« Sebelumnya | Utama | Berikut »

London berjuang melawan buta huruf

Menuk Suwondo | 2011-06-17, 10:35

Seperti kota besar lainnya, London memajang berbagai tulisan yang mengundang perhatian: nama jalan, slogan, grafiti, iklan, papan lembaga kantor penting, peta dan banyak lagi lainnya.


Toko buku ikut meramaikan kampanye tingkatkan minat baca


Lebih dari itu, London adalah ibukota salah satu kekuatan dunia dan pusat peradaban modern.

Bayangkan bahwa masih ada penduduk kota ini yang tidak bisa membaca dan menulis dengan baik. Bagaimana mereka bertahan hidup?

Mencari kerja harus mengisi formulir, ke dokter perlu mendaftar pakai formulir, mau bepergian harus baca jadwal kereta, banyak komunikasi harus dilakukan lewat surat-menyurat atau pakai email.

Hal yang kedengarannya lumrah dalam kehidupan modern ini ternyata bukan hal yang mudah bagi banyak warga London. Hampir sejuta penduduk kota ini mengalami kesulitan membaca.

Suratkabar terbitan London, Evening Standard, belum lama ini mengungkap bahwa buta huruf merupakan salah satu masalah besar kota ini.

Satu dari tiga anak usia sebelas tahun tidak memiliki satupun buku bacaan di rumah. Bahkan ada anak yang mengaku satu-satunya buku bacaan di rumah adalah katalog toko barang keperluan rumahtangga, namanya Argos.

Satu dari tiga anak belasan tahun hanya membaca dua buku dalam setahun. Tujuh persen dari anak-anak di London sama sekali tidak pernah membaca di luar kelas sekolah mereka.

Ribuan anak usia sebelas tahun di London memiliki kemampuan membaca setingkat anak umur tujuh tahun. Satu dari empat anak lulusan sekolah dasar memiliki ketrampilan baca-tulis yang rendah.

Tetapi, hampir separuh anak muda memiliki profil di situs jaringan sosial. Dua dari sepuluh anak muda memiliki blog.

Saya tidak menyangka London memiliki tantangan yang demikian besar dalam soal buta huruf.

Untuk negeri yang punya Oxford dan Cambridge dan universitas ternama di setiap kotanya; yang melahirkan Shakespeare, Orwell, Roal Dahl, sampai J.K. Rowling dan Harry Potter-nya, realitas buta huruf di ibukota negeri ini sangat mengherankan.

Modal awal

Tentu kemampuan baca-tulis tak hanya berguna untuk menikmati karya sastra. Melek huruf yang sesungguhnya bermakna lebih jauh dari itu.

Melek huruf pada akhirnya harus memberi kemampuan orang untuk merangkai gagasan dan mengkomunikasikan pemikiran dengan orang lain secara runtut. Dengan demikian mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar.

Menyedihkan sekali kalau sampai anak-anak tidak menguasai modal awal yang sangat penting untuk meniti perjalanan hidup mereka selanjutnya.


Hampir semua kecamatan London memiliki perpustakaan


Saya jadi teringat keponakan saya di Magelang. Ketika dia masih di klas Nol Besar, kemampuan baca-tulisnya juga nol besar. Banyak hal yang dia tidak paham. Keindahan imajinasi kekanak-kanakannya tak banyak terungkap karena keterbatasan perbendaharaan kata yang dikuasainya. Waktu itu saya jadi khawatir.

Saya tidak berharap dia bisa membaca secara sempurna, tetapi saya ingin dia punya ketrampilan cukup untuk bisa mengikuti pelajaran di Sekolah Dasar nantinya.

Ketika kami datangi sekolahnya untuk menengok adakah yang salah - apakah anaknya yang malas diajari atau ada alasan lain, gurunya bilang: "Namanya juga masih di taman kanak-kanak, kami biarkan mereka banyak bermain dan kami ajari dia bersosialisasi. Mereka perlu bergaul dan belajar bermasyarakat."

