« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Label kesehatan di Inggris

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2012-10-26, 15:52

Food

Sejauh mana negara mengatur kehidupan pribadi warganya? Pernyataan itu muncul ketika membaca berita tentang sistem label paket makanan standar yang akan diberlakukan di Inggris tahun depan.

Dengan label itu, maka akan ada berbagai warna yang menjadi petunjuk tinggi, menengah, dan rendah berdasarkan kandungan lemak, garam, gula dan kalorinya. Namun skema itu masih bersifat sukarela walau pemerintah yakin industri makanan Inggris akan melakukannya.

Rencana label ini selama beberapa waktu belakangan sudah menjadi pembahasan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi obesitas. Sebenarnya beberapa industri makanan sudah menerapkan sistem label dengan warna seperti lampu lalu lintas, merah, kuning, dan hijau. Namun belum ada standar yang baku sehingga satu perusahaan menaruh warna kuning namun yang lainnya menggunakan merah karena ukuran kandungan lemak, gula, dan garam.

Kelak akan ada standar yang tegas, jadi jika -sebutlah nanti labelnya menggunakan warna lampu lalu lintas juga karena belum ditentukan- maka bisa dipastikan batas ambang dan bawah dari masing-masing kandungan dalam makanan tersebut.

Ibaratnya label halal di Indonesia, yang dikeluarkan MUI, sudah ada standarnya dan berlaku untuk semua produk makanan.

Informasi bagi warga
Jika di Indonesia, label haram berurusan dengan keyakinan agama, maka label lemak, garam, dan gula untuk kesehatan warga Inggris.

obesitas

Di sini muncul pertanyaanya. Urusan apa negara mengatur kesehatan inidvidu per individu. Ibaratnya mau obes, mau gendut, mau langsing, kurus, atau bugar mestinya keputusan masing-masing orang. Memang label kesehatan di Inggris -sebutlah begitu- belum sampai memaksa orang untuk hanya mengkonsumsi yang tergolong hijau -dengan kandungan lemak, garam, dan gula yang relatif sedikit.

Tujuannya lebih memberikan informasi selengkap mungkin sehingga orang mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Cuma di ujungnya adalah harapan agar orang tidak sampai menjadi obes karena terlalu banyak mengkonsumsi lemak, garam dan gula.

Asumsi dasarnya adalah sebenarnya banyak orang yang tidak ingin mengkonsumsi garam, gula, dan lemak secara berlebihan walaupun tentu banyak juga yang tidak peduli selama enak di mulut dan kenyang di perut.

Jadi dengan informasi lengkap maka orang per orang bisa mengambil keputusan yang tepat, walau pada saat bersamaan pemerintah Inggris melancarkan kampanye antiobesitas, dengan berbagai cara dan ada yang sedikit di bawah tekanan.

Misalnya saja untuk IVF atau pembuahan tabung, maka perempuan yang tergolong obes lebih dulu diminta menurunkan berat badannya sebelum mendapat pelayanan. Selain itu pemerintah juga memperbaiki mutu makanan di sekolah-sekolah, walau ada juga yang kemudian memilih membawa makanan sendiri dari rumah daripada menyantap makanan yang menurut mereka hambar.

Penghematan ekonomi
Buat pemerintah Inggris kesehatan warganya amat penting. Bukan hanya supaya menjadi pengumpul medali emas terbesar di Olimpiade, misalnya, atau untuk merebut gelar juara Piala Dunia Brasil 2014.

obesitas

Jelas semua pemerintah ingin rakyatnya sejahtera dan sehat, dan obesitas belakangan ini semakin meningkat hampir di seluruh dunia. Diperkirakan di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 500 juta orang yang tergolong obes dan di Inggris komposisinya adalah satu dari empat orang Inggris adalah obes.

Dan obesitas berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti kencing manis, stroke, dan masalah jantung. Majalah kesehatan Lancet memperkirakan sekitar 2% hingga 6% dari total anggaran kesehatan digunakan untuk berbagai penyakit yang berkaitan dengan obesitas.

Sementara perkiraannya jumlah orang yang obes di Inggris akan meningkat 40% pada tahun 2030 jika kecenderungan saat ini dibiarkan berlangsung tanpa dikendalikan pemerintah.

Beban ekonominya, setiap tahun layanan kesehatan Inggris, NHS, diperkirakan menghabiskan £2 miliar untuk menangani penyakit-penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Jadi kalaulah instruksi sistem label dilaksanakan dan mengurangi tingkat obesitas, maka sejumlah dana bisa dihemat.

Di jaman krisis keuangan di Eropa saat ini, segala upaya yang berbau penghematan tentu dilirik pemerintah, biarpun agak memasuki ranah pribadi warganya.

Mungkin di Indonesia, pemerintah masih bisa melepas total urusan kesehatan warga karena sebagian besar rakyat merogoh kantung sendiri untuk berobat, di rumah sakit swasta dalam negeri maupun, yang sering juga terjadi, ke Singapura.

Apakah harus menunggu krisis keuangan untuk memperhatikan kesehatan warga? Jelas tidak ada jawaban sederhananya, cuma saya kira saatnya juga untuk menambah label kesehatan selain label haram di Indonesia, tanpa harus menunggu obesitas menjadi masalah besar seperti di Inggris.

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 05:51 tanggal 30 اکتبر 2012, Onsi Bahadi menulis:

    Bahasa Indonesia yang digunakan merupakan bahasa yang baik dan sangat sederhana sehingga mudah dimengerti. Penggunakan kata "daripada" tolong dipertahankan. Ini beda dengan wartawan-wartawan di Indonesia yang seenaknya memakai kata Jawa dan Inggris sehingga bikin bingung.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.