Blog Dari London homepage

Dilema polisi menghadapi aksi unjuk rasa

Mohamad Susilo | 2013-06-14, 14:32

Komentar (0)

Selasa sore lalu (11/06) saat melewati kawasan Piccadilly Circus, di pusat kota London, saya melihat puluhan kendaraan polisi berjejer di pinggir jalan.


Anggota polisi dengan seragam hitam berbaris memblokir jalan, sementara banyak lainnya yang berlarian ke sana ke mari.

Kawasan yang sibuk dengan turis ini pun menjadi makin ramai.

Sepertinya sedang terjadi insiden serius.

Belakangan saya ketahui kepolisian London tengah menggerebek dan menangkap orang-orang yang merencanakan menggelar demonstrasi di sela-sela pertemuan puncak negara-negara G8.

Tindakan tegas polisi mencegah unjuk rasa dan menankap 57 orang ini menuai kecaman.

ST Vaughan yang tinggal di Birmingham, melalui surat pembaca di harian Metro, menyebut tindakan polisi menyerang para demonstran tidak bisa diterima.

Ia membandingkan aksi polisi ini dengan penanganan terhadap para petambang yang berunjuk rasa 30 tahun silam.

Menurut Vaughan polisi Inggris tetap sama dan tak berubah.

"Polisi masih brutal dan ini mengancam kebebasan untuk menyampaikan pendapat," tulis Vaughan.

Fumi Baker yang tinggal di East Sussex tidak sependapat dengan Vaughan.

Sebagai warga Inggris, Baker memahami tindakan tegas yang diambil polisi. Ia menyinggung insiden pada 2010 dan 2011, yang bermula dari aksi protes damai, kemudian berakhir dengan kerusuhan serius.

Relatif lunak

"Saya lebih memilih polisi tegas melindungi ketertiban kota daripada melihat rumah saya hangus terbakar," kata Baker.


Sementara itu A Waters di Newcastle mengatakan bahwa pendekatan dan taktik polisi Inggris menghadapi demonstran jauh lebih lunak dari pada rekan-rekan sejawat mereka di negara-negara lain, termasuk Eropa.

Membaca debat ini saya teringat dengan berita-berita tentang cara polisi London mengatasi unjuk rasa. Di antaranya tentang kerusuhan pada 2011 yang berujung dengan pembakaran di sejumlah titik di ibukota Inggris.

Beberapa kalangan, termasuk beberapa politisi, mengatakan kecewa dengan kinerja polisi -terutama di London- yang tidak menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.

Saya bisa memahami dilema ini.

Polisi di Inggris -yang memang bebas dari pengaruh pemerintah dan didanai langsung dari pajak rakyat- harus mengukur secara hati-hati tindakan mereka.

Di satu sisi mereka berkewajiban menjalankan tugas inti mereka, yaitu: melindungi orang atau properti, menjaga keteriban umum, dan mencegah kejahatan.

Di sisi lain, pemenuhan tugas-tugas tersebut juga mewajibkan mereka untuk menjalakannya dalam koridor hukum dan hak asasi manusia.

Mencari keseimbangan dari dua aspek ini tentu tidak mudah. Tapi itu juga mungkin 'seninya' menjadi polisi di Inggris.

Dilema polisi menghadapi aksi unjuk rasa

Mohamad Susilo | 2013-06-14, 14:32

Komentar (0)

Selasa sore lalu (11/06) saat melewati kawasan Piccadilly Circus, di pusat kota London, saya melihat puluhan kendaraan polisi berjejer di pinggir jalan.


Anggota polisi dengan seragam hitam berbaris memblokir jalan, sementara banyak lainnya yang berlarian ke sana ke mari.

Kawasan yang sibuk dengan turis ini pun menjadi makin ramai.

Sepertinya sedang terjadi insiden serius.

Belakangan saya ketahui kepolisian London tengah menggerebek dan menangkap orang-orang yang merencanakan menggelar demonstrasi di sela-sela pertemuan puncak negara-negara G8.

Tindakan tegas polisi mencegah unjuk rasa dan menankap 57 orang ini menuai kecaman.

ST Vaughan yang tinggal di Birmingham, melalui surat pembaca di harian Metro, menyebut tindakan polisi menyerang para demonstran tidak bisa diterima.

Ia membandingkan aksi polisi ini dengan penanganan terhadap para petambang yang berunjuk rasa 30 tahun silam.

Menurut Vaughan polisi Inggris tetap sama dan tak berubah.

"Polisi masih brutal dan ini mengancam kebebasan untuk menyampaikan pendapat," tulis Vaughan.

Fumi Baker yang tinggal di East Sussex tidak sependapat dengan Vaughan.

Sebagai warga Inggris, Baker memahami tindakan tegas yang diambil polisi. Ia menyinggung insiden pada 2010 dan 2011, yang bermula dari aksi protes damai, kemudian berakhir dengan kerusuhan serius.

