di negara asal bahasa Inggris sebagai lingua franca, ada sebagian penduduknya yang tidak bisa berbahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan.

Pada umumnya mereka adalah imigran dari kalangan generasi tua yang mungkin tidak mengecam pelajaran bahasa Inggris di negara asal. Atau pendatang yang baru tiba tanpa bekal pengetahuan bahasa internasional ini, termasuk anak-anak. Pendatang anak-anak akan lebih mudah menguasai bahasa Inggris karena belajar di sekolah.

Sesampainya di Inggris mereka hidup di tengah komunitas mereka, belanja ke toko-toko kepunyaan sesama pendatang, membeli produk-produk dari negara asal mereka. Mereka menghadiri acara pernikahan di antara komunitas mereka sendiri dan merayakan hari raya bersama mereka pula. Komunikasi sosial tidak menjadi masalah dalam hal ini tanpa bahasa Inggris sekalipun.

Tetapi begitu mereka perlu ke dokter, mereka kesulitan menjelaskan gejala-gejala yang dialami. Kalau beruntung ada anggota keluarga atau teman yang bisa berbahasa Inggris dan bisa mengantar, mereka mungkin dimintai bantuan menjadi penterjemah.

Ketika imigran yang tidak bisa berbahasa Inggris berhadapan dengan polisi, misalnya mengalami perampokan, mereka juga akan kesulitan menjelaskan duduk perkara yang dihadapinya. Di beberapa daerah di Inggris memang disediakan penterjemah bahasa-bahasa utama kaum pendatang, Urdu, Hindi untuk menyebut sebagian. Namun proses mendatangkan mereka ke kantor polisi memakan waktu dan dengan pengurangan anggaran belanja di semua lini, anggaran untuk jasa seperti itu juga dipangkas.

Pekan lalu, pemimpin oposisi dari Partai Buruh Ed Miliband membeberkan rencana mengatasi masalah warga Inggris yang tidak bisa berbahasa Inggris tersebut, bila Buruh berkuasa lagi.

Pertama, para pegawai yang bertugas di lini depan di tempat-tempat yang didanai publik harus lulus ujian kompetensi bahasa Inggris, lisan maupun tulisan. Dengan demikian ada keharusan untuk belajar bahasa Inggris apabila mereka ingin mendapat pekerjaan.

Kedua, dana pemerintah yang selama ini digunakan untuk menyediakan layanan penterjemah dan juga untuk pencetakan berbagai brosur informasi dalam bahasa di luar bahasa Inggris akan dipangkas drastis dan sebaliknya dana digunakan untuk menyediakan pelajaran bahasa Inggris bagi mereka yang memerlukan.

Sebenarnya, ada kelas-kelas bahasa Inggris yang disediakan oleh swasta dengan subsidi dari pemerintah daerah. Jadi biayanya lebih ringan. Dengan kemajuan teknologi, belajar bahasa Inggris juga bisa dilakukan secara gratis, lewat internet misalnya. Namun mungkin persoalan ini juga tergantung pada individu masing-masing. Apakah ada kemauan dan keharusan?

Soal kemauan, ini subjektif. Tergantung dorongan dari dalam ingin bisa berbahasa Inggris dan berbaur bersama masyarakat lebih luas di luar komunitas, berintegrasi dengan masyarakat Inggris dan bisa mendapat informasi lebih kaya, atau cukup puas denga keadaan yang ada.

Dari segi keharusan, selama ada layanan penterjemah gratis untuk urusan-urusan genting dan pamflet dalam bahasa mereka, dan bisa bekerja di lingkungan komunitas mereka sendiri, faktor keharusan menjadi tipis.

Akan tetapi keharusan itu bertambah kuat selama beberapa tahun terakhir, setidaknya bagi pendatang baru. Sebab, untuk mengajukan permohonan izin menetap di Inggris sekarang harus dilengkapi dengan bukti lulus tes bahasa Inggris, English for Speakers of Other Languages (ESOL).

Keharusan juga muncul pada orang tua yang ditinggal anak yang selama ini bertindak sebagai 'penterjemah' atau yang mengurus kontrak listrik, gas, telepon dan sebagainya untuk mereka. Janda yang ditinggal suami juga menghadapi keharusan untuk belajar bahasa Inggris sebab urusan tagihan listrik, gas dan pajak jatuh di pundak mereka.

Bukannya saya tidak mempunyai simpati, tapi saya setuju dengan peribahasa "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".

