Arsip untuk نوامبر 2011

Guru mogok, orang tua sibuk

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-11-25, 14:40

Komentar (0)

"Rabu pekan depan libur sekolah Pak," kata putri saya yang duduk di kelas dua SMP menyambut saya pulang kantor. Wajahnya riang, senyumnya lepas.

Berita tentang tiga serikat guru yang mencapai kesepakatan dengan para anggotanya untuk melakukan aksi mogok sudah dilaporkan berbagai media di Inggris. Rupanya di sekolah putri saya itu banyak guru yang jadi anggota dari ketiga serikat guru tersebut.

Murid sekolah di Inggris

Aksi mogok guru yang membuat sekolah tutup sudah sering terjadi di Inggris, apalagi ketika perekonomian Inggris sedang melesu. Pemotongan anggaran terjadi di semua sektor layanan umum, termasuk pendidikan.


Bulan Juni lalu, misalnya, aksi mogok para guru menyebabkan sepertiga sekolah di Inggris tutup total, sepertiga lagi harus menutup beberapa kelas, dan hanya sepertiga yang beroperasi seperti biasa. Waktu itu mogok juga dilakukan oleh berbagai sektor layanan umum Inggris.

Mogok Rabu 30 November diperkirakan akan lebih besar dampaknya karena sekaligus dilaksanakan oleh tiga serikat guru. Departemen Pendidikan Inggris masih mengumpulkan informasi seberapa banyak sekolah yang harus tutup total karena aksi mogok kali ini.

Masalah pensiun
Penyebabnya adalah perubahan sistem pensiun yang dianggap merugikan para guru dan juga pekerja sektor layanan umum lain. Salah satunya adalah meningkatkan usia pensiun sampai 68 tahun, yang artinya mereka harus bekerja ekstra tiga tahun lagi.

Selain itu ada juga tambahan sumbangan pensiun bulanan yang harus dikeluarkan para guru. Dengan sistem baru yang diusulkan pemerintah, maka sumbangan pensiun para guru naik menjadi 9,5% dari total gajinya, atau kenaikan sekitar 1,5%. Dengan harga kebutuhan sehari-hari yang sudah naik -bensin, listrik, gas, maupun bahan pangan- para guru jelas menentang kenaikan sumbangan pensiun.


Murid sekolah

Celakanya pemerintah juga sedang tidak punya dana untuk mendukung pensiun seperti yang selama ini.

Hari Jumat 25 November, Menteri Pendidikan, Michael Gove sudah mengatakan bahwa pemerintah siap berunding kembali namun menegaskan tidak ada 'pundi emas' yang bisa meningkatkan tawaran pemerintah secara drastis dalam kesepakatan pensiun.

Dan salah satu serikat buruh guru sudah langsung menanggapi bahwa tawaran itu terlalu kecil dan sudah terlalu lambat. Aksi mogok akan tetap jalan.

Masalah orang tua
Mogok nasional pada 30 November bukan hanya dilaksanakan para guru, juga pekerja layanan umum lain. Tapi yang langsung menyentuh kehidupan sehari-sehari saya, ya kalau pak dan bu guru mogok, karena sektor angkutan umum dan kesehatan tidak ikut.

Sedang bagi orang asing yang tiba di Bandara Heathrow pada hari pemogokan, bersiaplah menderita lebih panjang. Banyak petugas imigrasi yang mogok dan diperkirakan antrian untuk pemeriksaan imigrasi bisa mencapai 12 jam. Yang mau berangkat dari Heathrow kemungkinan besar akan mengalami penundaan.

Karena tidak punya rencana bepergian, mogok guru yang langsung masuk ke dalam radar kehidupan.

Sebagai sesama pekerja biasa, ada solidaritas kepada para guru. Saya dan mereka jelas bukan para direktur lembaga keuangan atau bank yang 'tamak dan egois' -begitulah menurut para pengunjuk rasa antikapitalis di New York dan beberapa kota dunia lain. Mereka seenaknya berspekulasi di pasar uang dengan menggunakan uang nasabah dan mendapat bonus jutaan Pound Sterling. Ketika spekulasinya salah total sampai membuat bangkrut, mereka malah mendapat bantuan dana dari pemerintah sambil tetap menikmati bonus raksasa.


london, sekolah, mogok

Mungkin itulah sebabnya saya tidak berani langsung memvonis para guru yang mogok dengan kesimpulan tidak bertanggung jawab dan menelantarkan para muridnya.