Relatif lunak

"Saya lebih memilih polisi tegas melindungi ketertiban kota daripada melihat rumah saya hangus terbakar," kata Baker.


Sementara itu A Waters di Newcastle mengatakan bahwa pendekatan dan taktik polisi Inggris menghadapi demonstran jauh lebih lunak dari pada rekan-rekan sejawat mereka di negara-negara lain, termasuk Eropa.

Membaca debat ini saya teringat dengan berita-berita tentang cara polisi London mengatasi unjuk rasa. Di antaranya tentang kerusuhan pada 2011 yang berujung dengan pembakaran di sejumlah titik di ibukota Inggris.

Beberapa kalangan, termasuk beberapa politisi, mengatakan kecewa dengan kinerja polisi -terutama di London- yang tidak menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.

Saya bisa memahami dilema ini.

Polisi di Inggris -yang memang bebas dari pengaruh pemerintah dan didanai langsung dari pajak rakyat- harus mengukur secara hati-hati tindakan mereka.

Di satu sisi mereka berkewajiban menjalankan tugas inti mereka, yaitu: melindungi orang atau properti, menjaga keteriban umum, dan mencegah kejahatan.

Di sisi lain, pemenuhan tugas-tugas tersebut juga mewajibkan mereka untuk menjalakannya dalam koridor hukum dan hak asasi manusia.

Mencari keseimbangan dari dua aspek ini tentu tidak mudah. Tapi itu juga mungkin 'seninya' menjadi polisi di Inggris.

Dilema polisi menghadapi aksi unjuk rasa

Mohamad Susilo | 2013-06-14, 14:32

Komentar (0)

Selasa sore lalu (11/06) saat melewati kawasan Piccadilly Circus, di pusat kota London, saya melihat puluhan kendaraan polisi berjejer di pinggir jalan.


Anggota polisi dengan seragam hitam berbaris memblokir jalan, sementara banyak lainnya yang berlarian ke sana ke mari.

Kawasan yang sibuk dengan turis ini pun menjadi makin ramai.

Sepertinya sedang terjadi insiden serius.

Belakangan saya ketahui kepolisian London tengah menggerebek dan menangkap orang-orang yang merencanakan menggelar demonstrasi di sela-sela pertemuan puncak negara-negara G8.

Tindakan tegas polisi mencegah unjuk rasa dan menankap 57 orang ini menuai kecaman.

ST Vaughan yang tinggal di Birmingham, melalui surat pembaca di harian Metro, menyebut tindakan polisi menyerang para demonstran tidak bisa diterima.

Ia membandingkan aksi polisi ini dengan penanganan terhadap para petambang yang berunjuk rasa 30 tahun silam.

Menurut Vaughan polisi Inggris tetap sama dan tak berubah.

"Polisi masih brutal dan ini mengancam kebebasan untuk menyampaikan pendapat," tulis Vaughan.

Fumi Baker yang tinggal di East Sussex tidak sependapat dengan Vaughan.

Sebagai warga Inggris, Baker memahami tindakan tegas yang diambil polisi. Ia menyinggung insiden pada 2010 dan 2011, yang bermula dari aksi protes damai, kemudian berakhir dengan kerusuhan serius.

Relatif lunak

"Saya lebih memilih polisi tegas melindungi ketertiban kota daripada melihat rumah saya hangus terbakar," kata Baker.


Sementara itu A Waters di Newcastle mengatakan bahwa pendekatan dan taktik polisi Inggris menghadapi demonstran jauh lebih lunak dari pada rekan-rekan sejawat mereka di negara-negara lain, termasuk Eropa.

Membaca debat ini saya teringat dengan berita-berita tentang cara polisi London mengatasi unjuk rasa. Di antaranya tentang kerusuhan pada 2011 yang berujung dengan pembakaran di sejumlah titik di ibukota Inggris.

Beberapa kalangan, termasuk beberapa politisi, mengatakan kecewa dengan kinerja polisi -terutama di London- yang tidak menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.

Saya bisa memahami dilema ini.

Polisi di Inggris -yang memang bebas dari pengaruh pemerintah dan didanai langsung dari pajak rakyat- harus mengukur secara hati-hati tindakan mereka.

Di satu sisi mereka berkewajiban menjalankan tugas inti mereka, yaitu: melindungi orang atau properti, menjaga keteriban umum, dan mencegah kejahatan.

Di sisi lain, pemenuhan tugas-tugas tersebut juga mewajibkan mereka untuk menjalakannya dalam koridor hukum dan hak asasi manusia.

Mencari keseimbangan dari dua aspek ini tentu tidak mudah. Tapi itu juga mungkin 'seninya' menjadi polisi di Inggris.

BBC navigation

Copyright © 2015 BBC. BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.