Guru mogok, orang tua sibuk
"Rabu pekan depan libur sekolah Pak," kata putri saya yang duduk di kelas dua SMP menyambut saya pulang kantor. Wajahnya riang, senyumnya lepas.
Berita tentang tiga serikat guru yang mencapai kesepakatan dengan para anggotanya untuk melakukan aksi mogok sudah dilaporkan berbagai media di Inggris. Rupanya di sekolah putri saya itu banyak guru yang jadi anggota dari ketiga serikat guru tersebut.

Bulan Juni lalu, misalnya, aksi mogok para guru menyebabkan sepertiga sekolah di Inggris tutup total, sepertiga lagi harus menutup beberapa kelas, dan hanya sepertiga yang beroperasi seperti biasa. Waktu itu mogok juga dilakukan oleh berbagai sektor layanan umum Inggris.
Mogok Rabu 30 November diperkirakan akan lebih besar dampaknya karena sekaligus dilaksanakan oleh tiga serikat guru. Departemen Pendidikan Inggris masih mengumpulkan informasi seberapa banyak sekolah yang harus tutup total karena aksi mogok kali ini.
Masalah pensiun
Penyebabnya adalah perubahan sistem pensiun yang dianggap merugikan para guru dan juga pekerja sektor layanan umum lain. Salah satunya adalah meningkatkan usia pensiun sampai 68 tahun, yang artinya mereka harus bekerja ekstra tiga tahun lagi.
Selain itu ada juga tambahan sumbangan pensiun bulanan yang harus dikeluarkan para guru. Dengan sistem baru yang diusulkan pemerintah, maka sumbangan pensiun para guru naik menjadi 9,5% dari total gajinya, atau kenaikan sekitar 1,5%. Dengan harga kebutuhan sehari-hari yang sudah naik -bensin, listrik, gas, maupun bahan pangan- para guru jelas menentang kenaikan sumbangan pensiun.

Celakanya pemerintah juga sedang tidak punya dana untuk mendukung pensiun seperti yang selama ini.
Hari Jumat 25 November, Menteri Pendidikan, Michael Gove sudah mengatakan bahwa pemerintah siap berunding kembali namun menegaskan tidak ada 'pundi emas' yang bisa meningkatkan tawaran pemerintah secara drastis dalam kesepakatan pensiun.
Dan salah satu serikat buruh guru sudah langsung menanggapi bahwa tawaran itu terlalu kecil dan sudah terlalu lambat. Aksi mogok akan tetap jalan.
Masalah orang tua
Mogok nasional pada 30 November bukan hanya dilaksanakan para guru, juga pekerja layanan umum lain. Tapi yang langsung menyentuh kehidupan sehari-sehari saya, ya kalau pak dan bu guru mogok, karena sektor angkutan umum dan kesehatan tidak ikut.
Sedang bagi orang asing yang tiba di Bandara Heathrow pada hari pemogokan, bersiaplah menderita lebih panjang. Banyak petugas imigrasi yang mogok dan diperkirakan antrian untuk pemeriksaan imigrasi bisa mencapai 12 jam. Yang mau berangkat dari Heathrow kemungkinan besar akan mengalami penundaan.
Karena tidak punya rencana bepergian, mogok guru yang langsung masuk ke dalam radar kehidupan.
Sebagai sesama pekerja biasa, ada solidaritas kepada para guru. Saya dan mereka jelas bukan para direktur lembaga keuangan atau bank yang 'tamak dan egois' -begitulah menurut para pengunjuk rasa antikapitalis di New York dan beberapa kota dunia lain. Mereka seenaknya berspekulasi di pasar uang dengan menggunakan uang nasabah dan mendapat bonus jutaan Pound Sterling. Ketika spekulasinya salah total sampai membuat bangkrut, mereka malah mendapat bantuan dana dari pemerintah sambil tetap menikmati bonus raksasa.

Mungkin itulah sebabnya saya tidak berani langsung memvonis para guru yang mogok dengan kesimpulan tidak bertanggung jawab dan menelantarkan para muridnya.
Selain semangat solidaritas, saya juga harus mengakui kalau tambahan libur sehari atau dua hari setahun karena aksi mogok guru jelas tidak akan mempengaruhi langsung proses pendidikan. Toh belajar di rumah juga bisa, kalau memang mau.
Bagaimanapun jelas banyak orang tua yang kesal, khususnya pasangan yang bekerja penuh waktu dan masih memiliki anak kecil yang belum bisa ditinggal sendirian di rumah. Libur sekolah di luar jadwal yang sudah ditentukan membuat mereka akan pusing mencari penitipan anak. Dan banyak karyawan yang terpaksa mengambil cuti sehari.
Syukurlah istri saya tidak bekerja penuh waktu, dan putri saya juga sudah sering ditinggal sendiri selama beberapa jam. Jadi pada satu sisi saya mendukung aksi mogok para guru dan pada sisi lain bersimpati kepada sesama orang tua yang masih harus sibuk mencari penitipan anak atau meminta cuti sehari mendadak ke atasannya.
Lantas siapa yang disalahkan? Pemerintah, kalau saya yang menjawab, karena mereka gagal menjamin kesejahteraan warganya.