Selain semangat solidaritas, saya juga harus mengakui kalau tambahan libur sehari atau dua hari setahun karena aksi mogok guru jelas tidak akan mempengaruhi langsung proses pendidikan. Toh belajar di rumah juga bisa, kalau memang mau.

Bagaimanapun jelas banyak orang tua yang kesal, khususnya pasangan yang bekerja penuh waktu dan masih memiliki anak kecil yang belum bisa ditinggal sendirian di rumah. Libur sekolah di luar jadwal yang sudah ditentukan membuat mereka akan pusing mencari penitipan anak. Dan banyak karyawan yang terpaksa mengambil cuti sehari.

Syukurlah istri saya tidak bekerja penuh waktu, dan putri saya juga sudah sering ditinggal sendiri selama beberapa jam. Jadi pada satu sisi saya mendukung aksi mogok para guru dan pada sisi lain bersimpati kepada sesama orang tua yang masih harus sibuk mencari penitipan anak atau meminta cuti sehari mendadak ke atasannya.

Lantas siapa yang disalahkan? Pemerintah, kalau saya yang menjawab, karena mereka gagal menjamin kesejahteraan warganya.

Delapan belas tahun kemudian

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-11-16, 16:35

Komentar (1)

Mungkin hati Neville dan Doreen Lawrence seperti teriris-iris lagi, karena sidang pembunuhan putranya, Stephen Lawrence, dibuka kembali, delapan belas tahun kemudian.


Stephen Lawrence

Pada malam 22 April 1993, Stephen Lawrence bersama temannya sedang menunggu bus di Eltham, kawasan pinggiran London selatan. Tiba-tiba sekelompok pemuda kulit putih mengejar mereka berdua. Stephen tidak berhasil melarikan diri dan dia dikeroyok. Dengan tubuh berkucuran darah, dia masih mencoba berjalan sebelum akhirnya jatuh tersungkur dan tewas.

Stephen Lawrence waktu itu berusia 18 tahun dan sidang atas pembunuhannya sempat gugur karena bukti-bukti dianggap tak cukup. Kepolisian London bahkan menghadapi tuduhan melakukan diskriminasi rasial secara sistematis, dan sampai harus meminta maaf karena kecerobohan polisi dalam mengumpulkan bukti-bukti.

Banyak orang Inggris yang marah, karena tidak bisa menerima seorang dikeroyok sampai mati hanya karena warna kulit : ya, kelima pengeroyok adalah pemuda kulit putih dan Stephen -serta temannya tadi- kulit hitam. Tidak ada motif selain warna kulit.

Gugurnya pengadilan Stephen seperti mencoreng masyarakat Inggris, tapi kedua orang tuanya tidak berhenti dan mereka mendapat banyak dukungan. Saya masih ingat pada suatu hari, koran Daily Mail memuat wajah keempat pemuda tersebut memenuhi halaman depan dan menulis judul Pembunuh. Di bawahnya ada sub judul bahwa 'kami menuduh kelimanya sebagai pembunuh Stephen Lawrence dan kalau kami salah, biarlah mereka menuntut'.


Gary Dobson dan David Norris

Pers Inggris amat hati-hati untuk tuduh menuduh, karena jika tak ada bukti kuat bisa menjadi kasus pencemaran nama baik dengan hukuman membayar jutaan Pound Sterling. Tapi Daily Mail yakin dengan tuduhannya, dan memang tak ada tuntutan atas koran tersebut.

Teknologi forensik

Delapan belas tahun kemudian, barulah sidangnya bisa digelar kembali berdasarkan temuan bukti-bukti baru, yang dimungkinkan oleh karena perkembangan teknologi. Kali ini dua orang yang menjadi tersangka, Gary Dobson dan David Norris.

Teknologi forensik atas DNA menunjukkan bahwa percikan darah yang ditemukan di baju salah satu tersangka -yang dulu disita- identik dengan darah Stephen Lawrence. Secara ilmiah, kemungkinan itu bukan DNA Lawrence hanya satu banding satu miliar. Sedangkan tersangka satu lagi terjerat karena ada serat rambut dari tubuh Stephen di bajunya.

