Kehebohan tradisi akhir tahun
Ketika makan siang bersama dengan rekan-rekan sekantor untuk menyambut Natal -dalam pengertian perayaan sekuler dan bukan keagamaan- seorang rekan melempar gagasan 'ayo gantian bercerita tentang yang baik dan buruk dalam kehidupan sepanjang tahun ini.'

Selain rekan tadi, tak ada yang berminat untuk mengungkap pengalaman pribadi kepada orang-orang yang hubungannya sebatas di kantor. Apalagi bos kami juga ada di meja itu, jelas tak mungkin kalau ada yang mengatakan 'momen paling buruk sepanjang tahun ini adalah ketika saya ditegur bos untuk hal yang justru benar.' Itu cuma misalnya saja, tapi jelas berat rasanya bagi saya kalau mau buka-bukaan perasaan di depan bos.
Tak mendapat tanggapan, rekan tadi melempar ide lain, 'bagaimana kalau secara bergantian cerita tentang resolusi 2012.' Saya tidak setuju tapi diam saja, untunglah seorang rekan menyelutuk, 'resolusi saya tahun depan adalah menang lotere.' Kami semua ketawa lepas, bisa terhindar dari mengungkap harapan pribadi untuk tahun 2012 di depan bos.
Tak menyerah dia keluarkan lagi gagasan untuk main kuis Natal. Yang ini semuanya tidak keberatan. Dan di zaman digital, dia pencet-pencet iPhonenya untuk menemukan paket Natal. Sambil menunggu hidangan tiba, kamipun ikut kuis sekaligus yang tidak ada kaitan dengan peristiwa keagamaan.
Renungan tahunan dan resolusi adalah dua hal yang sering melekat menjelang Natal dan tahun baru di Inggris, yang saya duga diimpor dari budaya Amerika Serikat. Kalau tradisi Inggris asli adalah makan mincepie, yang terbuat dari tepung dengan isi daging cincang walau di zaman moderen diganti dengan buah manis yang dihancurkan.
Tidak selalu menarik
Biasanya saya mendapat dua, tiga atau empat surat renungan tahunan, tapi rasanya tidak pernah lebih dari lima. Dulu dikirim pakai pos surat tapi belakangan ada juga yang pakai email. Isinya beragam, dari liburan sampai karier di kantor ataupun sekedar hubungan pribadi, dari yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Dan jelas isinya tentang si pengirim.
Saya agak repot menerima surat seperti ini. Kalau datang dari rekan dekat, sepertinya pengulangan saja karena mestinya komunikasi berlangsung secara rutin, entah itu lewat email atau SMS. Bagi banyak orang komunikasi bahkan lebih inten lagi dengan menggunakan Facebook atay lewat video Skype.

Kalau dari kenalan yang tidak dekat...wah apa urusannya. Pernah sekali waktu ada surat renungan tahunan dari seorang kenalan jauh yang mungkin mendapat alamat rumah saya dari, sebutlah kawan dari kawannya saya. Tak tahu kenapa pula tiba-tiba nama dan alamat saya muncul di sana, mungkin kira-kira lebih banyak dikirim maka lebih top. Saya mencoba memaksa membaca, tapi jelas tidak semua orang tertarik tentang liburan seseorang, kecuali mungkin kalau liburannya itu terjadi di sebuah tempat yang pas sedang dilanda gempa bumi atau perang atau revolusi. Ada unsur drama.
Saya pernah mencoba mencari tahu sumber dari renungan tahunan ini. Tak jelas, tapi dari menjelajahi internet sepertinya tradisi itu diambil dari khotbah tahunan pemimpin keagamaan Kristen. Memang menutup tahun, khotbah para pendeta biasanya semacam merangkum peristiwa yang baru berlalu sambil mengungkat harapan-harapan di tahun mendatang. Isinya bukan tentang pendeta yang bersangkutan, tapi tentang gereja yang dia pimpin, tentang umatnya, dan juga tentang kehidupan dunia secara umum.
Mungkn tradisi itulah yang sepertinya diambil oleh sejumlah orang dan menyederhanakannya menjadi kisah personal, yang jelas tidak selalu menjadi inspirasi bagi orang lain atau sekedar menarik perhatian semata.

Hidup baru?
Salah seorang teman keluarga -yang selalu kami temui setiap awal tahun- beberapa kali mengatakan resolusi tahun barunya adalah berhenti makan coklat. Dia doyan coklat, jadi itu resolusi yang hebat. Cuma beberapa kali pula dia mengaku resolusi itu dilanggarnya sendiri ketika perayaan Paskah, ketika coklat bertebaran dalam bentuk hadiah Paskah. Tahun lalu, saya ingat dia tidak lagi menyebut resolusi tersebut.
Mungkin orang memang suka berpikir dalam kerangka waktu. Jadi satu periode berjalan dan kemudian berupaya lebih baik untuk perioder berikutnya. Seperti naik-naikan kelas, padahal mungkin antara kelas dua dan kelas tiga SD, sebutlah begitu, tidak terjadi perubahan yang penting. Cuma seiring dengan berjalan waktu, bisa jadi kehidupan menjadi biasa lagi, rutin lagi dan momentum perubahan hilang sudah.
Saya bukan termasuk orang yang punya resolusi tahun baru, dan cuma sekedar siap mendengar resolusi dari orang-orang di sekitar. Karena kadang ada juga yang lucu-lucu dan tidak perlu. Yang sering terdengar belakangan ini biasanya terkait dengan kesehAtan, seperti akan masuk pusat kebugaran atau tidak makan coklat lagi maupun berhenti merokok.
Tak sedikit pula yang seru, misalnya akan lebih banyak menggunakan Twitter -ini orang yang sebutlah mau ikut-ikutan mode tapi malas membuka Twitter setiap hari. Atau resolusinya tidak mau lagi sekedar iya-iya saja, karena kawan saya tersebut amat baik dan kalau diminta tolong pasti iya lebih dulu baru belakangan kecapaian sendiri.
Ada juga yang mengatakan resolusinya adalah menulis surat lebih sering ke ibunya, supaya lebih romantis, katanya tapi kemudian ya lebih sering mengangkat telepon.
Nah Anda sendiri resolusi tahun barunya apa?











