Arsip untuk دسامبر 2011

Kehebohan tradisi akhir tahun

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-12-22, 15:23

Komentar (0)

Ketika makan siang bersama dengan rekan-rekan sekantor untuk menyambut Natal -dalam pengertian perayaan sekuler dan bukan keagamaan- seorang rekan melempar gagasan 'ayo gantian bercerita tentang yang baik dan buruk dalam kehidupan sepanjang tahun ini.'


Produser BBC Indonesia dan BBC Vietnam

Selain rekan tadi, tak ada yang berminat untuk mengungkap pengalaman pribadi kepada orang-orang yang hubungannya sebatas di kantor. Apalagi bos kami juga ada di meja itu, jelas tak mungkin kalau ada yang mengatakan 'momen paling buruk sepanjang tahun ini adalah ketika saya ditegur bos untuk hal yang justru benar.' Itu cuma misalnya saja, tapi jelas berat rasanya bagi saya kalau mau buka-bukaan perasaan di depan bos.

Tak mendapat tanggapan, rekan tadi melempar ide lain, 'bagaimana kalau secara bergantian cerita tentang resolusi 2012.' Saya tidak setuju tapi diam saja, untunglah seorang rekan menyelutuk, 'resolusi saya tahun depan adalah menang lotere.' Kami semua ketawa lepas, bisa terhindar dari mengungkap harapan pribadi untuk tahun 2012 di depan bos.

Tak menyerah dia keluarkan lagi gagasan untuk main kuis Natal. Yang ini semuanya tidak keberatan. Dan di zaman digital, dia pencet-pencet iPhonenya untuk menemukan paket Natal. Sambil menunggu hidangan tiba, kamipun ikut kuis sekaligus yang tidak ada kaitan dengan peristiwa keagamaan.

Renungan tahunan dan resolusi adalah dua hal yang sering melekat menjelang Natal dan tahun baru di Inggris, yang saya duga diimpor dari budaya Amerika Serikat. Kalau tradisi Inggris asli adalah makan mincepie, yang terbuat dari tepung dengan isi daging cincang walau di zaman moderen diganti dengan buah manis yang dihancurkan.

Tidak selalu menarik

Biasanya saya mendapat dua, tiga atau empat surat renungan tahunan, tapi rasanya tidak pernah lebih dari lima. Dulu dikirim pakai pos surat tapi belakangan ada juga yang pakai email. Isinya beragam, dari liburan sampai karier di kantor ataupun sekedar hubungan pribadi, dari yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Dan jelas isinya tentang si pengirim.

Saya agak repot menerima surat seperti ini. Kalau datang dari rekan dekat, sepertinya pengulangan saja karena mestinya komunikasi berlangsung secara rutin, entah itu lewat email atau SMS. Bagi banyak orang komunikasi bahkan lebih inten lagi dengan menggunakan Facebook atay lewat video Skype.


Perayaan natal

Kalau dari kenalan yang tidak dekat...wah apa urusannya. Pernah sekali waktu ada surat renungan tahunan dari seorang kenalan jauh yang mungkin mendapat alamat rumah saya dari, sebutlah kawan dari kawannya saya. Tak tahu kenapa pula tiba-tiba nama dan alamat saya muncul di sana, mungkin kira-kira lebih banyak dikirim maka lebih top. Saya mencoba memaksa membaca, tapi jelas tidak semua orang tertarik tentang liburan seseorang, kecuali mungkin kalau liburannya itu terjadi di sebuah tempat yang pas sedang dilanda gempa bumi atau perang atau revolusi. Ada unsur drama.

Saya pernah mencoba mencari tahu sumber dari renungan tahunan ini. Tak jelas, tapi dari menjelajahi internet sepertinya tradisi itu diambil dari khotbah tahunan pemimpin keagamaan Kristen. Memang menutup tahun, khotbah para pendeta biasanya semacam merangkum peristiwa yang baru berlalu sambil mengungkat harapan-harapan di tahun mendatang. Isinya bukan tentang pendeta yang bersangkutan, tapi tentang gereja yang dia pimpin, tentang umatnya, dan juga tentang kehidupan dunia secara umum.

