« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Salju dan gotong royong

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2012-02-05, 13:49

Akhirnya salju turun di Inggris, dan di London, dan -yang lebih penting lagi- di kampung tempat saya tinggal. Cukup tebal, cukup untuk membuat semua jalanan, halaman, dan atap-atap rumah memutih. Memandang dari jendela kamar pada pagi hari, hampir seluruh cakrawala memutih, indah.


Membersihkan salju di London

Namanya orang Indonesia, maka langkah berikut setelah menikmati pemandangan tadi adalah berkemas baju hangat, sarung tangan, sepatu bot, dan topi. Oh ya, tak lupa menyambar kamera karena saya tidak pernah bosan memfoto salju dan sekaligus berfoto di salju.

Tapi tak semua orang Inggris suka salju. Tentu saja tak sedikit pula orang Inggris yang suka salju, orang dewasa maupun anak-anak. Saya -orang Indonesia- termasuk yang menganggap salju sebagai kesenangan, paling tidak hingga saat ini.

Bukan salju ekstrim
Bisa jadi hubungan saya salju masih sekedar senang-senang karena belum pernah menghadapi badai salju seperti di negara-negara yang lebih ke utara, entah itu kawasan Skandinavia atau Amerika Serikat maupun Kanada.

Salju yang ekstrim jelas memiliki sisi yang amat buruk. Di Eropa daratan, pekan lalu tercatat ribuan orang terperangkap salju dan seratus orang lebih sampai meninggal. Belum lagi angkutan umum yang terhenti. Bagaimana pula dengan orang-orang yang kehabisan pasokan pangan di rumah sementara mobil tak mampu menerobos ketebalan salju

Jadi bisa juga saya pahami tetangga saya, orang Inggris yang lahir dan besar di London, yang bersikap antisalju. Ketika menjelang Natal tahun lalu kami ngobrol, saya berharap salju turun tapi dia malah "wah jangan, jadi repot." Impian saya untuk salju pada malam Natal dan hari Natal -seperti yang disenandungkan White Christmas - tak didukung..


Gotong royong membersikan salju di London, tahun 1947

Sebenarnya saya juga sudah mengalami kerepotan akibat salju. Dua atau tiga tahun lalu, London dilanda salju yang cukup tebal dan hampir semua angkutan umum lumpuh dan banyak yang tidak bisa kerja. Ada kemarahan karena London -salah satu pusat keuangan dunia- mestinya tidak sampai lumpuh hanya karena salju. Kalau badai salju masih mending, tapi lapisan salju belasan sentimeter doang masak sih tak bisa diatasi.

Sisa-sisa gotong royong
Salah satu kerepotan adalah ketika hujan salju sudah berhenti maka tumpukan salju pelan-pelan mengeras sehingga menjadi lapisan es yang amat licin. Banyak orang, termasuk saya, yang pernah terpeleset karena lapisan es. Sakit sudah pasti, dan juga ada malunya. Terpleset di depan banyak orang kan lebih tidak enak.

Nah untuk mencegah supaya lapisan es tidak terbentuk, maka tumpukan salju sebaiknya dibersihkan secepat mungkin. Cukup menggunakan semacam sapu besar maupun sekop dan tidak perlu tenaga banyak karena praktis hanya menggesernya berhubung dasar salju belum melekat di tanah, kaki lima, atau jalan raya.

Itu bedanya saya dan beberapa orang Inggris di kampung saya. Kalau saya langsung main salju, sedang mereka langsung menggeser tumpukan salju dari depan pintu rumahnya sampai ke kaki lima supaya tidak sampai terbentuk lapisan es. Satu jalur yang bersih total dari salju kelihatan mencolok.

Beberapa orang itu bukan cuma sekedar mengurus rumahnya saja. Mereka juga membersihkan jalur di kaki lima depan rumah. Jadi dari depan pintu rumah ada jalur selebar tak sampai satu meter sampai ke kaki lima depan rumah.