Kami senang dia diajari bermasyarakat, tetapi kami juga ingin dia mulai diajari keterampilan untuk bisa bertahan hidup di masyarakat.

Belajar membaca tidak harus menjadi beban; tidak harus menyita waktu bermain dan tidak harus mengurangi keriangan dan keindahan masa kanak-kanak.

Banyak bacaan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak-anak.

Sukarelawan

"Memperbaiki ketrampilan membaca di kalangan anak-anak akan membuka banyak sekali kesempatan dan mendorong minat belajar mereka sepanjang hidup," kata Walikota London, Boris Johnson ketika meluncurkan program penggalakan minat baca pekan ini.

Proyek yang diluncurkannya berusaha membantu anak-anak berusia antara tiga dan lima tahun yang berasal dari sekitar 2.000 keluarga di ibukota Inggris ini.

Penyelenggara proyek ini menunjuk 'pelopor' dan 'duta' untuk membantu para keluarga yang anaknya mengalami kesulitan belajar membaca.

Saya kira kalangan terpelajar di London juga kaget mendengar kenyataan buruknya tingkat buta huruf di kota mereka. Tanggapan masyarakat terhadap kampanye menggalakkan minat baca anak-anak sangat membesarkan hati.

Kampanye "Get London reading" yang mengajak warga London untuk meningkatkan minat baca juga diikuti oleh beberapa toko buku.

Dalam waktu sepekan ini koran Evening Standard berhasil mengumpulkan dana £125,000 atau senilai sekitar 1,8 miliar rupiah.

Pasar swalayan, bank, perusahaan kereta api dan warga biasa beramai-ramai menyisihkan sumbangan untuk melatih para sukarelawan supaya bisa membantu anak-anak yang kesulitan.

Para sukarelawan ini berasal dari warga biasa seperti anda dan saya, tidak harus ahli pendidikan. Itu sebabnya perlu sedikit bekal latihan seperti layaknya mempersiapkan calon guru yang akan menghadapi murid.

Di antara para sukarelawan ada pengacara, pegawai kantor, punggawa kecamatan, guru, penyanyi dan orang dewasa lain yang melek huruf. Siapa saja bisa, asal mereka tidak terlibat tindak kriminal.

Para sukarelawan diminta untuk menyisihkan waktu seminggu dua kali, masing-masing satu setengah jam, selama satu tahun mendampingi anak atau keluarga yang mereka bantu. Bagi yang terlalu sibuk, mereka bisa berbagi tugas dengan satu orang lainnya atau buddy-up dengan orang lain.

Kedengarannya seperti kerja keras dan komitmen yang sulit dipenuhi. Tetapi bayangkan hasilnya: membantu anak-anak menemukan kenikmatan dalam membaca dan menulis! Bayangkan kegembiraan di wajah anak-anak itu ketika mereka menemukan sesuatu yang baru lewat bacaan mereka. Menyejukkan hati! Membuat kita sendiri tersenyum bahagia!

Tentu saja peran para orangtua - kalau mereka tidak buta huruf - sangat penting. Banyak orangtua di Inggris yang selalu membacakan buku dongeng kepada anak mereka menjelang tidur.

Tetapi di antara hiruk-pikuknya London ini masih ada juga orangtua yang mereka sendiri perlu bantuan untuk mengeja kata-kata. Itu sebabnya masalah ini perlu pemecahan.

Betapapun kerja keras yang dilakukan oleh berbagai lembaga dalam memerangi buta huruf, tempat terbaik bagi anak-anak untuk mencintai buku dan membaca adalah di rumah, bersama orangtua atau keluarga mereka.

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 08:12 tanggal 16 ژوئیه 2011, smpn2 labuhan deli menulis:

    Ternyata di negara yang cukup maju masih terdapat angka buta huruf.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.