Mungkn tradisi itulah yang sepertinya diambil oleh sejumlah orang dan menyederhanakannya menjadi kisah personal, yang jelas tidak selalu menjadi inspirasi bagi orang lain atau sekedar menarik perhatian semata.


Perayaan natal

Hidup baru?

Salah seorang teman keluarga -yang selalu kami temui setiap awal tahun- beberapa kali mengatakan resolusi tahun barunya adalah berhenti makan coklat. Dia doyan coklat, jadi itu resolusi yang hebat. Cuma beberapa kali pula dia mengaku resolusi itu dilanggarnya sendiri ketika perayaan Paskah, ketika coklat bertebaran dalam bentuk hadiah Paskah. Tahun lalu, saya ingat dia tidak lagi menyebut resolusi tersebut.

Mungkin orang memang suka berpikir dalam kerangka waktu. Jadi satu periode berjalan dan kemudian berupaya lebih baik untuk perioder berikutnya. Seperti naik-naikan kelas, padahal mungkin antara kelas dua dan kelas tiga SD, sebutlah begitu, tidak terjadi perubahan yang penting. Cuma seiring dengan berjalan waktu, bisa jadi kehidupan menjadi biasa lagi, rutin lagi dan momentum perubahan hilang sudah.

Saya bukan termasuk orang yang punya resolusi tahun baru, dan cuma sekedar siap mendengar resolusi dari orang-orang di sekitar. Karena kadang ada juga yang lucu-lucu dan tidak perlu. Yang sering terdengar belakangan ini biasanya terkait dengan kesehAtan, seperti akan masuk pusat kebugaran atau tidak makan coklat lagi maupun berhenti merokok.

Tak sedikit pula yang seru, misalnya akan lebih banyak menggunakan Twitter -ini orang yang sebutlah mau ikut-ikutan mode tapi malas membuka Twitter setiap hari. Atau resolusinya tidak mau lagi sekedar iya-iya saja, karena kawan saya tersebut amat baik dan kalau diminta tolong pasti iya lebih dulu baru belakangan kecapaian sendiri.

Ada juga yang mengatakan resolusinya adalah menulis surat lebih sering ke ibunya, supaya lebih romantis, katanya tapi kemudian ya lebih sering mengangkat telepon.

Nah Anda sendiri resolusi tahun barunya apa?

Dari kabel hinga karya seni

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-12-22, 7:47

Komentar (1)

Sepasang patung perunggu berjudul Two Forms atau Dua Bentuk dicuri dari Taman Dulwich di London Tenggara. Patung itu karya seniman Inggris Barbara Hepworth, dirancang tahun 1969 dan sudah menjadi bagian dari Taman Dulwich sejak tahun 1970.


Patung Barbara Hepworth di Taman Dulwich, London

Bentuknya dua lonjong kembar dengan ukuran lubang yang berbeda di tengah jadi tidak terlalu simetris dan mungkin karena itulah disebut dua bentuk. Selasa pagi, 20 Desember, penjaga taman tinggal melihat dasar patung saja. Kedua keping patung sudah lenyap dibongkar maling pada malam, ketika udara musim dingin di Inggris mulai menusuk ke tulang. Pencurinya jelas bukan orang iseng.

Patung itu diasuransikan dengan nilai £500.000, jadi secara ekonomis mungkin Dewan Kota Southwark tidak rugi total walau jelas tetap lebih suka jika patung itu bisa dikembalikan. Dia sudah menjadi bagian dari karakter taman.

Tawaran hadiah £1.000 atau sekitar Rp14 juta bagi orang yang bisa memberi informasi yang mengarah kepada pencurinya dan keberadaan patung sudah diumumkan.

Tapi kecil kemungkinan patung itu bisa ditemukan kembali secara utuh.

