« Sebelumnya | Utama | Berikut »

Merogoh kocek saat Piala Dunia

Liston P Siregar Liston P Siregar | 2010-06-18, 14:19

Kalau anda nonton Piala Dunia, di cafe atau di rumah?

Kalau anda nonton bareng di cafe, coba hitung biaya transport ke sana berapa rupiah dan masak sih masuk di café tak beli jajanan atau minuman. Sedang kalau nonton di rumah, di meja ada kacang goreng, pisang goreng? Terus minum apa: kopi, teh, minuman kaleng atau botol.

Terus kalau nanti pertandingan sedang berjalan pakai saling kirim SMS ke kawan nggak. Berbagi komentar atau saling mengejek kalau berbeda dim dukungan. Apakah SMS yang anda kirim lebih banyak dari biasanya?2.jpg

Para penonton asal Eropa yang datang ke Afrika Selatan, misalnya, sudah diwanti-wanti kalau tarif telepon genggam di negara itu amat mahal. Biasalah orang sekarang foto-foto pakai telepon canggihnya terus langsung dipamer di Facebook, pakai Blackberry atau Iphone. Jauh-jauh ke Afrika Selatan bukan cuma untuk nonton bola, juga sedikit pamerlah, membuat kawan di kampung sedikit cemburu.

Kecenderungan itu dipahami betul, dan sepekan sebelum Piala Dunia dimulai, lembaga konsumen Inggris, Consumer Focus, mengingatkan kalau pakai nomor telepon Eropa di Afrika Selatan dan mengunduh sepuluh foto lewat telepon genggam, maka akan kena £ 80 atau sekitar Rp 1,2 juta.

Di jaman modern ini pesta olahraga apapun memang tak lepas dari bisnis, dari ekonomi, dari kantong. Untuk Piala Dunia, bukan hanya di negara penyelenggara saja rangsangan ekonomi terasa, juga di negara-negara yang timnya tidak tampil. Sejumlah media, termasuk BBC Indonesia, sampai menurunkan laporan khusus.

Apalagi di Inggris, yang gila bola dan berharap banyak dari timnya.

Walau ditahan imbang 1-1 oleh Amerika Serikat, dan kemudian seri lagi 0-0 dengan Aljazair, tetap saja banyak pengusaha yang berharap Inggris menang-menang terus sampai ke final dan meraih Piala Dunia 2010. Selain sebagai pendukung sepakbola, para pengusaha ya tetap saja pengusaha dan semakin lama Inggris bertahan di Piala Dunia maka semakin besar potensi pemasukan dari bisnis mereka.

Berdasarkan sebuah penelitian, maka warga Inggris selama Piala Dunia menyediakan dana untuk jajanan, minuman -sebagian besar bir dan alkohol lainnya- bendera, dan taruhan di rumah judi. Perusahaan riset pasar Inggris, Mintel, yang melakukan penelitian atas 2.000 orang Inggris sekitar sebulan sebelum Piala Dunia menemukan 63% siap merogoh kocek lebih dalam saat Piala Dunia.

Sebanyak 23% mengatakan pengeluaran ekstra itu untuk berjudi di rumah taruhan sedangkan 31% untuk membeli alkohol.

Dan alkohol merupakan salah satu ajang perang supermarket karena masing-masing menurunkan harga dengan harapan volume yang meningkat akan mengkatrol pemasukan. Kantor Statisik Nasional Inggris menyebutkan secara rata-rata harga bir di supermarket Inggris turun sampai 3%.1.jpg

Selain alkohol, harga TV juga turun, sekitar 10% dalam periode 12 bulan sejak Mei tahun lalu. Biasalah, banyak orang yang menjadikan Piala Dunia untuk membeli layar tipis atau High Definition TV. Salah satu raksasa supermarket Inggris, Tesco, mengatakan sepanjang Mei, penjualan TV layar lebar untuk merek-merek utama sampai meningkat 100%. Sedangkan bendera terjual 800.000 helai, baik yang kecil maupun yang besar.

Tapi pendengar, ada juga potensi dampak negatifnya. Survei yang dilakukan situs rumah judi Betfair awal Juni ini menyebutkan 32% pekerja Inggris memilih bolos untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan yang mereka anggap penting -ya sudah pastilah yang ada Inggris dan semi final serta final. Mereka akan pura-pura sakit dan berdasarkan perbedaan jam, pertandingan di Afrika Selatan akan berlangsung sekitar tengah hari dan malam hari di Inggris.

Makanya muncul seruan, agar para pekerja boleh nonton di kantor. Daripada kehilangan satu hari jam kerja, kan lumayan bekerja setengah hari baru nonton di TV kantor, sehingga kalau ada apa-apa masih bisa tetap diperintah, masih bisa diminta kerja.

Bagaimanapun Institut Sumber Daya dan Pengembangan Inggris -yang antara lain bergerak dalam bidang pengembangan sumber daya manusia di tempat kerja- menyarankan perusahaan menawarkan cuti saja kepada para penggemar bola berat. Jadi bisa diketahui pasti berapa yang sebenarnya masuk saat Piala Dunia berlangsung.

Nah pendengar, mungkin anda pingin tahu juga, terus di kantor saya bagaimana? Wah, saya kan wartawan, jadi menonton bola itu termasuk bagian dari tugas juga. Ahem...

KomentarBeri komentar

  • 1. Pukul 08:21 tanggal 20 ژوئن 2010, ag paulus menulis:

    Setuju.. Nggak kalah dengan warga Inggris, saya juga perlu duit ekstra nonton Piala Dunia. Rokok (walau sudah dikriminalisasikan) minimal 2 bungkus lebih banyak (a. Rp 10.000), kacang asin lokal minimal 1,5 bungkus ( a. Rp 7.000) plus putaw (eh alkohol juga tapi kadarnya cuma 3 %, a. Rp 10.000). Jadi tiap Sabtu perlu duit ekstra rata-rata Rp 50.000, tambah listrik yang akan ditagihkan ke rekening bulan Agustus.

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

  • 2. Pukul 10:31 tanggal 24 ژوئن 2010, Kozam menulis:

    Ahhh...sungguh menyedihkan.. begitulah kalau sudah terlalu gila dengan bola. Lebih baik tidak usah nonton. Uang nggak habis, judi nggak ikutan, tawuran juga nggak ikutan, ngak punya musuh, akhirnya hidup tenang...

    Keluhan atas komentar ini

    Harus diisi

    (Tidak akan ditampilkan)

Beri komentar

Anda harus melengkapi nama dan alamat email (alamat email tidak akan ditampilkan)

Komentar dalam blog ini menggunakan moderator

Harus diisi

(Tidak akan ditampilkan)


bbc.co.uk navigation

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.