Ketika Assange memercik air di dunia
Julian Assange, pendiri Wikileaks -situs pembocor dokumen rahasia- kalah dalam banding ekstradisinya di Pengadilan Tinggi Inggris.

Dia pun terancam diekstradisi ke Swedia, yang memburunya karena dakwaan pelecehan seksual dan pemerkosaan, yang menurutnya bermotif politik. Namun dia memutuskan banding ke Mahkamah Agung, jadi masih punya waktu hingga sekitar Maret atau April tahun depan untuk tinggal di Inggris, di sebuah kastil milik Vaughan Smith, seorang kaya di Inggris yang bersimpati padanya.
Salah seorang ahli hukum ekstradisi di Inggris, Karen Tooner, memperkirakan sulit bagi Assange untuk lolos dari Surat Penangkapan Eropa yang dikeluarkan oleh kejaksaan Swedia. Tidak berarti kalau Karen menganut teori konspirasi, tapi -seperti dikutip koran The Independent- dia mengatakan pengalamannya adalah pencegahan ekstradisi di Eropa hanya dilakukan jika ada kemungkinan tersangka mendapat penyiksaan di negara tujuan ekstradisi.
Negara-negara anggota Uni Eropa memang cenderung untuk menyerahkan proses hukum ke negara yang bersangkutan. Itulah asumsi yang agaknya dipegang Pengadilan Tinggi Inggris, bahwa dakwaan atas Julian Assange sebaiknya diuji oleh pengadilan Swedia.
Teori konspirasi?
Bagaimanapun kalau Anda suka teori konspirasi, tentu akan lain melihatnya.
Beberapa waktu lalu sejumlah lembaga keuangan Inggris mengambil langkah memboikot Wikileaks. Mereka -antara lain Bank of America, Visa, Mastercard, dan Paypal- tidak akan memproses pembayaran apa pun yang ditujukan untuk Wikileaks.

Kenapa mereka memblok dana ke Wikileaks? Tidak ada rincian dari pernyataan lembaga keuangan global tersebut. Di sinipun Anda bisa saja mereka-reka sendiri, mungkin disuruh oleh pemerintah Amerika Serikat karena sebagian besar bermarkas di Amerika Serikat.
Tapi juga bisa saja mereka melakukan serangan lebih dulu. Kalau Wikileaks sejauh ini lebih banyak membongkar dokumen rahasia pemerintah, tak ada jaminan kalau lembaga keuangan swasta juga bersih dari dokumen-dokumen yang bisa mencoreng muka atau bahkan yang bisa membawa lembaga keuangan itu ke pengadilan.
Ingat kasus di Indonesia yang menimpa Citibank karena tewasnya salah seorang nasabah akibat perilaku para penagih hutang? Coba bayangkan seandainya ada dokumen resmi yang memperlihatkan bahwa para penagih hutang mendapat wewenang apapun selama tunggakan utang dilunaskan.
Jadi sebelum kena pukul ya lebih baik pukul dulu.
Apapun, itu semua cuma didasarkan pada teori konspirasi atau sekedar spekulasi.
Mempermalukan AS
Yang jelas pemerintah Amerika Serikat marah besar dengan bocornya dokumen rahasia maupun komunikasi lewat kawat diplomatik di Wikileaks.

Situs yang didirikan Assange inilah yang, misalnya, mengungkap kebohongan pemerintah AS bahwa tahanan Guantanamo sebenarnya tak punya akses untuk Palang Merah Internasional. Dan bocoran tentang kebijakan dan perilaku pemerintah AS -tak sedikit yang melanggar standar hak asasi maupun yang tak sesuai dengan pernyataan resminya- tidak tanggung-tanggung. Wikileaks memuat 76.900 dokumen tentang perang di Afghanistan dan hampir 400.000 dokumen tentang perang Irak.
Jelas bukan hanya dokumen pemerintah AS saja yang dibocorkan Wikileaks, tapi negara adi daya itu yang paling berang. Dan muncul tuduhan Assange melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan.
Ketika Assange ditangkap di London awal Desember tahun lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, tidak malu-malu menyambut baik penahanannya.
Sementara tentara yang diduga membocorkan rahasia kepada Wikileaks, sempat ditahan dalam sel isolasi khusus dan -menurut pengacaranya- diteror dengan cara diinterogasi setiap lima menit.
'Pertarungan' sebenarnya masih berlangsung karena Assange menegaskan akan memusatkan perhatian untuk menggalang dana sambil menghentikan sementara penerbitan dokumen rahasia.
Saya berharap Wikileaks menang, ya maksudnya tetap bertahan. Bukan karena saya penggemar Wikileaks karena memang tidak berkunjung ke situs itu secara rutin. Tapi -tidak dalam pemikiran- di dunia yang rasanya semakin mengandalkan uang dan kekuasaan, amat diperlukan penyeimbang, antara lain Wikileaks.
Cuma, kalau kita memercik air, banyak orang yang marah.
KomentarBeri komentar
Ini memang permainan AS. Tapi yang salah AS sendiri, mereka yang berbuat, mereka juga yang bertanggung jawab. Sepandai-pandainya menutupi bangkai, baunya akhrinya tercium juga
Keluhan atas komentar ini
Kadang kita sering lupa apa yang kita larang, ternyata kita lakukan sendiri dan kalau diingatkan atau dikritik kita akan cari pembenaran dan membungkam informasi/pengkritik ataupun yang lainnya, yang tidak sejalan dengan kemauan kita. Inilah yang terjadi dengan pemerintahan AS dan yang lainnya. Politisi Malaysia Anwar Ibrahim dua kali dijerat dengan pasal pelecehan seksual yang tidak tanggung-tanggung, dengan sesama jenis untuk membungkamnya. Inipun terjadi pada Julian Assange. Tapi saya yakin akan muncul Assange yang lainnya.
Keluhan atas komentar ini