Pencurian logam

Pencurian barang seni jelas bukan jenis kejahatan baru. Bahkan lukisan paling terkenal di dunia, Mona Lisa karya Leonardo da Vinci, pernah dicuri pada tahun 1911 dari Museum Louvre, Prancis, museum kelas dunia dengan prosedur keamanan yang ketat, masih bisa juga dibobol maling. Dua tahun kemudian Mona Lisa berhasil ditemukan ketika pencurinya sedang berupaya menjualnya, sebagai karya seni.


Kabel dari logam

Patung perunggu Two Forms karya Barbara Hepworth jelas dijual pencurinya ke pihak ketiga, tapi kemungkinan besar bukan lagi sebagai barang seni tapi sebagai materi semata.

Dalam bentuk dua onggok logam nilainya jelas jauh di bawah harga barang seni karya Barbara Hepworth. Tahun lalu, misalnya, sebuah karya Hepworth terjual hampir £450.000 di balai lelang Sotheby, London. Jelas tak akan ada yang membeli dua potong perunggu dengan nilai ratusan ribu pound sterling biarpun harga logam di dunia
sedang meroket naik.

Pencurian karya seni logam tersebut terjadi hanya sehari setelah Kepolisian London membentuk unit khusus untuk menangani pencurian logam di Inggris. Diperkirakan kerugian akibat jenis kejahatan tersebut mencapai £700 juta per tahun.

Penyebabnya adalah naiknya harga logam di pasar dunia. Dipadukan dengan kesulitan ekonomi yang memukul warga Inggris, maraklah peningkatan pencurian barang-barang logam -dalam bentuk apapun- untuk dilebur dan dijual sebagai bahan baku logam.

Disebut dalam bentuk apapun karena para pencuri logam tidak pandang bulu. Tugu peringatan yang terbuat dari logam juga disikat pencuri, apalagi tanda-tanda jalan. Bahkan rel kereta api maupun kabel listrik di jalur kereta api atau kabel telepon. Yang jelas ada unsur logamnya dan bisa dilebur.

Tukang loak

Laporan investigasi BBC yang diungkapkan pekan lalu menemukan betapa mudahnya menjual logam curian ke perusahaan pengumpul barang loak. Tak ada pencatatan, tak ada pertanyaan soal identitas si penjual -atau pencuri- dan pembayaran langsung dengan uang tunai.


logam

Sama seperti tukang loak yang sering jadi langganan keluarga kami di Medan dulu. Ada barang, timbang kilonya, dan langsung bayar. Penjual dan pembeli sama-sama untung. Tahun 1998, ketika terjadi kerusuhan di Jakarta menjelang jatuhnya mendiang Presiden Suharto, banyak orang yang memilih diam di rumah. Tapi ada laporan-laporan sekelompok orang dengan truk malah lalu lalang mengumpulkan besi-besi bekas kerusuhan.

Sebelas tahun kemudian, pertengahan tahun 2009, jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura diresmikan dan semingu kemudian beberapa mur di pagar besi jembatan sudah hilang dicuri.

Bahkan ketika sedang dalam proses pembangunan, sudah terjadi pencurian. Sebulan setelah dibuka untuk umum, polisi berhasil menangkap komplotan pencuri besi-besi yang tadinya akan digunakan untuk proyek Suramadu dan menyita tiga ton besi.

Tentu saya tidak bisa memastikan apakah para pencuri besi di Inggris pada tahun 2011 belajar dari Indonesia atau tidak. Cuma kelak jika ada teman orang Inggris yang membahas soal curi-mencuri besi, saya bisalah mengatakan 'di negara kami sudah duluan.'

Jelas tanpa rasa bangga, cuma sekedar kenyataan saja.

Keluarga bermasalah di Inggris

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-12-16, 10:45

Komentar (4)

Pemerintah Inggris ingin membina keluarga bermasalah. Untuk program pembinaan itu, Perdana Menteri David Cameron menyediakan anggaran sebesar £448 juta, seperti diumumkannya Kamis 15 Desember. Targetnya? Kehidupan keluarga bermasalah tadi akan pulih kembali, atau...ya tidak bermasalah lagi.


David Cameron

Tapi apa definisi keluarga bermasalah?

