Serba serbi obor Olimpiade London

Mulai pekan ini, Inggris dilanda 'demam' obor Olimpiade London 2012. Setelah tiba di pangkalan Angkatan Udara di pantai barat Inggris, Jumat 18 Mei, dimulailah pawai obor yang akan berlangsung hingga acara pembukaan 27 Juli nanti.
Sebanyak 8.000 pembawa obor ikut dalam estafet tersebut, salah satunya adalah perenang paralympic Indonesia, Stephanie Handojo. Walau tidak ikut dalam Paralympic 2012, dia terpilih membawa obor di Nottingham, Inggris bagian utara, pada tanggal 28 Juni nanti.
Karena masih pekan-pekan awal, semangat media untuk meliputnya juga masih tinggi. BBC, misalnya, menyediakan waktu tertentu untuk siaran langsung dan pulang kantor, ketika mengambil koran sore gratis, ada berita tentang pawai obor tersebut. Besok paginya, ketika membeli koran di stasiun kereta api, juga masih ada berita tentang pawai obor. Bagaimanapun saya menduga pekan depan, beritanya akan mulai mereda.

Tak semua mendukung
Demam obor olimpiade jelas bisa dipahami sepenuhnya. Di mana pun, pesta olahraga ini pasti menjadi kehebohan. Apalagi di Inggris, yang praktis sudah lama tidak menggelar peristiwa olahraga internasional yang bergengsi.
Salah satu negara besar di dunia ini terakhir kali menggelar olimpiade pada tahun 1948 atau 64 tahun lalu. Sedangkan Piala Dunia pada tahun 1966 atau sekitar 46 tahun lalu. Saat itu pulalah, Inggris untuk pertama kalinya meraih Piala Dunia, setelah mengalahkan Jerman di final 4-2.
Olimpiade dan Piala Dunia merupakan dua kegiatan olah raga yang selalu menjadi perhatian di seluruh dunia dan bisa dipahami jika Sebuah jajak pendapat pertengahan April, memperlihatkan 64% dari 2007 responden mengatakan mereka membayar terlalu mahal untuk penyelenggaran olimpiade. Proporsi itu lebih tinggi dari kelompok yang mengatakan pengeluaran itu tepat dan membawa keuntungan untuk Inggris Raya, yaitu sebesar 55%.
Salah rute
Di sebuah negara demokrasi seperti Inggris Raya, saling beda pendapat itu tentu sudah soal biasa. Tapi sedikit tidak biasa, ketika Rabu 23 Mei, pawai obor melenceng dari rute yang sudah disiapkan.
Kejadiannya di pinggiran kota Bristol, di Inggris barat daya. Obor berbelok di jalan yang salah dan sempat sekitar sepuluh menit ke luar rute sebelum masuk lagi ke rute semestinya. Lucu juga rasanya, karena kalau Anda lihat siaran pawai obor, amat kecil kemungkinan salah rute.
Bukan hanya dikawal, juga orang-orang di tepi jalan. Tapi mungkin karena suasananya yang meriah, dan semua tepi jalan dipenuhi orang, pembawa obor sempat bingung. Serunya lagi, semuanya senang-senang saja. Bahkan sebagian besar orang mungkin tidak tahu kalau obor salah rute kalau tidak diberitakan di media.
Itu bukan insiden pertama. Hari Senin, api di obor sempat padam. Sempat terjadi kepanikan karena acara itu disaksikan banyak orang dan diliput berbagai media. Tapi kemungkinan itu tampakmnya sudah diantisipasi karena di dalam bus ada obor yang terus menyala. Panitia mengatakan karena angin yang terlalu kuat.
Tapi yang paling seru adalah penjualan obor olimpiade di situs lelang internet Ebay. Pada hari ketiga pawai obor, sudah ada obor yang terjual seharga £150.000, atau sekitar Rp2,1 miliar.
Setiap pembawa obor memang dibolehkan membeli obor yang mereka bawa dengan harga potongan. Walau harga pembuatan obor sekitar £495, pembawa obor bisa membelinya setelah melakukan estafet dengan harga harga lebih murah dari setengah, £215.
Maksudnya sebagai kenang-kenangan, tapi rupanya ada juga yang melihatnya sebagai peluang ekonomi, walau salah seorang pembawa obor yang menjualnya di Ebay menegaskan pendapatan penjualan obor itu semata-mata untuk kepentingan yayasan sosial.



