« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Blair muncul lagi, kontroversi lagi

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2010-08-19, 9:00

Tiga tahun mundur dari kursi perdana menteri, Tony Blair kembali memancing kontroversi, dan masih di bawah bayang-bayang kelam perang Irak. Perdana Menteri yang membawa sejumlah perubahan dalam politik Inggris ini memang tak bisa lepas lagi dari perang Irak. bliar300.jpg

Dia berhasil menyempitkan jarak antara politisi dan kaum muda, paling tidak di masa-masa awal pemerintahannya, juga mengangkat Inggris masuk kembali ke pentas politik internasional, mendorong tercapainya perdamaian di Irlandia Utara, dan membawa masyarakat Inggris menikmati perekonomian yang kuat.

Namun semuanya terlapis oleh dukungan penuhnya atas Presiden George Bush saat melancarkan perang Irak. Ibaratnya, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.

Dan ketika menerbitkan memoarnya, berjudul A Journey, yang akan diluncurkan tanggal 1 September, perang Irak terus mengekor. Sebuah acara penandatanganan buku akan digelar dan beda dengan acara-acara biasa, tak ada acara foto bersama, semua pembeli harus diperiksa, dan telepon tangan diserahkan di pintu.

Prosedur keamanan yang super ketat ini agak tidak biasa untuk acara penandatanganan buku memoar seorang mantan perdana menteri sekalipun. Kecuali perdana menteri yang diperkirakan banyak "musuh"nya.

Salah satu musuh adalah kelompok Koalisi Anti Perang, yang sudah bertekad akan menggelar unjuk rasa saat acara penandatanganan buku A Journey. Koalisi inilah yang menggalang unjuk rasa anti perang Irak di pusat kota London yang disebut "pawai 1 juta orang' karena banyaknya orang yang datang dari seluruh penjuru Inggris untuk memperlihatkan sikap anti perang Irak. Namun Blair tidak mendengarnya dan tetap mengambil sisi bersama Bush.

Koalisi Anti Perang sepertinya masih menyimpan dendam dan bercita-cita membawa Blair ke pengadilan perang, dan koalisi ini pernah pula menggalang dana lewat Facebook untuk keperluan menggugat Tony Blair dengan dakwaan kejahatan perang. Jelas aspek praktis gugatan amat sumir atau mungkin nyaris tidak mungkin, tapi sebagai gerakan politik tampaknya akan terus mengekor kemanapun Blair pergi.

Blair sendiri berupaya mencuci nama. Dia menyatakan akan menyerahkan semua pemasukan dari penjualan bukunya ke lembaga sosial, British Legion, yang mengurus pensiunan angkatan bersenjata Inggris dan keluarganya. Bukunya sendiri, jelas bukan tentang Irak, yang katanya, hanya disebut dalam satu sub bab saja.

bilar1226.jpg

Untuk menulis memoar ini, Blair sudah mendapat uang muka sebesar £ 4 juta walau diperkirakan dari royalti penjualan kelak dia bisa meraih sampai £ 6 juta. Dia sudah berjanji semua pemasukan dari penjualan buku akan diserahkan ke British Legion, untuk menghargai kerja berat para tentara Inggris yang dikerahkan ke Bosnia, Kosovo, Afghanistan, dan...Irak.

Namun upaya ini tak langsung bisa membersihkan halaman citra Tony Blair. Ada yang menyambut baik, karena jangankan dana untuk pensiun, dana untuk tentara yang aktif saja dianggap kurang.

Cuma sama ramianya dengan yang menentang, khususnya dari keluarga yang bapak, ibu, maupun anaknya tewas di Irak. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai 'uang berdarah.' Buat mereka yang lebih penting adalah pengakuan Blair bahwa perang Irak tidak tepat, dengan alasan yang tidak kuat dan menghabiskan dana maupun nyawa Inggris.

Dan dalam penyelidikan perang Irak, yang dipimpin Lord Chilcot -untuk mengetahui latar belakang perang Irak agar ada pelajaran yang bisa diambil, Blair -yang sudah memberi keterangan pada bulan Januari- dengan wajah tegang tetap menegaskan keyakinannya tentang perang Irak. Blair jelas tidak akan mau meminta maaf, tapi juga tidak -atau belum- mengakui alasan-alasan perang Irak sebenarnya tidak cukup kuat -seperti yang diyakini oleh kebanyakan warga Inggris.

Itulah mungkin yang membuat sumbangan £ 6 juta atau £ 100 juta sekalipun akan sulit menarik hati warga Inggris yang anti perang, apalagi keluarga yang langsung terkena dampak perang Irak.

Lagipula, ketika akan masih akan merencanakan memoar itu, Blair membuat lelang bagi penerbit yang berani membayar harga tertinggi dan ketika itu tak ada sedikitpun indikasi akan menyumbang. Orang juga tahu bahwa Blair menikmati aliran uang setelah tidak menjabat perdana menteri lagi, baik dari memberi pidato umum, seminar, sekedar makan malam bersama atau menjadi penasehat di perusahaan-perusahaan raksasa. Laporan-laporan menyebutkan Blair berhasil menghimpun kekayaan £ 12 juta dari kegiatan pasca perdana menteri.

Jadi ketika dia mau meluncurkan buku dan memancing reaksi lantas berjanji untuk menyerahkan semua dana bagi lembaga sosial, amat wajar orang meragukannya. Dari segi praktis, £ 4 juta amat membantu kegiatan lembaga sosial apapun, namun banyak yang mengatakan perang Irak sudah bukan soal praktis lagi.

Cuma -seperti yang disitir banyak orang- Blair memang orang pragmatis dan amat perduli dengan citra, saat jadi pemimpin maupun mantan. Pemerintah pimpinannya dulu dianggap membuat kebijakan untuk menanggapi berita di media massa dan bukan mengatasi substansi.

Sumbangannya ke British Legion kembali menunjukkan pragmatisme dan pencitraannya; namun tampaknya banyak warga Inggris yang tak akan mudah melupakan perang Irak dan setiap ingatan perang Irak akan membawa Tony Blair.

Hal yang ironis untuk seorang yang amat perduli dengan citranya.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.