Jelas bukan yang anaknya ikut aliran punk dengan rambut tajam-tajam yang ditangkap polisi di Banda Aceh. Jelas pula pembinaan bukan dengan cara dibotakin dan dimasukkan ke sekolah polisi.

Definisi di Inggris amat berbeda. Urusan rambut dan selera musik adalah hak pribadi seseorang, kecuali pasang musik keras-keras tengah malam sampai kedengaran ke tetangga.

Ketika mengganggu orang secara langsung, barulah masuk dalam kategori perilaku antisosial dan urusannya bukan lagi sekedar individu tapi sudah melibatkan kelembagaan negara untuk menyelesaikanya.

Tujuh patokan
Ada tujuh patokan yang dijadikan dasar dalam menentukan sebuah keluarga bermasalah atau biasa-biasa saja. Yang pertama adalah jika tak satupun angota keluarga -termasuk ayah dan ibu- yang tidak bekerja. Mereka semata-mata menggantungkan diri pada tunjangan sosial.

Kemudian tak satupun anggota keluarga memiliki kualifikasi pendidikan maupun ketrampilan dan mereka hidup dalam kondisi perumahan yang padat.


Kerusuhan London

Patokan lainnya adalah jika ibu -yang di Inggris sekalipun masih juga dianggap sebagai pengurus utama rumah tangga- menderita gangguan mental, atau salah satu dari orangtua menderita penyakit kronis.

Termasuk juga dalam patokan itu adalah jika pendapatan keluarga amat rendah jika memang ada anggota keluarga yang bekerja. Terakhir adalah jika mereka tidak mampu membeli kebutuhan pangan dan sandang.

Jika lima dari tujuh patokan itu dipenuhi, maka keluarga tersebut masuk dalam yang bermasalah dan menjadi sasaran dari program pembinaan yang diluncurkan David Cameron. Jumlah di Inggris adalah 120.000 keluarga bermasalah.

Untuk mengatasi masalah keluarga bermasalah itu, akan dikerahkan sejumlah pekerja sosial yang mengidentifikasi masalah yang dihadapi masing-masing keluarga bermasalah tadi. Para pekerja sosial juga akan memastikan mereka mendapatkan layanan yang diperlukan dan menjamin ada tindakan yang diambil untuk memulihkan keluarga tadi. Jaringan pekerja sosial itu disebut Tim Keluarga Bermasalah.

Pembinaan 120.000 keluarga itu jelas pekerjaan yang sulit. Apalagi ada kecenderungan anggota keluarga bermasalah sering terlibat dalam perilaku antisosial. Pemerintah juga menemukan banyak anak-anak dari keluarga bermasalah yang sering bolos sekolah.

Aspek ekonomi
Ibaratnya, mengurus keluarga yang biasa-biasa saja sudah sulit, apalagi keluarga bermasalah.


london

Bagaimanapun jika berhasil, banyak manfaatnya. Bukan cuma secara moral atau secara sosial saja. Juga ada keuntungan secara ekonomis. Ketika berlangsung kerusuhan di Inggris awal Agustus, sejumlah pertokoan maupun mobil dibakar atau dirusak.

Orang beramai-ramai menjarah toko. Sebuah lembaga, Centre for Retail Research, memperkirakan kerugian mencapai £80 juta karena banyak usaha yang tutup. Sedangkan kerugian akibat penjarahan dan kerusakan diperkirakan mencapai £61 juta.

Asumsi pemerintahan Cameron adalah kerusuhan menjadi membesar karena keluarga-keluarga bermasalah. Para orangtua tidak bisa mengendalikan anak-anaknya untuk tidak ikut meramaikan kerusuhan dan penjarahan. Apalagi jika orangtuanya yang ikut menjarah langsung.

Tanpa kasus kerusuhan London sekalipun, pemerintah punya perkiraan kerugian akibat perilaku dari keluarga-keluarga bermasalah tadi. Saat mengumumkan prakarsa ini, David Cameron menyampaikan angka bahwa setiap tahunnya keluarga bermasalah di Inggris menghabiskan dana sampai £9 miliar -atau sekitar Rp126 triliun.