Krisis perumahan di Inggris

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2012-12-14, 14:04

Komentar (0)

Apartemen di London

Menyaksikan siaran Panorama di BBC edisi Kamis 13 Desember membuat saya agak terhenyak.

Panorama merupakan laporan mendalam di BBC tentang isu-isu politik dan kemasyarakatan yang antara lain menurunkan wawancara eksklusif dengan mendiang Putri Diana, yang saat itu mengundang kontroversi di kalangan masyarakat Inggris.

Dalam edisi Kamis malam lalu, Panorama menurunkan laporan tentang krisis perumahan di Inggris dengan menampilkan empat orang atau keluarga yang kehilangan rumahnya.

Alasannya macam-macam. Salah satunya karena krisis ekonomi yang membuat mereka tidak mampu lagi membayar angsuran rumah sehingga rumah mereka disita oleh kreditor.

Satu keluarga -yang tergolong keluarga tidak mampu mendapat fasilitas bantuan rumah pemerintah- diusir dari tempat penampungan karena anaknya memecahkan kaca.

Sedangkan satu lagi adalah seorang pria bujangan yang sebenarnya sudah lama mengajukan permohonan bantuan perumahan namun harus menunggu lebih lama karena prioritas diberikan kepada keluarga.

Anggaran menurun
Berita tentang krisis keuangan di Eropa yang membuat orang kehilangan pekerjaan sudah sering saya baca.


Dikombinasikan dengan keterbatasan pemerintah dalam menyediakan akomodasi, maka terjadilah krisis perumahan di Inggris, seperti dilaporkan oleh Panorama.

Dalam waktu tiga tahun belakangan, jumlah keluarga dan individu yang tidak punya tempat tinggal di Inggris meningkat sampai 25%.

Survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga konsultan SSentif memperlihatkan sebanyak 50.290 keluarga dan individu tergolong 'homeless' atau tidak punya tempat tinggal pada tahun 2011-2012 atau meningkat dari 40.020 pada tahun sebelumnya.

Pada saat bersamaan, dana yang digunakan untuk menangani mereka turun dari £213,7 juta menjadi £199,8 juta dalam kedua periode tersebut.

Itu dia yang disebut krisis perumahan oleh Panorama: masalahnya semakin besar namun sumber dayanya semakin kecil.

Unsur manusia
Sebenarnya pemandangan para gelandangan yang mendapat makanan dan minuman dari lembaga amal sudah sering disaksikan warga London. Pada jam-jam tertentu, ada mobil barang yang datang ke tempat-tempat tertentu dan membagikan makanan kepada mereka.


Foto gelandangan

Tapi umumnya mereka bujangan dan seorang teman yang bekerja di lembaga amal mengatakan sebagian besar dari para gelandangan itu kecanduan alkohol atau narkoba.

Sedang dalam program Panorama yang saya saksikan, mereka adalah keluarga yang tampaknya berfungsi normal.

Salah satu keluarga -dengan dua putri remaja- diusir dari rumahnya karena sang ayah kehilangan pekerjaan dan mereka tak sanggup lagi membayar angsuran rumah.

Saya masih ingat kegalauan kedua putri remaja mereka saat berkemas-kemas memasukkan barang-barang dan salah seorang tak mampu menahan tangisnya.

Dan sambil menunggu bantuan rumah dari pemerintah maka harus tinggal di rumah saudaranya, tak jelas sampai berapa lama. Hidup mereka secara drastis berubah.

Keluarga yang lain beranak banyak dan dua diantaranya masih di bawah 10 tahunan. Untunglah mereka tinggal di kawasan yang langsung bisa menyediakan bantuan tempat tinggal namun saya tersadar bahwa pindah rumah tidak mudah bagi setiap orang.

Bagaimanapun tempat tinggal perlahan-lahan menjalin keterikatan juga dan bagi seorang anak, masih ada lagi teman bermain maupun sekolah.

Sementara pria bujang tadi -yang tidur dari satu pojok ke pojok lain di taman- akhirnya bisa mendapat tempat tinggal berbagi dengan orang lain. Seorang lagi, perempuan yang bercerai, memilih tinggal bersama keluarganya karena rumah yang ditawarkan, menurutnya, tidak layak untuk dihuni.

Laporan itu memang membuat saya terhenyak.

Bukan saja karena krisis perumahan bisa melanda sebuah negara yang relatif makmur dengan sistem dukungan sosial yang baik seperti Inggris, juga karena banyak sekali unsur manusia di balik sebuah statistik.

