« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Angkutan umum di London dan Jakarta

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2012-03-09, 8:37

london, sepeda

Awal Mei nanti, warga London akan memilih walikota dan pemilihan kali ini rasanya lebih penting karena pemenangnya jelas menjadi bintang dalam pembukaan Olimpiade London yang akan dimulai 27 Juli nanti.

Walikota saat ini, Boris Johnson, sudah tampil di penutupan Olimpiade Beijing 2008 lalu. Dalam upacara penyerahan tuan rumah ke London, Boris Johnson membawa bis tingkat berwarna merah yang mejadi salah satu ciri kota London.

Namun belum pasti kalau dia juga yang kelak menyambut kedatangan atlet dari seluruh dunia di Stadion Olimpiade di Stradford, London timur. Persaingan kali ini cukup ketat. Johnson -dari Partai Konservatif- akan ditantang oleh calon kawakan dari Partai Buruh, yaitu mantan walikota Ken Livingstone, yang kalah dalam pemilihan 2008.

Sementara calon lain, Brian Paddick dari Partai Liberal Demokrat -yang juga ikut dalam pemilihan empat tahun lalu- tak bisa diabaikan begitu saja. Jajak pendapat memang menempatkan dia jauh di bawah Boris dan Ken yang kejar mengejar, tapi pengamat menduga dalam waktu sebulan mendatang bisa jadi pemilih bosan melihat pertarungan Boris dan Ken sehingga mencoblos pilihan ketiga.

Masih sembilan calon lain -termasuk lima calon independen- namun tampaknya lebih sebagai penggembira dengan peluang menang yang amat tipis.

Masalah transport
Walau pelaksanaan olimpiade membayang-bayangi pemilihan, isu utama tetap saja angkutan umum, persisnya tarif angkutan umum.

Ken Livingstone, misalnya, langsung menohok di awal tahun dengan memukul Boris Johnson karena kenaikan harga karcis kereta api dan bus, yang rata-rata mencapai 5,6%. Menurut Ken, di bawah kepemimpinannya, tarif angkutan bisa turun sampai 7% dan kampanyenya berfokus pada tarif angkutan umum yang adil.



Cuma agaknya gagasan itu rasanya bakal susah diterima warga London, dan diserang oleh kubu Boris Johnson. Bagaimana mungkin di tengah krisis ekonomi yang melanda Inggris, harga angkutan umum bisa turun. Apalagi di zaman Ken dulu, angkutan umum juga naik kok setiap tahun, walau memang cuma sekitar 1%, jauh di bawah kebijakan rezim Boris yang mengaku harga naik dan kualitas layanan juga naik.

Brian Paddick melempar gagasan 'early bird' untuk warga yang bersedia berangkat lebih pagi dan pulang lebih siang. Sistem itu kira-kira seperti pisau bermata dua. Karena tiket lebih murah maka orang terdorong untuk berangkat kantor lebih awal sehingga kereta dan bus tidak padat seperti meledak lagi pada jam sibuk. Begitu juga ketika jam sibuk pulang kantor.

Transport memang soal penting bagi warga London. Walau tidak separah di Jakarta, kemacetan menjadi hal rutin harian di kawasan pusat kota London. Baik Ken maupun Boris sebenarnya sama-sama punya terobosan untuk mengatasinya.

Ken dengan sistem bayaran. Setiap kenderaan pribadi yang masuk ke pusat kota London harus membayar. Banyak yang mendukung kebijakan itu walau tidak sedikit juga yang menentangnya karena berpendapat biaya itu seperti pajak ganda. Tujuannya adalah mengurangi jumlah kendaraan pribadi berlalu lalang dan pemasukan untuk meningkatkan layanan angkutan.

Sedangkan Boris dikenal dengan skema sepeda sewaan. Orang bisa menyewa sepeda dari satu pangkalan dan nanti dikembalikan di pangkalan lain. Jadi untuk perjalanan pendek di dalam kota, lebih baik mengayuh, selain lebih murah juga sehat, Walau sebenarnya ide itu sudah dibahas di jaman Ken, sebagian warga London menyebutnya Boris Bike atau sepeda Boris.

Saya pendukung Boris dalam soal angkutan umum walaupun belum pernah naik sepeda Boris karena masih lebih suka naik sepeda sendiri. Gagasan bersepeda dalam kota bukan sekedar murah dan tidak macat, juga bersih polusi. Dan saya tidak sendirian karena sejumlah warga London protes karena tidak ada pangkalan sepeda di dekat rumah atau kantornya.


london, bus

Masalah Jakarta
Angkutan umum jelas merupakan masalah penting di Jakarta, yang akan menggelar pemilihan gubernur pertengahan Juli ini. Dua calon gubernur bahkan sudah mengangkatnya sebagai salah satu isu kampanye.

Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin -yang diusung Partai Golkar- berjanji dengan tema: 'Atasi Macet dan Banjir dalam tiga tahun.' Dia juga mengatakan akan mundur jika gagal mengatasi dua hal itu dalam waktu tiga tahun.

Sementara calon independen Faisal Basri merencanakan penambahan armada angkutan umum dan juga peningkatan kualitasnya. Dia juga menentang pembangunan jalan tol karena cuma memindahkan kemacetan.

Sedangkan Gubernur Fauzi Bowo sudah menurunkan tarif angkutan umum pada akhir Januari lalu. Dia juga menggelar operasi untuk keamanan angkutan umum untuk menanggapi maraknya pemerkosaan di angkutan umum beberapa waktu lalu.

Tapi ada kemungkinan bakal calon yang justru lekat dengan angkutan pribadi. Walikota Solo, Jokowi, sudah lolos uji kepatutan dan kelayakan PDI-P walau belum diumumkan sebagai calon resmi. Dia merupakan pendukung utama mobil Esemka produk siswa SMK di Solo.

Dialah yang pertama menjadikannya sebagi mobil dinas pribadi, juga menyetirnya langsung ke Jakarta untuk uji emisi -namun belum lolos- dan siap mendukung perbaikan. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa Jokowi amat gencar mendukung Esemka. Dalam sebuah wawancara dia mengatakan karena tidak ada biaya promosi untuk Esemka, jadi dia turun tangan langsung. Memang bersamanya, Esemka mendapat peliputan meluas di media massa.

Cuma saya jadi ragu, yang tidak punya biaya promosi itu mobil Esemka atau dia? Di London, seorang calon walikota yang mengkaitkan citranya dengan sebuah produk -buatan negara manapun- bisa dipastikan akan tersingkir.

Apalagi untuk mobil pribadi di tengah kota yang sehari-harinya bergulat dengan kemacetan.

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 03:57 tanggal 10 مارس 2012, syofiaan menulis:

    Haha, menggelitik sekali. Saya sempat berpikir begitu ketika walikota Solo dengan gencar mempromosikan mobil Esemka, sampai mengendarainya ke Jakarta dari Solo. Promosi yang bukan jalan keluar. Seharusnya isu yang menjadi perhatian adalah bagaimana meningkatkan kualitas dan keterjangkauan angkutan umum untuk mereduksi mobil-mobil pribadi, bukan malah mempromosikan mesin polutan yang menambah kemacetan.

  • 2. Pukul 05:36 tanggal 16 مارس 2012, sigit yudha menulis:

    Artikel yang menarik, dan lebih menarik lagi bagi saya di akhir artikel. Ya, tentang pak Joko Widodo (Jokowi) yang menjabat walikota Solo saat ini. Dengan semangatnya, dia mendukung habis-habisan agar mobil Esemka hasil rakitan siswa SMK Solo dapat menjadi alternatif murah masyarakat Indonesia bisa memiliki mobil pribadi. Sebuah spirit yang inspiratif dan sangat "wong cilik" menurut saya.

    Ketika diputuskan mobil Esemka berangkat ke Jakarta mengikuti uji kelayakan sebagai syarat mendapatkan izin untuk diproduksi secara massal, Pak Jokowi sebagai yang berada paling depan dengan optimis mengatakan di hadapan wartawan bahwa "Mobil Esemka pasti lulus Uji Kelayakan! pasti!" dan itu dikatakannya berulang-ulang setibanya mobil Esemka di Jakarta.

    Saya terhenyak, dalam hati berkata "Pak Jokowi, saya sangat sangat mengagumi Bapak sebagai seorang pemimpin. Tapi sebagai pemimpin yang cerdas seharusnya bisa memperhitungkan seberapa besar peluang mobil Esemka bisa lulus uji kelayakan, tanpa riset teknologi sebelumnya."

    Dan terbukti, beberapa hari kemudian diberitakan bahwa mobil Esemka tidak lulus uji kelayakan. Salah satu poin yang cukup krusial dari hasil uji tersebut adalah kualitas emisi gas buang mobil Esemka berada di atas ambang batas yang ditentukan.

    Saya berharap andaikata Jokowi kemudian terpilih untuk memimpin Jakarta dengan gagasan-gagasan cerdas, terukur dan tetap menjaga spirit "wong cilik" nya sanggup membuat warga Ibukota tercinta menjadi nyaman menggunakan sarana dan prasarana transportasi. Bukan sekedar rasa optimisme berlebihan.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.