Dana itu antara lain untuk membayar tunjangan sosial, biaya pengobatan, maupun ongkos memperbaiki kerusakan dari perilaku antisosial.

Pada zaman ekonomi baik saja jumlah £9 miliar besar artinya, buat Inggris sekalipun. Apalagi ketika krisis ekonomi sedang menghantam negara-negara Eropa. Melihat angka itu, maka anggaran untuk keluarga bermasalah yang hampir mencapai £450 juta tidak ada apa-apanya: cuma seperduapuluhnya.

Dalam kasus di razia remaja punk di Banda Aceh, saya yakin urusannya moral semata, tepatnya moralitas yang didasarkan persepsi sepihak. Saya tak terlalu paham keuntungan ekonomi dari razia remaja punk yang cuma nonton musik. Kalaupun musiknya terlalu keras dan mengganggu penduduk sekitar, pentas musiknya yang harus dihentikan.

Saya juga tidak paham dimana buruknya moralitas dari seorang penggemar musik punk jika sekedar dilihat dari penampilannya semata. Jelas saya akan berkomentar sinis: 'banyak gaya!'' dan hanya berhenti di situ.

Angry Britain: masyarakat Inggris makin mudah marah?

Mohamad Susilo | 2011-12-08, 10:29

Komentar (2)

Emma West harus berurusan dengan polisi dan pengadilan setelah marah-marah di kereta yang ia naiki di London selatan akhir November lalu.

Kemarahan Nyonya West terekam kamera dan ditaruh di YouTube.

Tidak jelas bagaimana insiden ini berawal, yang pasti ia terekam mengeluarkan kata-kata kotor dan rasis. Dari rekaman video yang diunggah di YouTube, Nyonya West sepertinya sangat kecewa dan marah dengan kondisi Inggris saat ini.

Ia menyebut Inggris semakin banyak didatangi orang-orang asing, terutama dari Karibia, Afrika, dan Eropa timur. "Kembali ke negara asal kalian. Jangan datang ke Inggris. Inggris sekarang miskin," kata West.

Ketika kasus ini makin ramai dibicarakan, muncul dua video lain dengan muatan kurang lebih sama, kemarahan seorang warga yang ditujukan kepada warga lain.

Ada beberapa contoh lain, seperti pernyataan pembawa acara Top Gears Jeremy Clarkson, komedian papan atas Ricky Gervais, dan kapten Chelsea John Terry Terry, yang membuat kolumnis harian The Guardian, Hugh Muir, mengambil kesimpulan bahwa warga Inggris sekarang makin mudah marah dan makin tidak toleran.

Clarkson dipaksa meminta maaf setelah mengatakan orang-orang yang berunjuk rasa menentang kebijakan pemangkasan anggaran pemerintah, sebaiknya ditembak saja. Gervais menggunakan persoalan yang dihadapi para penyandang down syndrome sebagai bahan lawakan, sementara Terry dituduh mengeluarkan kata-kata rasis ke Anton Ferdinand, pemain bola dan adik poros halang Manchester United, Rio Ferdinand.

Muir juga menyoal kasus-kasus intimidasi di sekolah dan luapan kemarahan yang sering ditumpahkan para pemakain jalan.

Faktor ekonomi

Mengapa masyarakat Inggris sekarang mudah marah?

Terry dituduh mengeluarkan kata-kata rasis ke Ferdinand.

Para pengamat menyebut beberapa alasan. Yang pertama faktor ekonomi. Dalam satu dekade ke belakang Inggris menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Situasi ini berubah dalam beberapa bulan terakhir. PHK di mana-mana sementara yang masih memiliki pekerjaan menghadapi kenyataan pahit tidak ada kenaikan gaji atau malah gaji dipotong.

Tunjangan sosial dipangkas. Tidak heran kalau masyarakat kesal dan marah. Kalau seseorang sedang marah, ia bisa melakukan tindakan yang tidak patut, seperti Emma West.