Demam bayi kerajaan

Endang Nurdin | 2012-12-07, 14:52

Komentar (0)

Ucapan selamat mengalir dari seluruh dunia - termasuk dari kepala pemerintahan dan selebriti- begitu muncul pengumuman istri Pangeran William, Kate, tengah hamil.

Pengumuman sebenarnya terpaksa dikeluarkan lebih awal karena Kate harus masuk rumah sakit karena mengalami mual-mual parah dan harus dirawat.

Kehamilan Kate baru sekitar dua bulan namun William menyadari begitu istrinya masuk rumah sakit, berita akan segera meluas.

Sebelum berita tersebar, Ratu Elizabeth serta penerus tahta pertama Pangeran Charles harus diberitahu.

Sekitar seratus wartawan dari berbagai penjuru dunia - mulai dari Amerika Serikat sampai Cina- siap dengan kamera mereka di depan rumah sakit selama tiga hari Kate dirawat mulai Senin dan keluar Kamis lalu.

Berita kehamilan ini juga mendominasi situs berita di seluruh dunia dari Afrika sampai Australia.

Belum lagi berbagai topik pembahasan, terutama di media lokal, mulai dari kondisi yang dialami Kate, siapa nama bayi, seperti apa kira-kira wajahnya sampai posisi bayi kerajaan ini begitu nanti dilahirkan.

Pembahasan soal kondisi Kate, Hyperemesis Gravidarum (mual-mual akut dalam kehamilan dini) diangkat dari berbagai sisi, mulai dari gejala kondisi parah yang disertai muntah terus menerus, sampai pada statitistik. Gejala ini disebutkan hanya mempengaruhi satu dari 100 ibu hamil.

Sementara soal wajah bayi, seorang seniman Amerika Serikat Joe Mullins malah membuat sejumlah foto dengan perkiraan bagaimana kira-kira wajah bayi pasangan kerajaan yang bergelar Duke and Duchess of Cambridge ini.

Sejumlah cendera mata termasuk cangkir juga sudah mulai diproduksi di Inggris. Dan di luar Inggris, demam bayi kerajaan juga melanda kota Napoli, Italia, dengan salah satu hiasan Natal berupa patung Pangeran William dan Kate dengan perut membuncit.

Elizabeth atau Diana?
Rumah-rumah taruhan juga ramai dengan berbagai nama. John atau Charles, dua nama yang muncul banyak untuk bayi laki sementara untuk perempuan Elizabeth atau Diana.

Bila keluarga kerajaan memiliki anak, bukan hanya nama yang harus dipikirkan namun juga gelar.

Raja George V mengeluarkan ketetapan tahun 1917 bahwa gelar "Royal Highness" (Yang Mulia) serta pangeran dan putri harus dibatasi pada anak-anak pemegang tahta, serta anak-anaknya.

Berdasarkan formula ini, putra William dan Kate dapat memegang gelar pangeran, namun masih belum ada ketetapan gelar untuk anak perempuan.

Tetapi Istana Buckhingham telah menekankan, bayi perempuan William dan Kate akan memegang gelar putri.

Bayi khusus
Bayi Pangeran William dan Kate akan menjadi penerus tahta ketiga - menggantikan posisi Pangeran Harry, adik William.

Namun satu hal yang akan diformulasikan secara resmi untuk menjadi peraturan adalah ketetapan menjadi ratu bila bayi pertama pasangan kerajaan ini, perempuan.

Pengumuman kehamilan inilah yang mempercepat pembahasan bahwa suksesi pemegang mahkota kerajaan Inggris tidak lagi ditentukan oleh jenis kelamin.

Berdasarkan peraturan lama, putri pertama keluarga kerajaan yang merupakan penerus langsung, akan dilompati oleh putra kedua.

Tahun lalu, para pemimpin Negara Persemakmuran sepakat bahwa undang-undang suksesi kerajaan ini harus diganti, dengan pemberian hak yang sama kepada anak perempuan pertama untuk memegang tahta.

Jadi, ketetapan ini tinggal menunggu waktu.

Yang jelas saat ini, dalam lingkaran kerajaan, masa depan monarki mungkin sudah aman untuk satu generasi berikutnya - melalui cicit ketiga Ratu Elizabeth.

Dan bila bayi pasangan kerajaan ini perempuan, ia akan tercatat dalam sejarah, sebagai bayi khusus yang akan menjadi bayi pertama yang dapat menjadi ratu.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.