« Sebelumnya | Utama | Berikut »

The Beatles dan James Bond

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2012-10-05, 14:57

Apakah ada di antara kita yang tidak mengenal The Beatles? Mungkin ada, namun pasti jarang sekali.

Bisa dikatakan The Beatles merupakan ekspor Inggris yang paling berhasil dengan rentang puluhan tahun dan menyentuh berbagai usia.

Pada Abad ke-21 ini masih banyak remaja di seluruh dunia yang terus mendengarkan lagu-lagu kelompok yang disebut The Fab Four itu atau Empat Yang Menakjubkan. Bukan hanya mendengarkan, tapi juga memainkannya sambil meniru gaya rambut, pakaian jas hitam, serta gerak-gerik mereka di panggung.

Bagi sejumlah orang, The Beatles bisa juga dilihat sebagai produk imperialisme Barat yang kembali melakukan kolonialisasi lewat kebudayaan.

Sebagian dari kita mungkin masih ingat Presiden Soekarno sampai pernah melarang musik yang disebutnya ngak ngik ngok.

Peringatan 50 tahun
Pekan ini, Inggris diramaikan dengan peringatan 50 tahun peluncuran rekaman tunggal pertama The Beatles , Love Me Do. Begitu dirilis 5 Oktober 1962, lagu tersebut langsung menempati posisi 17 di tangga lagu dan menjadi langkah awal The Beatles untuk masuk kasanah musik dunia.

Berbagai acara digelar. Di kota asal The Beatles, Liverpool, sekitar 1.631 penggemarnya berkumpul Jumat 5 Oktober untuk mencatat rekor kor terbesar dunia. Sebelumnya kor terbesar digelar di Chicago pada tahun 2011 dengan 897 penyanyi.

Bersamaan dengan perayaan 50 tahun peluncuran Love Me Do, berlangsung pula perayaan 50 tahun film-film James Bond. Juga pada Oktober 1962, diluncurkan film pertama James Bond, berjudul Dr No, yang dibintangi Sean Connery dan Ursula Andress.

Sampai kini sudah 23 film diproduksi, termasuk Skyfall yang belum dirilis pada Jumat 5 Oktober. Selain Sean Connery sudah ada lima pemeran James Bond lainnya.

Berbeda dengan The Beatles, saya tidak pernah mendengar Indonesia melarang film James Bond, yang selalu berisi hubungan seks dan pembunuhan.

Pencapaian Inggris?
Peringatan 50 tahun keduanya menjadi berita besar di semua media Inggris, entah itu radio, koran, maupun TV.

Tanpa bermaksud mempertanyakan keberhasilan kedua produk budaya Inggris -karena jelas lah saya termasuk penikmat The Beatles dan menikmati beberapa film James Bond walau bukan pengikut setia detektif super itu- tergelitik juga rasanya untuk bertanya: kenapa perayaan itu sedemikian besarnya.

Muncul pula kenangan tentang ekspor budaya Inggris lain, perkawinan William dan Kate yang menjadi heboh global.

Maka pertanyaan berikut apakah memang Inggris tinggal menjadi negara yang piawai dalam panggung budaya semata? Tambahkan pula dramawan Shakespeare, yang karyanya diinterpretasikan olah seniman-seniman di seluruh belahan dunia.

Rasanya tidak juga. Penyelenggaraan Olimpiade 2012 yang baru lalu mendapat pujian dari warga dunia dan Inggris berhasil berada di peringkat tiga pengumpulan medali.

Beberapa waktu lalu petenis Inggris, Andy Murray, merebut gelar juara Amerika Terbuka, dan pembalap sepeda Bradley Wiggins merebut balapan sepeda bergengsi dunia Tour de France. Bahkan penemu internet yang mengantarkan revolusi dunia adalah warga Inggris kelahiran London, Tim Berners-Lee.

Jadi tidak juga. Kalau kemudian pertanyaan itu masih diteruskan, kenapa perayaan 50 tahun The Beatles dan James Bond dirayakan secara meriah, saya mungkin lebih melihatnya sebatas bagian dari promosi saja.

Promosi canggih dunia untuk produk kelas dunia, dan Indonesia mungkin tak lama lagi akan kedatangan DVD baru The Beatles, misalnya, sedang seri terbaru James Bond Skyfall sudah pasti lah akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.