Cary Cooper, guru besar di Universitas Lancaster, berpendapat saat ini sedang terjadi frustrasi massal di dalam masyarakat Inggris. Masa-masa sulit memicu kekhawatiran dan rasa tidak nyaman. Dalam banyak hal, kata Cooper, kekesalahan dan kemarahan yang dirasakan masyarakat tidak bisa diarahkan kepada pemerintah, politisi, ekonom, atau bankir. Akhirnya kekesalan tersebut diletupkan kepada anggota masyarakat lain.

Namun tidak semua orang setuju dengan narasi yang disampaikan Hugh Muir.

Kasuistik

Masih di koran The Guardian, peneliti dan penulis blog Martin Robins mengatakan bukti-bukti Muir kasuistik.

Pengunjuk rasa antipemerintah ditembak saja, kata Clarkson.

Robins mengatakan Inggris jauh lebih baik dari beberapa dekade lalu. Sebagian besar warga makin sehat, antara lain berkat badan layanan kesehatan yang ia sebut salah satu yang terbaik di dunia. Jadi masyarakat Inggris sekedar tidak puas saja meski di masa lalu mencetak tokoh dunia seperti Shakespeare, Newton, dan Darwin. Ratusan atau puluhan tahun berlalu, para ilmuwan Inggris masih sangat disegani di bidang sains, kesusteraan, dan seni.

Dunia bisa menikmati internet, juga atas kerja dari ilmuwan Inggris. iPod, iPhone, dan iPad didesain oleh Jonathan Ive, seorang warga Inggris yang bekerja untuk Apple.

Angka kejahatan rendah dan tidak ada ancaman perang di Inggris, kata Robins. Ia mengakui ada masalah dan kesulitan namun jangan sampai persoalan yang ada membuat masyarakat menutup mata atas banyak keberhasilan lain.

Tulisan Robins ditutup dengan kalimat: jauh lebih banyak hal-hal positif yang ditemukan di dalam masyarakat Inggris, lantas mengapa masyarakat dipaksa untuk mempercayai argumen yang sebaliknya?

Saya, kalau Anda bertanya, setuju dengan pandangan Robins.

Sisa jejak Gaddafi di Inggris

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-12-01, 12:36

Komentar (1)

Satu bulan lebih setelah Kolonel Muammar Gaddafi tewas dan sekitar dua minggu setelah putranya, Saif al-Islam Gaddafi, ditangkap, orang Inggris masih disibukkan dengan masalah yang ditimbulkan keluarga Gaddafi, ketika mereka masih berkuasa.


Saif al-Islam

Dalam laporannya yang diumumkan Rabu 30 November, Lord Woolf menyimpulkan London School of Economics atau LSE -salah satu universitas terkemuka di Inggris- melakukan kesalahan saat membina hubungan dengan rezim Gaddafi.

Penyelidikan Lord Woolf dilakukan ketika ditemukan bahwa LSE menerima bantuan dana sebesar £1,5 juta atau sekitar Rp15 miliar lebih dari yayasan milik Saif al-Islam Gaddafi. Sumbangan itu sepertinya tak banyak diributkan orang ketika Kolonel Gaddafi masih berkuasa.

Tapi begitu Gaddafi mulai digoyang, maka sumbangan itu pun ikut digoyang.

Dan Maret 2011, Direktur LSE, Sir Howard Davies, sampai mengundurkan diri karena citra LSE tercoreng akibat sumbangan tersebut, yang sebenarnya baru dicairkan sekitar seperlimanya saja dan langsung dihentikan. Namun mungkin bisalah susu sebelanga sudah rusak karena nila setitik, karena dalam hampir semua peliputan tentang Saif al-Islam di media Inggris, maka nama LSE ikut disebut.

Bayangkan jika Saif diadili dengan dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan judul berita bisa saja menjadi "penyumbang LSE didakwa dengan kejahatan hak asasi" atau "Alumnus LSE didakwa....

Ditolak Oxford

Soalnya Saif al-Islam bukan hanya menyumbang tapi juga menyelesaikan studi S3 di LSE dan tahun 2009 mendapat gelar PhD alias Doktor dengan tesis berjudul 'Peran Masyarakat Sipil dalam Demokratisasi Lembaga Pemerintah Global.'