Bukti-bukti itu jelas tidak membuat mereka langsung dinyatakan bersalah.

Hakim sudah meminta agar juri yang bertugas -peradilan Inggris menggunakan juri dalam memutuskan terdakwa bersalah atau tidak- semata-mata mengandalkan keputusannya pada bukti-bukti dan keterangan saksi yang mereka dengar di pengadilan.

Jadi -menyingkatkan peringatan hakim- jangan terpengaruh oleh berita atau cerita sebelumnya, maupun film tentang pembunuhan itu. Bukti dan kesaksian di persidangan yang utama dan menjadi satu-satunya pertimbangan.

Beberapa saki yang sudah memberi keterangan kepada pengadilan -antara lain -seorang staf rumah sakit, Royston Westbrook- menegaskan sama sekali tidak ada provokasi dalam serangan atas Stephen. Dia berpendapat kelima pemuda kulit putih itu memang sekedar menghajar Stephen Lawrence. "Tidak ada alasan apapun untuk menjustifikasinya," kata Westbrook.

Tekad dan upaya keras

Proses pengadilan masih panjang, masih banyak saksi yang akan memberikan keterangan dan masih banyak bukti yang akan diperlihatkan. Jadi tidak ada jaminan upaya keluarga upaya Stephen Lawrence untuk mengungkap pembunuhnya akan berhenti.

Bagaimanapun, delapan belas tahun kemudian tekad yang diambil Neville dan Doreen Lawrence melangkah maju. Mencari keadilan kadang memang membutuhkan tekad dan kesabaran.


Neville Lawrence

Ah saya jadi teringat berita yang ramai di Indonesia beberapa hari lalu: seorang siswa berusia 17 tahun di Jakara, Raafi Aga, yang tewas ditikam di sebuah tempat hiburan di Kemang. Pihak manajemen tempat hiburan itu dilaporkan sempat membersihkan tempat kejadian dari tetesan darah korban -yang dalam bahasa hukum bisa diartikan menghilangkan barang bukti. Polisi juga sudah memeriksa 40 saksi dan masih belum juga ada tanda-tanda yang mengarah ke pelakunya.

Juga tak jelas motif penikaman Raafi, katanya cuma persoalan tersenggol. Tapi jelas sekali, saya tidak sendirian berharap agar penikamnya segera terungkap apapun motifnya. Karena terlalu mengerikan jika di sebuah negara demokrasi modern, ada orang yang dibunuh -siapapun dia- dan pembunuhnya masih lalu lalang di luar sana.

Neville dan Doreen Lawrence, tidak mau hal itu terjadi, walaupun delapan belas tahun kemudian mereka harus kembali mendengarkan lagi kisah sedih pada malam yang nahas itu.

Ahirnya FIFA mengalah kepada Inggris

Mohamad Susilo | 2011-11-10, 14:03

Komentar (0)

Inggris kembali 'berseteru' dengan FIFA. Bukan soal korupsi, bukan pula soal reformasi di tubuh otorita badan sepak bola dunia tersebut.

Bunga poppy melambangkan penghormatan kepada tentara Inggris yang gugur di medan perang.

Kali ini tentang bunga poppy.

Asosiasi sepak bola Inggris (FA) beberapa waktu lalu meminta FIFA agar para pemain Timnas Inggris diizinkan mengenakan logo atau emblem bunga poppy berwarna merah ketika bertanding melawan Spanyol di Stadion Wembley, London, hari Sabtu (12/11).

Emblem ini adalah salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan kepada tentara Inggris yang gugur dalam Perang Dunia I yang kemudian berkembang untuk PD II dan belakangan tidak sedikit yang meluaskannya kepada tentara Inggris di Afghanistan dan Irak.

Tradisi ini telah berusia 90 tahun dan berawal dari sebuah puisi karya dokter Kanada, John McCrae, yang berdinas di angkatan bersenjata dan ditugaskan ke Eropa pada 1915.

Beberapa pertempuran paling sengit berlangsung di Flanders dan Picardy di Belgia dan Prancis Utara. Pertempuran begitu hebat sehingga nyaris tidak ada yang tersisa di dua tempat tersebut. Satu-satunya yang tumbuh adalah bunga poppy.