Walikota London, Boris Johnson

Hal yang sama dilakukan oleh tetangga lain, membersihkan jalur yang kira-kira sama lebarnya sampai ke batas ujung rumah. Begitulah sambung-menyambung sehingga orang bisa berjalan di jalur kaki lima yang bersih total dari salju -dan lapisan es- hingga ke jalan ima di jalan besar.

Sebagian orang malah sudah punya garam untuk disebar di kaki lima untuk lebih memastikan orang tidak terpleset.

Sayangnya semangat gotong royong itu tak dimiliki lagi oleh semua orang, tapi hanya sebagian. Jadi ada kaki lima yang memiliki jalur bersih dari salju namun begitu sampai satu di bagian rumah jalur itu terhenti dan setelah beberapa rumah, ada lagi jalur yang bersih.

Cilakanya di London tidak ada RT atau RW yang mengorganisir gotong royong tersebut sehingga sepanjang kaki lima ada jalur yang bersih dari salju. Jadi tergantung masing-masing orang.

Waktu dulu masih tinggal di Medan pertengahan 1970-an, saya ingat paling tidak satu kali warga kampung kami melakukan gotong royong: membersihkan parit. Sistemnya sama, masing-masing membersihkan parit di depan rumahnya, dan karena semua melakukannya maka aliran parit jadi lancar.

Maka seusai main salju, saya mengambil sekop untuk membersihkan salju di kaki lima depan rumah saya. Cuma karena sudah diinjak-injak maka salju mulai lengket sehingga kerja saya jadi lebih berat. Dan terasa lebih lelah setelah saya melihat ternyata tak semua orang melakukannya.

Mungkin di zaman modern, gotong royong memang sudah tidak relevan lagi, walau sisa-sisanya masih terlihat. Dan saya yakin itu bukan hanya di Inggris, juga di Indonesia dan di banyak tempat-tempat lain.

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 04:12 tanggal 10 فوریه 2012, syofiaan menulis:

    Tulisan Pak Liston selalu menjadi favorit saya. Saya mengikuti Blog dari London dari dulu. Ringan tetapi menarik, seperti tulisan ini dan tulisan lain.

    Setuju, mungkin gaya hidup konsumtif individualis yang merebak di era modern mengikis rasa kebersamaan. Dulu mungkin orang-orang harus bekerja sama bahkan untuk cari makan.

    Oya, rasanya ingin sekali tinggal di London dan syukur-syukur berkesempatan melihat salju di sana..

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

  • 2. Pukul 08:51 tanggal 11 فوریه 2012, ag paulus menulis:

    Salju asyik.

    Di perumahan tempat saya berdomisili gotong royong juga sudah pudar paska reformasi alasan klasik: malas, cukup iuran bayar Pak Bon (maksudnya tukang kebun RT/RW). Nostalgia masa lalu gotong royong pasti tiap bulan, Siskamling pasti tiap seminggu sekali. Saat ini tak ada lagi, bahkan saat warga anggota RT "kesripahan (salah satu warga meninggal dunia) semangat gotong royong tersebut amat berkurang, tak ada lagi yang mau kerja bakti karena semua sibuk dan sibuk.

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

  • 3. Pukul 14:22 tanggal 12 فوریه 2012, Budi Murjiyanto menulis:

    Orang Indonesia kalau lihat salju pasti senang soalnya di Indonesia tidak ada. Kalau warga London sih, memang mereka sudah bosan dengan hal-hal seperti itu.

    Tapi coba kalo orang London ke Indonesia untuk merasakan hujan abu vulkanik, saya yakin mereka juga akan mengeluarkan kamera untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

    Seperti yang sedang melanda pada saudara-saudara kita di Sulawesi -Gunung Lokon- ataupun gunung-gunung aktif lainnya di Indonesia.

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

  • 4. Pukul 12:27 tanggal 16 فوریه 2012, dobleh yang malang menulis:

    Wah menyennagkan bisa bersahabat dnegan salju.

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

Beri komentar

Anda harus melengkapi nama dan alamat email (alamat email tidak akan ditampilkan)

Komentar dalam blog ini menggunakan moderator

Harus diisi

(Tidak akan ditampilkan)


bbc.co.uk navigation

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.