Saif al-Islam

Lebih parah lagi -paling tidak menurut saya- Saif mendapat kesempatan memberikan kuliah umum di LSE pada Mei 2010 dengan judul 'Libya, masa lalu, sekarang, dan masa depan." Berita tentang kuliah umum itu -yang terjadi ketika Saif dan ayahnya masih berjaya - tidak membuat heboh dan juga tak jelas berapa banyak yang hadir mendengarkannya.

Sebenarnya LSE punya peluang untuk menjaga jarak dengan Saif atau rezim pemerintah Gaddafi yang kejam, tapi mungkin tidak berpikir panjang atau bisa jadi sekedar bersikap lugu saja. Siapa yang menyangka Kolonel Muammar Gaddafi akan digulingkan -dan tragisnya- dibunuh oleh rakyatnya sendiri.

Yang jelas Universitas Oxford -yang bersama Universitas Cambridge menjadi simbol pendidikan tinggi di Inggris- berani menolak Saif al-Islam. Laporan Lord Woolf mengungkapan bahwa seorang pejabat Kementrian Luar Negeri Inggris meminta Oxford agar menerima Saif al-Islam sebagai mahasiswanya pada tahun 2002.

Waktu itu pemerintahan Tony Blair sedang berupaya meningkatkan hubungan diplomatik dengan Libia dan Profesor Valpy Ftizgerald -yang menjabat ketua Departemen Pembangunan Internasional di Universitas Oxford- secara langsung diminta agar menerima Saif al-Islam menjadi mahasiswa.

Alasan penerimaan itu adalah "bagian dari proyek yang lebih besar untuk membawa rezim Gaddafi ke luar dari kebekuan diplomasi." Begitulah bahasanya. Walau Oxford menolak tetap saja yang dimaksud sebagai 'proyek yang lebih besar' itu jalan karena dua tahun kemudian Tony Blair sudah bermesraan dengan mendiang Muammar Gaddafi dan hubungan diplomatik Inggris dengan Liba pulih kembali.

Universitas Indonesia

Di Indonesia ada kasus yang agak mirip dengan kasus LSE dan Saif al-Islam. Mungkin Anda masih ingat ketika akhir Agustus 2011, Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, terbang langsung ke Arab Saudi untuk memberi gelar doktor kehormatan kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz al-Saud.

Pemberian gelar itu memicu protes, bukan hanya dari kalangan Universitas Indonesia yang berpendapat Raja Saudi berhak mendapat gelar dengan pertimbangan kehormatan.


LSE

Dan menurut sejumlah anggota Dewan Guru Besar UI, tak ada konsultasi untuk keputusan itu. Bagaimanapun Rektor UI difoto oleh arabnews.com menunduk memberi gelar doktor kehormatan dengan pertimbangan mempromosikan pengajaran Islam yang moderat, mendukung perjuangan Palestina dan memulai perdebatan antar agama.

Saya bukan alumnus Universitas Indonesia tapi ikut juga terhenyak ketika sebuah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia -menurut saya- sedikit memelintir ukuran-ukurannya karena mendapat sumbangan untuk pembangunan masjid di kampus UI sebesar Rp13 miliar dari pemerintah Arab Saudi.

Waktu itu sempat muncul seruan agar Rektor Gumilar Rusliwa Somantri mengundurkan diri, namun sepertinya mundur dari jabatan bukan tradisi di Indonesia dan mungkin pelan-pelan orang lupa lagi dan kehidupan berjalan seperti biasa.

Cuma bisa jadi kasus itu terangkat kembali kalau tiba-tiba Raja Abdullah nanti digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Gerakan yang disebut musim semi Arab -yang berawal dari unjuk rasa di Tunisia- sudah berhasil menggulingkan sejumlah pemerintah otoriter di Timur Tengah, termasuk Muammar Gaddafi.

Tapi itu hanya 'cuma' karena saya yakin Raja Abdullah yang memiliki akses cadangan minyak besar dan merupakan sekutu Amerika Serikat akan aman-aman saja.

bbc.co.uk navigation

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.