Peran profesor AS

Peristiwa ini begitu merasuk ke dalam hati McCrae dan ia menulis puisi pada 1915 yang ia beri judul In Flander' Fields.

Menlu Inggris William Hague mengenakan bunga poppy dalam satu acara.

Terinspirasi oleh puisi McCrae, Moina Michael, seorang guru besar Amerika Serikat menjual poppy kepada rekan-rekannya untuk membantu keluarga tentara.

Dan sejak itu bunga poppy menjadi bagian tidak terpisahkan dari rangkaian acara untuk memperingati mereka yang gugur di medan pertempuran Perang Dunia I yang berakhir pukul 11.00 pada 11 November 1918.

Di Inggris penghormatan kepada tentara yang gugur dilaksanakan pada Minggu kedua setiap bulan November.

Pertandingan persahabatan Inggris-Spanyol kali ini digelar sehari sebelum peringatan tahun ini yang jatuh hari Minggu (13/11).

Sebagai bagian dari rangkaian ini FA meminta izin FIFA agar timnas Inggris diperbolehkan mengenakan emblem bunga poppy.

FIFA menolak permintaan Inggris dengan mendasarkan pada aturan yang menyebutkan kaus timnas tidak boleh dipasangi pesan-pesan agama maupun politik.

"Menerima permintaan semacam ini akan membuka pintu terhadap prakarsa serupa dari seluruh dunia, yang pada akhirnya akan menghancurkan netralitas sepak bola," kata FIFA.

FIFA bahkan mengancam pertandingan ini akan dibatalkan bila Inggris bersikukuh mengenakan emblem bunga poppy.

Bisa diperkirakan Inggris sangat kecewa dengan posisi FIFA.

Jalan tengah

Para pemain, manajer klub, dan pengurus ramai-ramai mengecam FIFA.

Hasil penjualan emblem bunga poppy diperuntukkan bagi keluarga tentara.

Seorang veteran perang mengatakan, "Kalau tidak orang-orang seperti kami, FIFA tidak akan pernah ada."

Perdana Menteri David Cameron juga kecewa dan menyebut keputusan FIFA absurd. "Saya sungguh berharap FIFA mempertimbangkan kembali sikap mereka," kata Cameron.

Pangeran William yang menjabat sebagai presiden FA menulis surat kepada FIFA agar para pemain Inggris diperbolehkan mengenakan poppy.

FIFA berubah pikiran dan pada hari Rabu (9/11) memberitahukan FA bahwa para pemain Inggris boleh mengenakan emblem bunga poppy di pita lengan, bukan di bagian depan kaos timnas.

Jalan tengah ini diusulkan oleh seorang anggota parlemen dari Partai Konservatif, Chris Heaton-Harris, yang kebetulan memegang sertifikat wasit.

Jalan tengah ini membuat FIFA dan FA sama-sama tidak kehilangan muka.

Secara teknis FIFA tidak melanggar peraturan mereka sendiri karena emblem bunga poppy tidak secara langsung dikenakan di kaos timnas.

Inggris di sisi lain tetap bisa memasang emblem bunga berwarna merah tersebut.

Satu hal yang bisa ditarik dari kasus ini, agama dan politik sepertinya memang akan selalu mewarnai olahraga meski ada upaya membersihkan olahraga dari dua faktor tersebut.

Persoalannya adalah jalan tengah tidak selalu tersedia.

Untuk sementara ini, Inggris kali ini menang melawan FIFA.

Ketika Assange memercik air di dunia

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2011-11-03, 15:20

Komentar (2)

Julian Assange, pendiri Wikileaks -situs pembocor dokumen rahasia- kalah dalam banding ekstradisinya di Pengadilan Tinggi Inggris.


Julian Assange

Dia pun terancam diekstradisi ke Swedia, yang memburunya karena dakwaan pelecehan seksual dan pemerkosaan, yang menurutnya bermotif politik. Namun dia memutuskan banding ke Mahkamah Agung, jadi masih punya waktu hingga sekitar Maret atau April tahun depan untuk tinggal di Inggris, di sebuah kastil milik Vaughan Smith, seorang kaya di Inggris yang bersimpati padanya.

