« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Red Arrows kembali terbang setelah musibah

Menuk Suwondo | 2011-09-02, 13:19

Pekan ini ada berita buruk bagi Angkatan Udara Inggris. Anggaran mereka akan dipotong secara besar-besaran dan banyak orang khawatir bagian mana yang akan dipangkas. Tetapi ada berita baik yang melegakan saya; yaitu bahwa Red Arrows, tim aerobatik RAF, akan mulai mengudara lagi.


Red Arrows sedang beraksi

Red Arrows sedang beraksi

Sejak umur belasan tahun saya kagum mendengar cerita tentang kehebatan Red Arrows. Sembilan pesawat Hawk T1 berwarna merah melejit di cakrawala menampilkan kelincahan bersimpang-siur dengan meninggalkan jejak panjang asap berwarna merah, biru dan putih.

Asap berwarna yang menakjubkan penonton itu juga berfungsi membantu para penerbang untuk mengetahui arah dan kecepatan angin. Keberanian dan ketrampilan para penerbang dalam menendalikan pesawat sangat mengagumkan. Pemahaman mereka tentang trigonometri tak diragukan lagi. Tanpa peralatan komputer, para penerbang itu mengandalkan ketrampilan mereka bermanuver di cakrawala dalam kecepatan 400 mil per jam.

Inspirasi dan duta bangsa
Saya masih ingat betapa gemetaran kaki saya saking takjubnya ketika pertama kali menyaksikan aksi mereka di pameran dirgantara Jakarta lebih dari dua dasawarsa yang lalu. Dengungan pesawat ketika berseliweran di atas kepala tidak terasa memusingkan. Di Inggris Red Arrows hampir selalu dapat disaksikan di musim panas.

Indahnya manuver mereka mencerminkan kepiawaian para penerbangnya. Mereka adalah pilot-pilot terpilih yang berpengalaman mengemudikan pesawat tempur di medan perang. Tetapi di masa damai, ketrampilan mereka juga bisa menghibur dan menginspirasi banyak orang.

Banyak anak-anak di Inggris dan orang dewasa yang sudah menjadi pilot bercita-cita untuk bisa seperti mereka.

Kalau saya hanya bisa menjadi pengagum, kebanyakan warga Inggris merasa bangga akan kehebatan tim aerobatik ini. Mereka menganggap Red Arrows merupakan cerminan 'the best of British' dan duta yang mewakili negara dan Angkatan Udara Inggris. Tim ini telah tampil di cakrawala lebih dari 50 negara.

Jatuhnya salah satu pesawat Red Arrows dalam pameran dirgantara Bournemouth belum lama ini sangat mengejutkan dan menyedihkan banyak orang. Di akhir peragaan delapan pesawat merah itu pulang ke markas besar mereka di Scampton tanpa Red-4, sebutan untuk Letnan Penerbang Jon Egging, yang tewas ketika pesawatnya jatuh di desa Throop, dekat Bournemouth. Karangan bunga, kartu duka cita dan surat membanjiri Scampton.

Pemburu suvenir
Selagi duka belum berlalu, desa Throop belakangan kedatangan banyak orang yang ingin melihat tempat jatuhnya Red-4. Tetapi warga mulai gelisah ketika mengetahui para pengunjung ini tampaknya bermaksud lain. Mereka melompati pagar pembatas dan berburu kepingan bangkai pesawat untuk dijadikan suvenir. Bahkan ada yang bilang akan menjualnya lewat eBay.


Red Arrows jatuh di Throop

Saya menduga orang-orang ini juga punya rasa kagum terhadap Red Arrows, tetapi mengapa mereka mengekspresikan kekaguman dengan cara seperti itu? Apakah bau uang atau kerakusan telah membelokkan pemikiran mereka? Betapa beragamnya cara orang berekspresi!

Terbang lagi
Tetapi di antara berita yang kurang menyenangkan itu saya mendengar hal yang membesarkan hati, yaitu bahwa Red Arrows, yang di-grounded sejak terjadinya kecelakaan 20 Agustus lalu, pekan ini mulai berlatih lagi. Mereka terbang tidak bersembilan, tetapi berdelapan.

Kita belum tahu kapan atau akankah mereka melengkapi tim menjadi sembilan seperti biasanya. Perbedaan jumlah pesawat tentu akan berpengaruh pada formasi atraksi mereka. Yang jelas, para pilot itu sudah terlihat siap berlatih terbang lagi. Masa latihan biasanya berlangsung setelah aksi terakhir mereka di musim panas sampai bulan Mei tahun berikutnya. Selama itu mereka mengenakan seragam hijau pilot, mirip yang kita lihat di film Top Gun.

Para penerbang Red Arrows baru akan berseragam merah, seperti warna pesawat mereka, ketika latihan sudah usai dan siap untuk melejit ke udara lagi di depan masyarakat Inggris yang mengaguminya.

Rombongan pesawat jet bermesin tunggal dengan warnanya yang merah menyala ini mudah-mudahan akan muncul lagi membelah langit biru di musim panas yang akan datang - ketika berbagai acara kedirgantaraan dan militer berlangsung di negeri ini.

Pengurangan anggaran militer Inggris, termasuk Angkatan Udara, sedang menjadi perdebatan sengit di kalangan masyarakat dan media di sini. Apalagi ketika Inggris sedang terlibat dalam berbagai operasi militer di Afganistan dan Libia. Tetapi sejauh ini tidak ada isyarat bahwa pengurangan ini akan berpengaruh langsung terhadap Red Arrows. Sebagai penonton saya masih ingin menyaksikan ketrampilan dan profesionalisme para penerbang pesawat merah itu terus berlanjut sampai waktu yang lama.


BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.