Salah seorang ahli hukum ekstradisi di Inggris, Karen Tooner, memperkirakan sulit bagi Assange untuk lolos dari Surat Penangkapan Eropa yang dikeluarkan oleh kejaksaan Swedia. Tidak berarti kalau Karen menganut teori konspirasi, tapi -seperti dikutip koran The Independent- dia mengatakan pengalamannya adalah pencegahan ekstradisi di Eropa hanya dilakukan jika ada kemungkinan tersangka mendapat penyiksaan di negara tujuan ekstradisi.

Negara-negara anggota Uni Eropa memang cenderung untuk menyerahkan proses hukum ke negara yang bersangkutan. Itulah asumsi yang agaknya dipegang Pengadilan Tinggi Inggris, bahwa dakwaan atas Julian Assange sebaiknya diuji oleh pengadilan Swedia.

Teori konspirasi?

Bagaimanapun kalau Anda suka teori konspirasi, tentu akan lain melihatnya.

Beberapa waktu lalu sejumlah lembaga keuangan Inggris mengambil langkah memboikot Wikileaks. Mereka -antara lain Bank of America, Visa, Mastercard, dan Paypal- tidak akan memproses pembayaran apa pun yang ditujukan untuk Wikileaks.


Situs Wikileaks

Kenapa mereka memblok dana ke Wikileaks? Tidak ada rincian dari pernyataan lembaga keuangan global tersebut. Di sinipun Anda bisa saja mereka-reka sendiri, mungkin disuruh oleh pemerintah Amerika Serikat karena sebagian besar bermarkas di Amerika Serikat.

Tapi juga bisa saja mereka melakukan serangan lebih dulu. Kalau Wikileaks sejauh ini lebih banyak membongkar dokumen rahasia pemerintah, tak ada jaminan kalau lembaga keuangan swasta juga bersih dari dokumen-dokumen yang bisa mencoreng muka atau bahkan yang bisa membawa lembaga keuangan itu ke pengadilan.

Ingat kasus di Indonesia yang menimpa Citibank karena tewasnya salah seorang nasabah akibat perilaku para penagih hutang? Coba bayangkan seandainya ada dokumen resmi yang memperlihatkan bahwa para penagih hutang mendapat wewenang apapun selama tunggakan utang dilunaskan.

Jadi sebelum kena pukul ya lebih baik pukul dulu.

Apapun, itu semua cuma didasarkan pada teori konspirasi atau sekedar spekulasi.

Mempermalukan AS

Yang jelas pemerintah Amerika Serikat marah besar dengan bocornya dokumen rahasia maupun komunikasi lewat kawat diplomatik di Wikileaks.


Julian Assange

Situs yang didirikan Assange inilah yang, misalnya, mengungkap kebohongan pemerintah AS bahwa tahanan Guantanamo sebenarnya tak punya akses untuk Palang Merah Internasional. Dan bocoran tentang kebijakan dan perilaku pemerintah AS -tak sedikit yang melanggar standar hak asasi maupun yang tak sesuai dengan pernyataan resminya- tidak tanggung-tanggung. Wikileaks memuat 76.900 dokumen tentang perang di Afghanistan dan hampir 400.000 dokumen tentang perang Irak.

Jelas bukan hanya dokumen pemerintah AS saja yang dibocorkan Wikileaks, tapi negara adi daya itu yang paling berang. Dan muncul tuduhan Assange melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Ketika Assange ditangkap di London awal Desember tahun lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates, tidak malu-malu menyambut baik penahanannya.

Sementara tentara yang diduga membocorkan rahasia kepada Wikileaks, sempat ditahan dalam sel isolasi khusus dan -menurut pengacaranya- diteror dengan cara diinterogasi setiap lima menit.

'Pertarungan' sebenarnya masih berlangsung karena Assange menegaskan akan memusatkan perhatian untuk menggalang dana sambil menghentikan sementara penerbitan dokumen rahasia.

Saya berharap Wikileaks menang, ya maksudnya tetap bertahan. Bukan karena saya penggemar Wikileaks karena memang tidak berkunjung ke situs itu secara rutin. Tapi -tidak dalam pemikiran- di dunia yang rasanya semakin mengandalkan uang dan kekuasaan, amat diperlukan penyeimbang, antara lain Wikileaks.

Cuma, kalau kita memercik air, banyak orang yang marah.

bbc.co.uk navigation

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.